Harga Emas Mulai Bergairah Lagi, Bakal Bertahan Lama?

2 months ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
51419753-1932-4e7b-895c-cd1045308c85-0

Harga Emas Mulai Bergairah Lagi, Bakal Bertahan Lama?

Dailynesia.com – Selama satu minggu terakhir, harga emas global menunjukkan tren kenaikan yang menarik perhatian pasar, setelah sebelumnya mengalami penurunan karena ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Pada Jumat (29/5/2026), emas ditutup di level US$4.535,82 per troy ons, naik 0,98% dibandingkan hari sebelumnya. Pertumbuhan harga ini menunjukkan perubahan sentimen pasar, dengan optimismenya kembali menguat seiring harapan perundingan antara pihak AS dan Iran. Topics Covered juga mencakup peran kebijakan moneter, data inflasi, dan dinamika permintaan global terhadap logam mulia ini.

Faktor Geopolitik dan Stabilitas Pasar

Kenaikan harga emas terjadi setelah kekhawatiran tentang eskalasi konflik di Timur Tengah memudar. Meski dialog diplomatik antara AS dan Iran masih berlangsung, Teheran menuduh Washington melanggar gencatan senjata setelah Serangan AS terhadap situs rudal dan kapal di Selat Hormuz. Namun, pernyataan pejabat Iran yang menyatakan kemungkinan perang baru cukup kecil membantu mendinginkan suasana pasar. Topics Covered menunjukkan bahwa situasi ini memengaruhi preferensi investor, yang kini lebih memilih aset stabil daripada produk berisiko.

Bahkan, harapan pembukaan kembali Selat Hormuz memberikan sinyal positif, meski proses pemulihan arus pelayaran diperkirakan memakan waktu bulan-bulan. Data indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS yang naik 3,8% tahunan hingga April, serta pertumbuhan ekonomi yang kuat, memperkuat kepercayaan pasar bahwa inflasi akan tetap menjadi ancaman utama. Topics Covered juga mencakup bagaimana ketidakpastian geopolitik dan harapan perdamaian saling mengimbang, memengaruhi keputusan investasi dalam jangka pendek.

Peran Kebijakan Moneter dan Inflasi

Pola inflasi yang relatif stabil menjadi faktor penting dalam menentukan harga emas. Meski harga energi tinggi bisa memicu tekanan inflasi, bank sentral utama, seperti Federal Reserve, diperkirakan masih menjaga kebijakan moneter ketat. Topics Covered menegaskan bahwa kebijakan ini memengaruhi alur dana, dengan suku bunga obligasi yang meningkat mengurangi daya tarik emas sebagai investasi. Namun, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi peluang bagi emas untuk kembali menguat.

Analisis pasar menunjukkan bahwa ketika inflasi belum menurun secara signifikan, investor cenderung menghindari aset yang tidak memberikan imbal hasil. Ini berdampak pada penurunan daya tarik emas, meski pada saat yang sama, impor emas China melalui Hong Kong naik 81,2% pada April dibandingkan bulan sebelumnya. Topics Covered memperlihatkan bahwa permintaan dari negara-negara Asia Tenggara juga menjadi penopang harga emas, mengimbangi tekanan dari kebijakan moneter AS.

“Emas tadi sempat terancam turun di bawah garis rata-rata pergerakan 200 hari, yang dianggap investor sebagai batas penting untuk menjaga tren naik,” kata Tai Wong, pedagang logam independen, dilansir dari Refinitiv.

Di sisi lain, tingkat suku bunga yang tetap tinggi membuat emas kurang menarik dibandingkan instrumen lain. Namun, ketidakpastian konflik antara AS dan Iran sejak akhir Februari tetap menjadi penyebab utama penurunan harga emas sebelumnya. Topics Covered menekankan bahwa kekacauan geopolitik selama ini memengaruhi sentimen investor, yang kini berubah menjadi lebih positif setelah kesepakatan diplomatik mulai terwujud.

“Data PCE membuka peluang bagi The Fed untuk menahan suku bunga dan tidak memperketat kebijakan moneternya,” ujar Bart Melek, kepala strategi komoditas global TD Securities.

Konflik antara AS dan Iran sejak Februari 2026 mengguncang pasar, menyebabkan penurunan harga emas. Namun, dengan kekhawatiran tentang perang berkurang dan harapan perdamaian meningkat, harga mulai bergerak naik. Topics Covered juga mencakup efek jangka panjang dari perubahan ini, yaitu kemungkinan harga emas akan tetap berada dalam zona stabil karena faktor geopolitik dan kebijakan moneter yang saling mengimbang. Dengan kondisi pasar yang kembali tenang, emas diharapkan bisa mempertahankan kekuatannya dalam waktu yang lama.

MORE FROM THIS CATEGORY