Main Agenda: Batu Bara Bertahan di Level Tertinggi, Harga Emas Justru Tertekan

2 months ago  ·  3 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
ptba-membukukan-laba-bersih-sebesar-rp14-triliun-dan-ebitda-sebesar-rp36-triliun-dengan-ebitda-margin-di-angka-11-hingga-kuart-1761816902222_169

Harga Batubara Global Bertahan di Level Tinggi, Emas Justru Mengalami Penurunan

Dailynesia.com – Jakarta – Harga batubara dunia tetap stabil di level tertinggi dalam hampir dua tahun, meskipun mengalami penurunan kecil akhir pekan ini. Menurut data Refinitiv, kontrak futures Newcastle mencatat harga US$145 per ton pada Kamis (12/6/2026), turun 2,39% dibandingkan hari sebelumnya. Meski terjadi penyesuaian harga pada sesi terakhir, kenaikan mingguan sebesar 1,7% masih menunjukkan ketahanan harga batubara yang signifikan. Main Agenda menyoroti dinamika pasar yang tetap didorong oleh kebutuhan energi global dan ketegangan geopolitik.

Faktor Penopang Harga Batubara

Harga batubara menunjukkan kekuatan karena permintaan tetap tinggi, terutama dari Asia Tenggara dan Eropa. Sejumlah negara masih bergantung pada batubara sebagai sumber energi utama akibat ketidakpastian pasokan LNG dan ketegangan di Timur Tengah. Main Agenda menyoroti bahwa penurunan harga batubara minggu ini tidak mengubah tren jangka panjang, yang didorong oleh kebijakan pengawasan ekspor dari Indonesia. Negara eksportir terbesar dunia ini memperketat aturan keluaran batubara, sehingga mengurangi risiko peningkatan pasokan dan mempertahankan harga di level tinggi.

Kenaikan harga batubara juga didukung oleh kebutuhan listrik yang meningkat, terutama di musim panas Belahan Bumi Utara. Konsumsi energi yang naik mendorong permintaan batubara, sementara pasokan LNG yang terganggu akibat perubahan cuaca di Fasilitas Ras Laffan Qatar mengarahkan pelaku pasar untuk kembali memprioritaskan batubara. Main Agenda memperlihatkan bahwa faktor geopolitik dan permintaan musiman tetap menjadi penentu utama harga batubara di tengah ketidakstabilan pasar energi.

Harga Emas Tertekan oleh Kebijakan Moneter AS

Pada sisi lain, harga emas global mengalami penurunan signifikan, terutama karena tekanan dari kebijakan moneter AS. Berdasarkan data Refinitiv, emas spot ditutup di US$4.218,77 per troy ons pada Kamis (12/6/2026), naik 0,12% namun tidak mampu mengubah tren penurunan mingguan sebesar 5,6%. Main Agenda menunjukkan bahwa pergeseran ekspektasi pasar terhadap suku bunga AS menjadi faktor utama yang menekan permintaan emas.

Kenaikan suku bunga yang diperkirakan oleh Federal Reserve memicu aliran dana ke aset berisiko lebih kecil, seperti obligasi pemerintah AS dan instrumen dolar. Main Agenda memperlihatkan bahwa inflasi yang kembali meningkat dan kekuatan pasar tenaga kerja memperkuat prospek kenaikan suku bunga, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai investasi. Konflik Iran yang berlangsung sejak Februari juga memperbesar tekanan terhadap harga emas, karena meningkatkan biaya energi dan memperumit dinamika pasar global.

Standard Chartered memperkirakan bahwa volatilitas harga emas akan berlanjut selama kuartal ini, dengan tekanan dari ekspektasi kenaikan suku bunga yang semakin meningkat. Main Agenda mencatat bahwa pergeseran ini menunjukkan ketidakstabilan di pasar keuangan, di mana investor mulai mengalihkan perhatian dari emas ke aset lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Persaingan Harga dan Aliran Dana

Harga batubara yang tetap tinggi menjadi kontras dengan penurunan emas, yang mencerminkan perbedaan dinamika antara dua komoditas. Main Agenda menjelaskan bahwa batubara terus menjadi pilihan utama di tengah ketidakpastian pasokan LNG dan kebutuhan listrik yang naik. Sementara itu, emas terkena tekanan karena pasar mulai memprioritaskan aset yang lebih menarik dalam kondisi suku bunga tinggi. Perubahan ini menggambarkan pergeseran strategi investasi yang lebih fokus pada imbal hasil daripada keamanan.

Main Agenda juga menyoroti bahwa harga batubara yang menguat sebesar 41% dibandingkan periode sama tahun lalu menunjukkan ketahanan permintaan global. Di sisi lain, harga emas yang tercatat mencapai level terendah sejak November tahun lalu menggarisbawahi ketidakstabilan pasar. Pergeseran ini menunjukkan bahwa investor mulai memperkirakan kebijakan moneter AS akan lebih konservatif, sehingga mengurangi minat terhadap aset tak berisiko seperti emas.

MORE FROM THIS CATEGORY