Harga Minyak Bergerak Brutal, Melonjak Kini Mendadak Ambruk

2 months ago  ·  3 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
pemandangan-dari-drone-yang-memperlihatkan-pompa-minyak-dan-anjungan-pengeboran-di-selatan-midland-texas-as-11-juni-2025-1778060053097_169

Harga Minyak Bergerak Brutal, Melonjak Kini Mendadak Ambruk

Dailynesia.com – Jakarta – Pasar minyak global terus bergerak dengan cara yang tidak terduga, mengalami kenaikan signifikan sebelum tiba-tiba mengalami penurunan tajam. Berdasarkan data yang diperoleh, pada perdagangan hari ini, Rabu (27/5/2026) pukul 08.19 WIB, harga minyak Brent mencapai US$ 98,63 per barel, turun 0,95%, sementara harga WTI tergelincir 1,22% ke US$ 92,74 per barel. Fluktuasi ekstrem ini menunjukkan bahwa harga minyak saat ini sangat rentan terhadap perubahan, setelah pada perdagangan Selasa (26/5/2026) harga Brent sempat naik 3,6% menjadi US$ 99,58 per barel. Dalam Latest Program, analis mengatakan ketidakpastian politik dan militer menjadi pemicu utama pergerakan harga minyak.

Ketegangan Diplomasi dan Militer Memicu Fluktuasi Harga Minyak

Ketidakpastian yang melatarbelakangi perubahan harga minyak berasal dari situasi diplomatik dan militer yang terus memanas antara Amerika Serikat dan Iran. Teheran menegaskan bahwa serangan terbaru di Selat Hormuz tidak akan menghentikan proses negosiasi yang sedang berjalan, sementara Washington mempertahankan tekanan terhadap negosiasi. Dalam Latest Program, para ahli mengingatkan bahwa pasar sangat rentan terhadap langkah tiba-tiba dari pihak berkepentingan.

“Kesepakatan untuk mengakhiri konflik bisa diselesaikan dalam beberapa hari, tapi ketergantungan pada langkah politik masih tinggi,” kata Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam wawancara terbaru.

Volatilitas ini memperlihatkan bagaimana ketidakpastian geopolitik langsung memengaruhi dinamika pasar. Data dari Capital Economics menunjukkan bahwa investor masih khawatir akan kemungkinan terjadinya skenario terburuk, seperti gangguan lebih besar di Selat Hormuz. Dalam Latest Program, disebutkan bahwa pasar memperkirakan risiko seperti itu tetap menjadi faktor dominan, meski harga spot sedikit membaik.

Analisis Terkini: Pasar Minyak Masih Berada di Posisi Tegang

Ketidakpastian politik terus menjadi faktor utama dalam pergerakan harga minyak, seperti yang dijelaskan dalam Latest Program. Analis Capital Economics, Kieran Tompkins, menegaskan bahwa probabilitas harga minyak kembali menembus US$100 per barel dalam tiga bulan mencapai 37%. Meski harga spot saat ini sedikit stabil, penurunan terbaru menunjukkan bahwa investor masih waspada terhadap kemungkinan gangguan besar.

Dalam Latest Program, disebutkan bahwa risiko alternatif seperti serangan militer atau perubahan kebijakan diplomatik masih menjadi ancaman utama. Jika konflik antara AS dan Iran berlanjut tanpa solusi yang jelas, volatilitas pasar bisa meningkat lagi. Bahkan, menurut data yang dianalisis, pasar opsi minyak menunjukkan kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya, meski negosiasi sedang berlangsung.

Konflik AS-Iran: Dari Pertempuran ke Negosiasi

Konflik antara AS dan Iran telah menciptakan ketegangan yang terus memengaruhi pasar minyak. Sejak awal Februari, Iran hampir menghentikan seluruh pengangkutan non-Iran melalui Selat Hormuz, mengakibatkan gangguan pada sekitar 20% arus minyak global. Namun, beberapa kapal tanker berhasil melewati area tersebut, termasuk tiga kapal LNG yang bertolak ke Pakistan, Tiongkok, dan India, menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

“Ketegangan diplomatik dan militer menghasilkan lingkungan pasar yang dinamis, tapi penyelesaian konflik bisa mengubah arah pergerakan harga secara signifikan,” tulis Capital Economics dalam laporan terbaru, yang dibahas dalam Latest Program.

Peluncuran Supertanker Irak: Tanda Kembalinya Stabilitas?

Pengamatan terhadap arus pelayaran di Selat Hormuz menunjukkan kemajuan kecil, terutama setelah supertanker Irak berhasil melewati area yang sebelumnya tertutup. Sebelumnya, kapal tersebut terjebak hampir tiga bulan, menambah kekhawatiran akan ketergantungan pada jalur pelayaran ini. Dalam Latest Program, dikatakan bahwa pengamatan terhadap aksi serangan dan navigasi kapal menjadi indikator kritis untuk memperkirakan fluktuasi harga.

United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan ledakan eksternal di sisi kiri sebuah kapal, dekat garis air, sekitar 60 mil laut dari Muscat. Kejadian tersebut mengingatkan bahwa risiko serangan militer masih ada, meski beberapa kapal telah beroperasi kembali. Dalam Latest Program, analisis menunjukkan bahwa pasar masih berusaha memprediksi perubahan mendadak yang bisa terjadi jika kondisi tidak stabil.

Impact on Consumers: Kekhawatiran Inflasi Terus Menghiasi Perhatian

Sementara itu, konsumen di AS menunjukkan ketidaknyamanan terhadap inflasi yang terus meningkat, yang berdampak pada kepercayaan mereka terhadap pasar. Meski arus pelayaran mulai stabil, faktor ketidakpastian politik tetap menjadi penentu utama dalam pergerakan harga minyak. Dalam Latest Program, disebutkan bahwa ketidakstabilan ini bisa memengaruhi biaya kehidupan dan kebijakan ekonomi pemerintah.

Ketidakpastian akan kesepakatan dagang antara AS dan Iran memicu reaksi cepat dari investor, baik dalam bentuk kenaikan maupun penurunan harga. Dalam Latest Program, data terbaru menunjukkan bahwa pasar masih menyisihkan risiko ekstrem, tapi optimisme terhadap kesepakatan diplomatik semakin meningkat. Namun, volatilitas harga minyak tetap menjadi isu utama yang perlu diawasi secara terus-menerus.

MORE FROM THIS CATEGORY