Siapa Raja Baja Dunia, Produksinya Tembus 52% Global?

2 months ago  ·  3 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
7d2be58f-877b-4052-8455-64168c67b23a-0

Siapa Raja Baja Dunia, Produksinya Tembus 52% Global?

Dailynesia.com – Tiongkok kembali menjadi pusat utama industri baja dunia pada 2025, dengan produksi mentah mencapai 960,8 juta ton, atau 52% dari total global. Angka ini menunjukkan dominasi negara tersebut dalam distribusi dan kontrol pasar baja, yang menjadi bagian integral dari banyak sektor ekonomi. Seperti yang dilaporkan World Steel Association, kinerja Tiongkok sebagai produsen utama sangat memengaruhi dinamika harga dan permintaan bahan baku di seluruh dunia.

Dominasi Tiongkok dalam Produksi Baja Global

Produksi baja Tiongkok mencakup lebih dari separuh dari total global, mencerminkan kekuatan ekonomi dan infrastruktur negara ini. Baja tetap merupakan bahan baku vital untuk pembangunan jalan raya, jembatan, pabrik, serta proyek energi, yang semua tergantung pada pasokan yang stabil. Dominasi ini juga membuat Tiongkok menjadi pemain kunci dalam ketegangan harga global, terutama di tengah perubahan tren permintaan pasar.

Dari tahun lalu, negara tersebut memproduksi 960,8 juta ton baja mentah, yang mencakup 52% dari total produksi dunia.

Kontribusi Negara Lain dalam Sisi Global

India, sebagai produsen baja kedua terbesar, menghasilkan 164,9 juta ton atau 8,9% dari produksi global, menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan kapasitas industri di negara ini berdampak pada perubahan keseimbangan pasar, meski masih jauh dari Tiongkok. Di sisi lain, negara-negara seperti Korea Selatan, Vietnam, dan Indonesia juga menunjukkan peningkatan produksi, dengan Indonesia berada di posisi ke-15 dunia.

Visit Agenda – Perkembangan industri baja di Indonesia mencerminkan upaya pemerintah dan sektor swasta untuk meningkatkan daya saing nasional. Dengan produksi 19 juta ton atau 1% dari total global, industri ini berkontribusi pada kebutuhan konstruksi dan manufaktur dalam negeri. Pertumbuhan yang terjadi berkat hilirisasi nikel dan ekspansi smelter menjadi sorotan utama dalam kebijakan industri.

Pengaruh Perubahan Ekonomi Global terhadap Produksi Baja

Ketika sektor properti Tiongkok mengalami penurunan, permintaan baja secara global langsung terpengaruh. Namun, stimulus infrastruktur yang digelontorkan Beijing menciptakan keseimbangan, dengan permintaan yang meningkat secara signifikan. Produksi Tiongkok bahkan lebih besar dibandingkan jumlah kombinasi dari 12 negara produsen terbesar berikutnya, menegaskan dominasi ekonomi mereka.

Visit Agenda – Perubahan tren ini menciptakan tantangan bagi produsen lain, termasuk negara-negara Asia yang berupaya meningkatkan kapasitas mereka. Misalnya, Vietnam sedang menjadi pemain penting dalam pasar regional, sementara Korea Selatan mempertahankan kualitas produksi tinggi. Indonesia, meski berada di luar lima besar, menunjukkan potensi pertumbuhan yang cukup signifikan.

Tren Transisi ke Produksi Baja Ramah Lingkungan

Di tengah tekanan lingkungan, industri baja global mulai bertransformasi menuju metode produksi yang lebih efisien. Eropa, Amerika Utara, dan sebagian Asia sedang mengembangkan teknologi electric arc furnace dan baja berbasis hidrogen, yang berpotensi mengurangi emisi karbon secara signifikan. Tiongkok, sementara itu, juga menghadapi tantangan untuk mengurangi dampak lingkungan dari produksi massal mereka.

Visit Agenda – Perubahan ini mempercepat pergeseran investasi global, dengan negara yang mampu menghasilkan baja rendah karbon menjadi target utama. Teknologi hijau ini bukan hanya menjadi solusi untuk keberlanjutan lingkungan, tetapi juga menjadi strategi kompetitif dalam menghadapi pasar global yang semakin eksploitatif.

Kehidupan Industri Baja di Tahun 2025

Produksi baja Tiongkok pada 2025 mencakup 960,8 juta ton, menegaskan kembali perannya sebagai raja baja dunia. Perluasan kebutuhan infrastruktur, seperti jalan raya dan proyek energi, memperkuat dominasi mereka, sementara negara-negara lain berusaha memperbaiki posisi melalui inovasi dan efisiensi. Visit Agenda – Perubahan ini menunjukkan bahwa industri baja tidak hanya tentang volume, tetapi juga tentang keberlanjutan dan adaptasi terhadap tuntutan pasar yang semakin global.

MORE FROM THIS CATEGORY