AS Panik! Galangan Kapal China Berubah Jadi Mesin Armada Perang Dunia

2 hours ago  ·  3 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
17d525e7-a4d2-4c30-8458-eb912c0c8977_169

Kompetisi Lautan: China Melampaui AS Melalui Industri Galangan Kapal

Dailynesia.com – Persaingan maritim antara Amerika Serikat dan Tiongkok kini mencapai titik kritis. Sementara Beijing memanfaatkan kapasitas industri pembuatan kapal yang masif untuk memperluas armadanya, Washington masih bergumul dengan keterlambatan produksi serta keterbatasan fasilitas galangan domestik. Pada era abad ke-18, tokoh politik Inggris William Blackstone pernah menggambarkan Angkatan Laut Kerajaan sebagai “benteng terapung yang melindungi negara kepulauan tersebut”. Namun, hegemoni lautan kini telah berpindah tangan dari Inggris ke Amerika Serikat, dan dominasi tersebut mulai goyah akibat ambisi maritim Tiongkok.

Evolusi Kekuatan Maritim Tiongkok

Pekan ini, Beijing berupaya memperkuat penguasaan atas wilayah perairan yang menjadi klaim teritorialnya, meskipun mendapat penolakan dari negara-negara tetangga. Dorongan untuk memperluas pengaruh global juga menjadi katalisator ekspansi angkatan lautnya. Menurut laporan Departemen Pertahanan AS tahun 2020, Tiongkok berhasil mengubah diri dari kekuatan maritim kecil yang berorientasi pertahanan pesisir menjadi armada terbesar di dunia. Pada periode tersebut, Beijing telah memiliki 350 unit kapal tempur yang mencakup kapal perang, kapal induk, kapal penyapu ranjau, serta kapal pendukung lainnya. Angka ini jauh melampaui jumlah 293 kapal milik AS yang stagnan selama dua dekade terakhir.

Target Tiongkok untuk mencapai 435 kapal pada tahun 2030 dinilai sangat realistis. Sebaliknya, rencana Washington untuk menambah 58 kapal ke armadanya pada 2031, termasuk pembangunan kapal perang kelas “Trump” bertenaga nuklir yang diusulkan Presiden tahun lalu, terlihat sulit tercapai. Kunci keunggulan ini terletak pada industri pembuatan kapal komersial berskala besar yang menjadi tulang punggung kebangkitan Tiongkok sebagai kekuatan angkatan laut.

Peran Kritis Industri Kapal Komersial

Setelah Perang Dunia II, dominasi industri pembuatan kapal Eropa perlahan digeser oleh Jepang yang mengandalkan baja berkualitas, tenaga kerja murah, serta metode produksi inovatif, sebelum kemudian beralih ke Korea Selatan. Kini, Tiongkok telah menjadi pemain utama. Dalam kurun waktu 25 tahun terakhir, pangsa pasar Tiongkok terhadap total tonase pembangunan kapal dunia melonjak dari 5 persen menjadi lebih dari 50 persen. Sebaliknya, industri pembuatan kapal komersial AS nyaris tidak mendapat perhatian, sehingga menyulitkan angkatan lautnya untuk bersaing dengan Tiongkok.

Industri pembuatan kapal komersial Tiongkok “berkaitan erat” dengan angkatan lautnya. Keterkaitan aktivitas sipil dan militer membuat galangan kapal tetap aktif. Ketika pesanan komersial melambat, fasilitas galangan dapat digunakan untuk mengerjakan kapal militer sehingga meningkatkan tingkat pengembalian investasi.

Kapal perang memang memiliki tingkat kompleksitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan kapal komersial seperti kapal kontainer. Namun, keduanya tetap berbagi banyak kesamaan, mulai dari struktur baja dan sistem perpipaan hingga mesin dan baling-baling. Marzio Forlini dari Bain mencatat bahwa berbagai jenis kapal juga memiliki banyak kesamaan pada fondasi dasarnya. Kondisi tersebut menjelaskan mengapa Eropa masih mempertahankan industri kapal militer yang kuat. Kawasan ini menjaga industri pembuatan kapal komersial untuk kapal khusus, seperti kapal pesiar, kapal pemecah es, dan kapal pendukung energi lepas pantai. Industri kapal militernya tidak hanya memasok kebutuhan domestik, tetapi juga pasar ekspor.

Integrasi Sipil-Militer dan Tantangan AS

Menurut Michael Potter dari Accenture, galangan kapal sipil tidak hanya menyediakan kapasitas produksi, tetapi juga menjadi tempat mengasah keterampilan untuk mengintegrasikan sistem persenjataan, radar, dan perangkat pertahanan lainnya. Pierroberto Folgiero, CEO Fincantieri, perusahaan pembuat kapal terbesar di Eropa, juga menilai industri kapal komersial dan militer saling melengkapi. Hal itu terlihat dari kesamaan keterampilan manufaktur, ketersediaan galangan kapal, hingga rantai pasok yang saling beririsan.

Folgiero mencontohkan kapal pesiar yang menjadi spesialisasi Fincantieri. Kapal jenis ini memiliki tingkat kompleksitas tinggi karena harus dilengkapi berbagai fasilitas, termasuk pembangkit listrik dan sistem air, untuk melayani hingga 10.000 orang serta 20 restoran. Menurut Folgiero, jika pemerintah ingin mengembangkan industri pembuatan kapal militer, “industri pembuatan kapal sipil harus dibina dan dilindungi.”

Di Amerika Serikat, upaya untuk melindungi industri pembuatan kapal domestik justru berdampak sebaliknya. Jones Act, aturan yang diberlakukan pada 1920 untuk mendorong industri pembuatan kapal dalam negeri, justru menjadi penghambat. Aturan tersebut mewajibkan pengan

Frequently Asked Questions

What is AS Panik Galangan Kapal China Berubah?

AS Panik Galangan Kapal China Berubah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does AS Panik Galangan Kapal China Berubah matter?

AS Panik Galangan Kapal China Berubah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category