Special Plan: Harga Emas Turun Tajam, Kembali ke Level Desember 2025
Faktor Penyebab Penurunan Harga Emas
Dailynesia.com – Jakarta, harga emas dan perak kembali mengalami penurunan tajam, dengan emas mencapai level terendah sejak Desember 2025. Turunnya harga emas dipicu oleh aksi jual massal di pasar keuangan global dan ekspektasi peningkatan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini membuat investor menjadi lebih berhati-hati, mengalihkan dana ke aset-aset lain yang dianggap lebih stabil. Data inflasi AS, khususnya Consumer Price Index (CPI) Mei, juga menjadi sorotan utama karena akan memengaruhi keputusan The Fed dalam Special Plan mereka.
Perkembangan Harga Emas dan Perak
Harga emas pada perdagangan Selasa (9/6/2026) ditutup di US$ 4262,52 per troy ons, turun 1,53% dibandingkan hari sebelumnya. Penurunan ini memperpanjang tren penurunan selama tiga hari berturut-turut, dengan total penurunan mencapai 4,7%. Level harga ini menjadi yang terendah sejak 12 Desember 2025, yang lebih rendah dari harga terendah tahun ini. Sementara itu, harga perak juga mengalami penurunan signifikan, ditutup di US$ 65,36 per troy ons, turun 4,12% atau mencapai titik terendah sejak 17 Desember 2025.
“Para trader sedang cemas karena pasar keuangan global berada dalam mode risk-off. Kondisi ini memberi tekanan pada harga emas dan perak, terutama seiring kekhawatiran terkait kebijakan moneter The Fed dalam Special Plan mereka,”
Pasar juga terpengaruh oleh indeks S&P 500 dan Nasdaq yang turun ke level terendah dalam lebih dari satu bulan. Analis RJO Futures, Bob Haberkorn, menyoroti bahwa keputusan The Fed akan menjadi penentu utama untuk kestabilan harga emas. Jika suku bunga dinaikkan, logam mulia akan mengalami tekanan lebih besar, sebaliknya, jika inflasi terkendali, ada peluang pemulihan. Data CPI Mei yang akan dirilis Rabu (10/6/2026) dan PPI pada Kamis menjadi tolok ukur penting bagi Special Plan keuangan AS.
Kenaikan suku bunga menjadi ancaman utama bagi harga emas, karena mata uang AS cenderung menarik dana investor saat suku bunga naik. Meski demikian, harga emas tetap dianggap sebagai aset pelindung inflasi, terutama jika ekonomi global mengalami kekacauan. Selain itu, penyelundupan emas di India meningkat tajam akibat kenaikan tarif impor, dengan volume diperkirakan melebihi 100 ton tahun ini. Ini memperkuat kepercayaan pasar terhadap harga gelap sebagai pilihan alternatif.
Dalam Special Plan kebijakan moneter, The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga di Desember 2026 dengan peluang 68% berdasarkan CME FedWatch Tool. Meski ada tekanan dari peningkatan suku bunga, kebijakan ini juga berpotensi memperkuat dolar AS dan memengaruhi permintaan emas. Namun, jika inflasi AS turun di bawah ekspektasi, ada kemungkinan harga emas akan bergerak naik, terutama jika The Fed menunda kenaikan suku bunga.
Investor global mulai menyesuaikan strategi mereka menghadapi kinerja emas yang tidak stabil dalam Special Plan. Saat ini, banyak yang fokus pada data CPI Mei dan PPI sebagai indikator utama. Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi di Eropa serta kebijakan moneter di berbagai negara lain juga memengaruhi harga logam mulia. Pemantauan terus dilakukan untuk melihat apakah harga emas akan memperoleh kestabilan atau terus menurun hingga akhir tahun 2026.

