Batu Bara & CPO Bergejolak, Pasar Global Tunggu Jurus Baru Prabowo

2 months ago  ·  2 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
f21badac-52f6-43a4-94a4-3139eae7aba9-0

Meeting Results: Batu Bara dan CPO Mengalami Fluktuasi, Pasar Global Menantikan Strategi Prabowo

Dailynesia.com – Dari hasil rapat kabinet terkini, dua komoditas utama Indonesia—batu bara dan minyak sawit mentah (CPO)—mengalami pergerakan harga yang beragam dalam beberapa hari terakhir. Dengan latar belakang ketidakstabilan ekonomi global, pasar batu bara tetap bergerak stabil, sementara CPO terpantau fluktuasi lebih besar. Hasil rapat yang diumumkan menunjukkan kebijakan baru yang diharapkan dapat memengaruhi dinamika perdagangan internasional, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi dunia.

Pergerakan Harga Batu Bara dan Faktor Penyebabnya

Pasar energi global masih mengalami tekanan akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, yang memperkuat permintaan batu bara sebagai alternatif bahan bakar. Hasil rapat menunjukkan bahwa harga batu bara Newcastle Australia pada 21 Mei 2026 mencapai US$137,55 per ton, naik tipis 0,77% dibandingkan US$136,5 per ton pada 15 Mei. Meski kenaikan terbatas, harga masih berada di level yang tinggi, dengan puncak sebelumnya mencapai US$146 per ton di Maret.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap pasokan gas LNG dari Iran memicu Jepang dan Korea Selatan meningkatkan penggunaan batu bara. Hasil rapat menyebutkan bahwa kedua negara tersebut memperbesar impor batu bara thermal Australia, menciptakan permintaan yang stabil. Korea Selatan mencatatkan impor 5,7 juta ton pada April, melonjak 40% dari bulan sebelumnya, sementara Jepang menambah impor 2,5% menjadi 7,9 juta ton. Hasil rapat menegaskan bahwa perubahan kecil dari Indonesia sebagai produsen utama batu bara bisa langsung memengaruhi sentimen pasar Asia.

Menurut Reuters, CEO Danantara Rosan Roeslani menegaskan bahwa kontrak lama masih berlaku, tetapi pemerintah terbuka untuk mengevaluasi harga jual jika terjadi penurunan dibawah harga pasar internasional. Hasil rapat ini menunjukkan komitmen untuk mengoptimalkan pendapatan devisa sekaligus mengatasi praktik under invoicing yang sering dilakukan pelaku industri.

Kebijakan Ekspor CPO dan Dampaknya

Hasil rapat juga mencakup kebijakan baru terkait sistem ekspor CPO, yang diharapkan mengurangi risiko volatilitas harga. Minyak sawit mentah Malaysia untuk kontrak Agustus ditutup pada 22 Mei 2026 di MYR4.486 per ton, naik sekitar 1,5% dari MYR4.420 per ton pada 15 Mei. Hasil rapat menyebutkan bahwa fluktuasi tajam terjadi setelah Prabowo Subianto menegaskan penggunaan mekanisme satu pintu untuk mengatur distribusi CPO nasional.

Hasil rapat menimbulkan kekhawatiran di kalangan trader internasional, terutama mengenai kejelasan implementasi kebijakan ekspor satu pintu. Meski pemerintah berharap strategi ini dapat memperkuat kontrol harga, ada risiko munculnya ketidakseimbangan pasokan domestik. Hasil rapat juga menyoroti efek dari kenaikan nilai tukar ringgit terhadap dolar AS, yang membuat CPO Indonesia lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

Dalam negeri, pemerintah mulai semakin aktif mengungkap dugaan manipulasi ekspor sawit. Hasil rapat menjadi sinyal bahwa regulasi ekspor akan diperketat, mengubah dinamika rantai bisnis sawit. Hasil rapat menegaskan bahwa kebijakan ini tidak hanya untuk menjaga harga CPO tetap stabil, tetapi juga untuk menyesuaikan dengan kondisi pasar global yang berubah cepat.

MORE FROM THIS CATEGORY