Catat! Kabar dari AS dan China Bisa Jadi Penggerak Pasar Pekan Ini

2 months ago  ·  3 min read
By William Moore - dailynesia.com
10-negara-primadona-investor-asing-ada-ri-1780053416412_169

Catat! Kabar dari AS dan China Bisa Jadi Penggerak Pasar Pekan Ini

Dailynesia.com – Bulan Juni 2026 membawa perubahan signifikan dalam dinamika pasar global, dengan perhatian utama tertuju pada data makroekonomi dari dua negara besar, Amerika Serikat dan Tiongkok. Selain itu, kondisi ekonomi dalam negeri Indonesia juga menarik untuk dipantau, terutama terkait inflasi dan neraca perdagangan. Pekan ini, investor dan analis akan mengamati berbagai indikator kunci yang dapat memengaruhi tren pasar, termasuk kebijakan domestik dan faktor geopolitik.

Indeks Manajer Pembelian Manufaktur Tiongkok dan AS

Masa jeda pembacaan data ekonomi terjadi pada awal pekan ini, namun sejumlah rilis utama dari Tiongkok dan Amerika Serikat tetap menjadi fokus. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Caixin Tiongkok menunjukkan penurunan ke level 51.8 pada Mei 2026, dibandingkan 52.2 di April 2026. Meski angka ini terpantau lebih rendah, kinerja sektor manufaktur masih berada di zona ekspansif, dengan peningkatan permintaan domestik dan produksi yang stabil.

“Pertumbuhan pesanan baru dan produksi tetap memperlihatkan dinamika positif, meski laju penguatan mulai memperlambat,”

Kontraksi marginal terjadi pada penyerapan tenaga kerja, sementara waktu pengiriman input pemasok meluas selama tiga bulan berturut-turut. Namun, tekanan inflasi di sektor produksi mulai mereda, yang mungkin menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, PMI Manufaktur ISM Amerika Serikat tetap stagnan pada 52.7, sesuai level tertinggi sejak Agustus 2022.

Angka ini mengecewakan pasar yang mengharapkan kenaikan ke 53.0. Meski demikian, beberapa komponen masih menunjukkan kinerja baik, seperti peningkatan pesanan baru yang mencapai 54.1, dibandingkan 53.5 di bulan Maret. Waktu pengiriman pemasok juga melonjak ke 60.6, sementara laju produksi menurun menjadi 53.4. Di sisi tenaga kerja, penyerapan tenaga kerja turun tajam ke 46.4, menurun dari 48.7 sebelumnya. Kenaikan harga energi, terutama minyak dan solar akibat konflik di Timur Tengah, menjadi faktor utama tekanan inflasi.

Panelis ekonom menyebutkan perbedaan sentimen yang signifikan, dengan 31% mengungkapkan optimism, sedangkan 69% bersikap pesimis. Konflik geopolitik dan tarif menjadi isu dominan, masing-masing disebutkan dalam 47% dan 18% respons. Meski PMI AS tidak naik, ekspektasi pasar tetap memperkirakan angka tersebut akan berkisar antara 52.6 hingga 53.0 untuk rilis Mei 2026.

Indonesia: Inflasi Masuk Zona Terkendali

Indonesia berhasil mempertahankan inflasi dalam batas yang nyaman, dengan angka tahunan 2.42% di April 2026, turun dari 3.48% pada bulan sebelumnya. Ini menandai level terendah sejak Agustus 2025, sekaligus berada dalam rentang target Bank Indonesia (BI) yang berkisar 1.5% hingga 3.5%. Penurunan inflasi terutama dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan harga komponen utama, seperti makanan yang mengalami penurunan menjadi 3.06%, dibandingkan 3.34% di bulan Maret.

“Pertumbuhan harga perumahan melambat signifikan, dari 7.24% ke 0.74%, sementara inflasi sektor kesehatan dan pendidikan tetap stabil di angka 1.49% dan 1.14%,”

Sektor layanan juga mengalami penyesuaian, dengan inflasi inti mereda ke 2.44% dari 2.52% di bulan sebelumnya. Pertumbuhan harga bulanan tercatat sebesar 0.13%, menunjukkan konsistensi moderasi. Beberapa kategori seperti pakaian, perabotan, dan transportasi mencatat kenaikan inflasi lebih tinggi, masing-masing sebesar 0.79%, 0.60%, dan 1.61%. Sementara itu, harga komunikasi kembali menguat ke 0.83%, menjadi penyangga stabil.

Neraca Perdagangan Indonesia: Surplus Menurun

Kinerja neraca perdagangan Indonesia mencatatkan penurunan signifikan di bulan April 2026. Surplus perdagangan melorot menjadi US$3.32 miliar, dibandingkan US$4.33 miliar di April tahun sebelumnya. Perubahan ini didorong oleh perlambatan ekspor, sementara impor mengalami peningkatan, terutama dalam kategori minyak dan gas serta barang non-migas.

Ekspor non-migas turun 2.52%, sedangkan ekspor migas mengalami penurunan drastis sebesar 11.84% akibat penurunan produksi minyak mentah dan produk turunannya. Di sisi lain, impor non-migas naik 1.54% menjadi US$16.04 miliar, sedangkan impor minyak dan gas kembali menanjak 1.34% ke US$3.17 miliar. Pada tingkat negara tujuan, ekspor non-migas menurun signifikan ke mitra seperti Amerika Serikat, India, dan Uni Eropa, namun ekspor ke Tiongkok meningkat tajam sebesar 16.22%.

Analisis menunjukkan gangguan logistik global menjadi penghalang utama bagi ekspor, menyebabkan penurunan pertama sejak November tahun lalu. Surplus perdagangan yang turun mencerminkan ketidakseimbangan antara permintaan dalam negeri yang tinggi dan tekanan eksternal yang kian kuat. Namun, peningkatan ekspor ke Tiongkok mungkin menjadi salah satu pelaku utama dalam menjaga keseimbangan perdagangan.

Analisis Keseluruhan dan Prediksi Pasar

Secara keseluruhan, data ekonomi minggu ini memperlihatkan pergeseran dari ekspansi ke moderasi, dengan perbedaan signifikan antara Tiongkok dan AS. Tiongkok menunjukkan kestabilan, sementara AS mengalami tekanan dari inflasi dan fluktuasi permintaan. Di Indonesia, penurunan inflasi dan kinerja perdagangan yang konsisten menjadi sorotan.

Konsensus pasar mengharapkan PMI Manufaktur ISM AS akan berada di kisaran 52.6 hingga 53.0 untuk Mei 2026, dengan optimisme tertinggi di sektor pesanan baru. Sementara itu, prediksi inflasi Indonesia untuk Mei memperkirakan angka berkisar antara 3.1%, mencerminkan penyesuaian harga yang berkelanjutan.

Kebijakan domestik dan interaksi antar negara tetap menjadi faktor pendorong utama. Pemantauan terhadap dinamika geopolitik, terutama kon

MORE FROM THIS CATEGORY