Main Agenda: Harga Perak Ambyar Seminggu Ambles 4% Lebih, Ini Biang Keroknya

4 weeks ago  ·  3 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
377ab457-84a2-4e80-b5af-84b7298fbb2c-0

Harga Perak Turun 4% Minggu Ini, Analisis Faktor Penyebabnya

Dailynesia.com – Jakarta – Harga perak global mengalami penurunan signifikan dalam seminggu terakhir, dengan penurunan lebih dari 4% yang mengguncang pasar keuangan. Faktor utama yang memicu koreksi ini adalah kembali memanasnya hubungan antara AS dan Iran, yang memperkuat sikap hawkish di kalangan bank sentral. Pada perdagangan Jumat (10/7/2026), harga perak mencapai US$59,62 per ounce, turun 0,29% dibandingkan hari sebelumnya atau merosot 4,3% secara mingguan.

Kondisi Global yang Memengaruhi Perak

Persaingan geopolitik antara Iran dan AS semakin memanas setelah Iran mengklaim menyerang pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai balasan atas serangan Washington terhadap target-target Iran, terutama setelah insiden penyerangan kapal tanker di Selat Hormuz. Kebutuhan akan keamanan energi dan ketidakpastian politik global menjadi faktor utama yang menggerakkan investor untuk mengalihkan aset ke komoditas lain yang dianggap lebih stabil. Main Agenda menyoroti bahwa perak, meski masih dianggap sebagai logam mulia, cenderung lebih rentan terhadap perubahan kebijakan moneter dibandingkan emas.

Lonjakan harga energi yang mencapai lebih dari 5% dalam beberapa hari terakhir meningkatkan risiko inflasi yang lebih tinggi. Hal ini mendorong bank sentral, seperti Federal Reserve, untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga. Main Agenda menjelaskan bahwa peningkatan suku bunga secara langsung memengaruhi daya tarik perak sebagai aset investasi, karena imbal hasil yang diberikan oleh logam mulia ini kurang menarik dalam kondisi suku bunga tinggi.

Analisis Perkembangan Pasar Perak

Risalah rapat Federal Reserve pada 16-17 Juni menunjukkan kekhawatiran pejabat AS terhadap inflasi yang semakin memuncak. Beberapa anggota menilai ada alasan untuk segera meningkatkan suku bunga, sehingga ekspektasi pasar pun berubah. Main Agenda mencatat bahwa peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September naik menjadi 69%, dari 62% sebelumnya. Angka ini memperkuat tekanan terhadap harga perak yang turun.

“Semua indikator menunjukkan pasar mengkhawatirkan inflasi, terutama setelah harga minyak kembali menguat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini akan membuat bank-bank sentral, khususnya Federal Reserve, tetap waspada,” ujar Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, kepada Reuters dikutip Minggu (12/7/2026).

Main Agenda juga menganalisis bahwa perak, sebagai logam mulia dengan likuiditas lebih rendah dibandingkan emas, terdampak lebih besar oleh fluktuasi suku bunga dan kebijakan moneter. Investor cenderung memilih emas sebagai aset lindung nilai dalam situasi ketidakpastian ekonomi. Dengan harga perak yang turun, pelaku pasar mungkin lebih memprioritaskan alternatif lain seperti saham atau obligasi.

Penurunan harga perak ini menimbulkan dampak signifikan terhadap sektor pertambangan dan industri manufaktur. Main Agenda menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan tambang mulai mengalami tekanan dalam meraup keuntungan, terutama di tengah kekhawatiran tentang kebijakan moneter yang konservatif. Selain itu, harga perak yang terus menurun juga memengaruhi keputusan investasi masyarakat kecil yang memperhatikan return jangka pendek.

Main Agenda menambahkan bahwa kenaikan suku bunga oleh bank sentral berdampak langsung pada kreditur dan peminjam, yang memengaruhi pasar keuangan secara keseluruhan. Dalam konteks ini, perak yang memiliki fluktuasi lebih tinggi dibandingkan emas menjadi pilihan yang tidak ideal bagi investor yang ingin meminimalkan risiko. Hal ini menegaskan bahwa perak tetap menjadi aset yang menarik, tetapi perlu dipantau secara cermat dalam lingkungan ekonomi yang tidak stabil.

MORE FROM THIS CATEGORY