Kongo Tutup Keran Ekspor, Harga Tembaga Terbang ke Zona Berbahaya

2 hours ago  ·  4 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
mining-coppercodelco_169

Reaksi Pasar Terhadap Larangan Ekspor Tembaga Kongo

Dailynesia.com – Pasar komoditas global kini tengah menatap pergerakan harga tembaga yang semakin agresif. Logam industri ini kembali menunjukkan sentimen bullish setelah Republik Demokratik Kongo (DRC) memutuskan untuk menghentikan ekspor konsentrat tembaga dan kobalt secara langsung. Langkah pemerintah Kongo tersebut memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mengenai ketersediaan bahan baku untuk proses peleburan.

Meskipun volume konsentrat yang terdampak tidak terlalu besar, informasi ini cukup menjadi katalis bagi aksi pembelian di tengah kondisi stok global yang sudah mulai menipis. Melansir laporan Reuters, aturan pelarangan ini berlaku seketika dan merupakan bagian dari strategi pemerintah DRC untuk meningkatkan nilai tambah domestik melalui pengolahan mineral di dalam negeri.

Lonjakan Harga di Bursa Internasional

Respons pasar terhadap kebijakan ini berlangsung sangat cepat. Kontrak tembaga tiga bulan yang diperdagangkan di London Metal Exchange (LME) sempat melonjak mencapai US$14.369,5 per ton. Angka ini merupakan level tertinggi sejak bulan Januari ketika harga mencetak rekor sepanjang masa di US$14.527,5 per ton.

Sementara itu, di pasar COMEX Amerika Serikat, harga futures bahkan menembus US$6,72 per pon, menandai rekor tertinggi sepanjang sejarah perdagangan. Yang menarik, reli harga kali ini tidak hanya disebabkan oleh larangan ekspor dari Kongo. Dalam tiga bulan terakhir, pasar tembaga menghadapi tekanan dari berbagai sumber.

Chile masih bergumul dengan gangguan produksi, China membatasi ekspor asam sulfat yang vital untuk proses pemurnian, dan Kongo mulai menahan konsentrat. Bersamaan dengan itu, investasi pada jaringan listrik, pusat data AI, dan elektrifikasi terus mendorong permintaan tetap tinggi. Kombinasi faktor-faktor ini membuat harga tembaga kembali mendekati level rekor tertinggi.

Ketegangan Pasokan Global

Reuters melaporkan bahwa premi tembaga tunai terhadap kontrak tiga bulan di LME melebar menjadi US$123 per ton, level tertinggi sejak Oktober tahun lalu. Kondisi ini biasanya muncul ketika pelaku industri saling berebut pasokan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek. Pada saat yang sama, persediaan tembaga di gudang resmi LME turun menjadi 226.650 ton, posisi terendah sejak pertengahan Februari.

StoneX memperkirakan lebih dari 1,2 juta ton tembaga telah mengalir ke Amerika Serikat sejak Februari 2025. Akibatnya, sekitar 64% stok tembaga global yang terlihat kini berada di AS, membuat pasokan di kawasan lain semakin ketat. Pasokan juga terganggu dari sisi produksi, khususnya di Chile.

Pengembangan area Andes Norte di tambang El Teniente milik Codelco masih berpotensi tertunda hingga dua tahun akibat persoalan teknis di bawah tanah. Sebagai produsen tembaga terbesar dunia, setiap gangguan operasi di Chile cepat memengaruhi sentimen pasar global.

Permintaan Tetap Kuat Didorong Transformasi

Di sisi lain, permintaan tetap tinggi. CNBC International melaporkan bahwa kebutuhan tembaga kini semakin banyak berasal dari investasi jaringan listrik, pembangunan pusat data, kendaraan listrik, hingga infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Artinya, konsumsi logam merah saat ini lebih didorong oleh transformasi energi dan digital dibandingkan lonjakan aktivitas ekonomi secara umum.

China menjadi salah satu mesin utama permintaan tersebut. Investasi jaringan listrik negara itu pada semester pertama 2026 naik 13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Beijing juga telah mengumumkan rencana investasi sekitar US$574 miliar untuk modernisasi jaringan listrik dalam beberapa tahun ke depan.

Analisis Dampak Larangan Ekspor

Sementara itu, larangan ekspor dari DRC sebenarnya diperkirakan tidak memangkas pasokan global dalam jumlah besar. Data pemerintah Kongo yang dikutip Reuters menunjukkan negara tersebut memang lebih banyak mengekspor tembaga dalam bentuk katoda hasil pemurnian. Pada kuartal I-2026, ekspor katoda mencapai 696.725 ton. Sebaliknya, ekspor konsentrat hanya 53.926 ton yang mengandung sekitar 18.863 ton logam tembaga.

Christian-Geraud Neema, analis dari China-Global South Project, menilai dampak terbesar kemungkinan dirasakan beberapa perusahaan yang masih memperoleh pengecualian untuk mengirim konsentrat ke luar negeri. Salah satunya kompleks tambang Kamoa-Kakula yang dioperasikan Ivanhoe Mines bersama Zijin Mining dan pemerintah Kongo. Selama ini perusahaan tersebut beberapa kali memperoleh izin khusus untuk tetap mengekspor konsentrat.

Karena itu, yang bergerak lebih dulu adalah ekspektasi pasar. Broker Marex dalam risetnya yang dikutip Reuters menyebut Kongo memang hanya mengirim porsi kecil konsentrat dibanding total produksi tembaganya. Namun ketika persediaan global sedang menipis dan ketidakpastian tarif impor Amerika Serikat masih membayangi pasar, kabar sekecil apa pun bisa menjadi pemicu volatilitas harga.

Frequently Asked Questions

What is Kongo Tutup Keran Ekspor Harga Tembaga?

Kongo Tutup Keran Ekspor Harga Tembaga is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kongo Tutup Keran Ekspor Harga Tembaga matter?

Kongo Tutup Keran Ekspor Harga Tembaga matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category