Dailynesia.com –
Israel Akan Menggunakan Buaya Nil untuk Mengamankan Tahanan Palestina
Dailynesia.com – Pemerintah Israel sedang merancang inisiatif kontroversial untuk meningkatkan keamanan penjara yang menampung tahanan Palestina. Langkah ini melibatkan pemanfaatan buaya Sungai Nil sebagai bagian dari sistem pengamanan. Sebagaimana dilaporkan oleh RT pada Senin (20/7/2026), perubahan status hukum buaya Nil menjadi “tended wild animal” atau satwa liar yang dipelihara dinilai membuka kemungkinan penggunaan reptil tersebut di fasilitas penjara.
Usulan dari Menteri Keamanan Nasional
Usulan penggunaan buaya Nil pertama kali diajukan oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, pada akhir 2025. Ia mengusulkan agar penjara dikelilingi parit yang diisi buaya untuk mencegah pelarian narapidana.
“Penggunaan buaya dalam penjara bisa menjadi solusi inovatif untuk keamanan,” tulis laman RT.
Perubahan Status Hukum
Status hukum buaya Nil diubah dari satwa liar menjadi “tended wild animal” oleh Menteri Perlindungan Lingkungan Israel, Idit Silman. Perubahan ini dianggap menghilangkan hambatan utama untuk menerapkan rencana tersebut.
“Keputusan ini memudahkan penerapan program penggunaan buaya,” tambah laporan.
Kritik dan Pertimbangan Hukum
Meski demikian, keputusan ini menuai keberatan. Penasihat hukum Kementerian Perlindungan Lingkungan menyatakan bahwa menteri tidak memiliki wewenang untuk mengubah status hukum buaya secara sepihak.
Penjara Ketziot sebagai Lokasi Awal
Rencana ini berencana dimulai di Penjara Ketziot, fasilitas pemasyarakatan di wilayah selatan Israel yang mayoritas dihuni tahanan Palestina.
Sejak Januari lalu, sejumlah petugas penjara telah dikirim ke peternakan buaya Hamat Gader untuk mempelajari karakteristik reptil. Israel Prison Service (IPS) terlihat tertarik dengan ide ini, meski masih mempertimbangkan penggunaan buaya berukuran lebih kecil.
Kelengkapan Biaya
Buaya muda dijual seharga sekitar US$8.000 (sekitar Rp130 juta, asumsi kurs Rp16.300/US$) per ekor, dibandingkan buaya dewasa yang mencapai US$20.000 (sekitar Rp326 juta). Seorang sumber IPS yang dikutip Maariv mengatakan biaya ini relatif rendah dibandingkan investasi keamanan yang dibutuhkan.
Sejauh ini, belum ada pengumuman resmi tentang kapan rencana ini akan diterapkan. Namun, wacana ini telah menarik perhatian luas karena dianggap sebagai metode pengamanan yang tidak biasa di Israel.

