Ngenes! Seminggu Ambruk Nyaris 10%, Ada Apa dengan Perak?

2 months ago  ·  4 min read
By William Moore - dailynesia.com
291c2607-0c26-4325-9447-0f4cc916af04-0

Apa Penyebab Penurunan Harga Perak?

Dailynesia.com – Dalam beberapa hari terakhir, harga perak global mengalami penurunan drastis yang mengguncang pasar keuangan, berkat dampak dari new policy yang baru saja diterapkan oleh pemerintah Amerika Serikat. Pasar keuangan menilai bahwa kebijakan ini memberi tekanan besar pada pasar logam mulia, terutama perak, yang turun hingga 9,89% dalam seminggu terakhir. Pada Jumat (5/6/2026), harga perak spot internasional mencapai level US$67,81 per troy ons, yang merupakan penurunan terbesar sejak 14 Mei 2026, ketika perak melambung turun 9,02% dalam 24 jam. Selama seminggu terakhir, perak mencatatkan penurunan 9,89%, menembus titik terendah sejak pekan ketiga Maret 2026. Penurunan ini tidak hanya mencerminkan ketidakpastian pasar, tetapi juga menggambarkan dampak langsung dari new policy yang sedang diberlakukan.

Faktor Pasar Keuangan yang Menyebabkan Fluktuasi Harga

Penurunan harga perak selama seminggu terakhir berakar pada perubahan dinamika pasar keuangan yang dipicu oleh new policy. Penguatan mata uang AS, khususnya dolar, menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan investor beralih dari perak ke aset berbunga lainnya. Indeks dolar AS, yang sebelumnya menyentuh level 100,07, kembali mencapai puncaknya setelah berbagai kebijakan new policy yang diumumkan oleh pemerintah AS. Sebaliknya, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun terus meningkat, melebihi 4,54%, dan tenor 30 tahun juga mencapai tingkat di atas 5%. Kenaikan imbal hasil ini membuat investor lebih tertarik pada instrumen berbunga, seperti obligasi, yang dianggap lebih aman dibandingkan perak sebagai aset yang memiliki volatilitas tinggi.

Perak sering kali dianggap sebagai lindung nilai inflasi yang efektif, tetapi new policy yang baru saja diberlakukan justru mengubah perspektif ini. Pasar menilai bahwa kebijakan pemerintah AS, termasuk peningkatan suku bunga dan kebijakan moneter yang lebih ketat, membuat biaya kepemilikan perak semakin mahal. Akibatnya, harga perak terus tergerus karena ekspansi dana investor ke aset berbunga lain. Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan peningkatan 172.000 pekerjaan pada Mei, setelah direvisi menjadi 179.000 pada April. Angka ini melebihi ekspektasi pasar yang hanya memperkirakan 85.000 penambahan lapangan kerja, sehingga memperkuat kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi AS. Namun, new policy yang diterapkan dalam konteks ini menimbulkan kekhawatiran terkait pertumbuhan ekonomi global.

“Kita mendapatkan data payroll yang jauh lebih kuat dibandingkan ekspektasi pasar,” kata Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, seperti dikutip dari Reuters. “Di tengah perang yang masih berlangsung dengan Iran, harga energi yang sangat tinggi, dan tekanan inflasi yang kuat, sangat kecil kemungkinan The Fed memiliki niat untuk menurunkan suku bunga. Implikasinya bagi perak adalah biaya kepemilikan (cost of carry) menjadi makin mahal,” ujarnya. Melek menambahkan bahwa new policy yang diumumkan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga, sehingga mengurangi daya tarik perak sebagai aset lindung nilai. Dengan kondisi ini, investor cenderung mengalihkan dana mereka ke aset yang lebih stabil, seperti obligasi AS.

Pasaran menilai peluang sekitar 72% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember, berdasarkan alat FedWatch dari CME Group. Sebelum rilis data tenaga kerja, probabilitas ini hanya sekitar 50%, tetapi new policy yang diterapkan pemerintah AS membuat kondisi ini menjadi lebih kritis. Kenaikan imbal hasil obligasi AS meningkatkan daya tarik instrumen berbunga, sehingga memperkuat tekanan pada perak sebagai aset yang tidak menawarkan imbal hasil yang menarik. Selain itu, new policy juga memengaruhi permintaan perak dalam sektor industri, karena kebijakan moneter yang lebih ketat mengurangi laju pertumbuhan ekonomi global, yang merupakan faktor utama dalam menentukan harga perak.

Konflik Global dan Dampak pada Harga Perak

Konflik global yang berlarut antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel juga berkontribusi pada penurunan harga perak. Perang yang berlangsung mengurangi minat pasar pada perak sebagai lindung nilai inflasi, sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi global. Dalam konteks ini, new policy menjadi salah satu pendorong yang memperkuat ketidakpastian pasar. Pasar menilai bahwa kebijakan pemerintah AS, termasuk peningkatan suku bunga, memperkuat tekanan terhadap harga perak. Selain itu, ketidakstabilan politik di berbagai wilayah dunia mengurangi permintaan untuk logam mulia, karena investor lebih memilih aset yang dianggap lebih aman.

Perak tidak hanya menjadi lindung nilai inflasi, tetapi juga bahan baku industri yang permintaannya sangat bergantung pada kondisi ekonomi. Karena new policy mengguncang perekonomian global, permintaan industri untuk perak pun turun. Hal ini memperkuat tekanan pada harga perak, karena pasokan tetap stabil namun permintaan menurun. Data dari organisasi industri menunjukkan bahwa penggunaan perak dalam sektor manufaktur dan energi mengalami perlambatan, yang berdampak pada harga pasar. Sebagai hasilnya, perak menjadi aset yang lebih rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi.

Dalam beberapa hari terakhir, berita tentang new policy yang diumumkan pemerintah AS menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pasar keuangan. Kebijakan ini tidak hanya mengubah dinamika suku bunga, tetapi juga memengaruhi kepercayaan investor terhadap pertumbuhan ekonomi. Dengan kebijakan yang lebih ketat, pasar keuangan menjadi lebih konservatif, sehingga memengaruhi permintaan terhadap logam mulia. Selain itu, new policy juga memengaruhi arus modal, karena investor lebih memilih aset yang dianggap lebih stabil. Hal ini berdampak langsung pada harga perak, yang kini menurun karena persaingan dengan aset berbunga lainnya.

MORE FROM THIS CATEGORY