Ramai-Ramai Asia Tendang Dolar AS – Kenapa Rupiah Sendiri yang Kalah?

3 months ago  ·  2 min read
By Christopher Moore - dailynesia.com
global-forex-1774396346862_169

Ramai-Ramai Asia Tendang Dolar AS, Kenapa Rupiah Sendiri yang Kalah?

Dailynesia.com – Dalam beberapa hari terakhir, tren penguatan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memperlihatkan pergerakan signifikan. Banyak negara seperti Malaysia, Filipina, dan Vietnam mencatatkan kenaikan nilai tukar terhadap dolar AS, sementara rupiah Indonesia justru terus mengalami pelemahan. Meski sebagian besar mata uang Asia menguat, rupiah sendiri mengalami penurunan ke Rp17.360 per dolar AS pada Jumat (8/5/2026), menurun 0,17% dibandingkan hari sebelumnya. Fenomena ini memicu pertanyaan mengapa rupiah, yang secara keseluruhan mengalami tren penguatan, justru menjadi yang paling terpuruk.

Mengapa Rupiah Menjadi yang Terlemah?

Analisis dari Faisal Rachman, Kepala Riset Ekonomi Makro dan Market Permata Bank, menyebutkan bahwa pelemahan rupiah terutama disebabkan oleh kebijakan moneter dalam negeri dan aliran dana ke luar negeri. “Pada Q2 2026, pola musiman pembayaran imbal hasil aset keuangan domestik ke investor nonresiden masih berdampak negatif pada nilai tukar rupiah,” jelas Faisal kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (8/5/2026). Selain itu, tekanan inflasi, kebutuhan impor, dan pola intervensi pemerintah juga menjadi faktor utama.

“Pola musiman pembayaran return aset keuangan domestik ke nonresiden yang terjadi selama Q2 2026 menyebabkan tekanan pada rupiah,” tambah Faisal. “Ini berbeda dengan negara-negara lain yang mampu mengambil keuntungan dari pelemahan dolar AS.”

Menurut Faisal, meskipun pelemahan dolar AS secara global memberi peluang bagi mata uang Asia untuk menguat, rupiah tidak mampu memanfaatkan kesempatan ini. Faktor seperti kinerja ekspor yang kurang optimal, biaya bunga yang relatif lebih tinggi, dan kekhawatiran terhadap kinerja ekonomi domestik menjadi penghalang. “Rupiah mengalami tekanan dari dua arah, yaitu kelemahan dolar AS di satu sisi dan tekanan eksternal di sisi lain,” katanya.

Faktor Global yang Mempengaruhi Rupiah

Ketidakpastian global seperti perang dagang, fluktuasi harga komoditas, dan kebijakan keuangan internasional terus memengaruhi kondisi pasar. Dalam sepekan terakhir, rupiah tercatat melemah sebesar 0,32%, berbanding terbalik dengan mata uang Asia lainnya yang cenderung menguat. Selain itu, kebijakan moneter dari Bank Indonesia (BI) juga menjadi faktor kunci, terutama dalam menentukan kurs rupiah terhadap dolar AS.

Di tengah kondisi global yang tidak pasti, pasar keuangan cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Meski dolar AS melemah, rupiah tetap menjadi pilihan yang tidak menarik karena kurangnya kepercayaan investor. “Rupiah memperlihatkan respons negatif terhadap penguatan dolar AS, sementara mata uang negara tetangga justru menikmati aliran dana masuk,” tutur Faisal.

Perbandingan dengan Mata Uang Asia Lainnya

Meski rupiah mengalami pelemahan, beberapa mata uang Asia seperti ringgit Malaysia, peso Filipina, dan dong Vietnam menunjukkan kenaikan signifikan. Dalam sepekan terakhir, ringgit Malaysia na

MORE FROM THIS CATEGORY