Asia Tak Kompak Hadapi Dolar: Rupiah-Ringgit Melemah, Yen-Won Perkasa

2 hours ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
global-forex-1774396346862_169

Mata Uang Asia Terbagi dalam Reaksi Terhadap Dolar AS

Dailynesia.com – Pasar valuta asing Asia menunjukkan pergerakan yang beragam pada perdagangan Jumat pagi, 7 Agustus 2026. Berdasarkan informasi dari Refinitiv yang dihimpun pukul 09.16 WIB, terdapat enam dari sepuluh mata uang regional yang mencatatkan penguatan terhadap greenback Amerika Serikat. Sebaliknya, empat mata uang lainnya mengalami pelemahan dalam sesi tersebut.

Yen dan Won Memimpin Penguatan

Yen Jepang tampil sebagai mata uang dengan performa terbaik di kawasan Asia pagi ini. Valuta nippon tersebut menguat sebesar 0,28 persen terhadap dolar AS. Penguatan ini didorong oleh fokus investor pada potensi intervensi yang dilakukan Jepang dan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir.

Won Korea Selatan berada di posisi kedua dengan kenaikan 0,27 persen, menempuh level KRW 1.419 per US$. Sementara itu, dolar Taiwan juga menunjukkan sentimen positif dengan kenaikan 0,09 persen ke angka TWD 32,201/US$. Dong Vietnam tidak ketinggalan, naik 0,08 persen ke posisi VND 26.214/US$. Penguatan lebih kecil juga dicatat oleh dolar Singapura yang naik 0,04 persen, serta yuan China yang menguat tipis 0,02 persen.

Rupiah dan Ringgit Terkoreksi

Di sisi pelemahan, peso Filipina mencatatkan tekanan terdalam dengan penurunan 0,36 persen ke level PHP 60,987/US$. Ringgit Malaysia juga mengalami koreksi sebesar 0,07 persen ke MYR 4,09/US$, sedangkan baht Thailand melemah 0,03 persen ke THB 33,11/US$.

Rupiah Indonesia belum berhasil mengikuti tren penguatan yang dialami mayoritas mata uang Asia. Valuta Garuda turun 0,08 persen ke posisi Rp17.925/US$. Meskipun terkoreksi, rupiah masih bertahan di bawah batas psikologis Rp18.000/US$.

Faktor Pendukung Dolar AS

Indeks dolar AS (DXY) pada waktu yang sama menguat tipis 0,03 persen ke level 99,956. Kenaikan marginal ini menjelaskan mengapa ruang penguatan mata uang Asia tidak berjalan seragam. Namun, posisi dolar yang masih berada di bawah angka 100 memberikan dukungan bagi sebagian mata uang kawasan untuk tetap bertahan di zona hijau.

Menurut laporan Reuters, dolar AS bergerak lebih tinggi terhadap yen dan euro pada hari Jumat, melanjutkan tren kenaikan dari perdagangan sebelumnya. Dukungan terhadap greenback datang dari meningkatnya keraguan pasar mengenai kesepakatan damai Iran, yang mendorong permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven. Selain itu, kenaikan imbal hasil Treasury AS juga menjadi pendorong tambahan.

Financial Times mengutip sumber dekat Ketua The Fed Kevin Warsh yang menyebut adanya kemungkinan kenaikan suku bunga pada September, bergantung pada data ekonomi yang masuk.

Pelaku pasar juga menantikan rilis data nonfarm payrolls AS pada Jumat waktu setempat. Data ketenagakerjaan ini akan menjadi indikator penting untuk menentukan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Ketegangan Geopolitik dan Prospek Suku Bunga

Ketegangan di kawasan Teluk Persia masih menjadi perhatian utama. Reuters melaporkan adanya proposal kesepakatan antara Iran dan Oman yang bertujuan mengakhiri konflik AS-Iran. Namun, proposal tersebut dinilai dapat memberikan Teheran kendali atas lalu lintas melalui Selat Hormuz, membuat pasar berhati-hati.

Harga minyak Brent naik lebih dari US$1 ke level US$83,55 per barel pada hari Jumat. Kenaikan ini menyusul sesi sebelumnya yang mencatatkan penguatan lebih dari US$3.

Kristina Clifton, ekonom Commonwealth Bank of Australia, menilai dolar AS mendapat dukungan dari kenaikan harga minyak setelah prospek kesepakatan AS-Iran dinilai tidak secepat harapan pasar. “Dolar AS didukung oleh kenaikan harga minyak setelah muncul kabar bahwa kesepakatan antara AS dan Iran untuk membuka kembali selat tersebut masih lebih jauh dari harapan,” ujar Clifton.

Clifton juga menambahkan bahwa The Fed belum akan buru-buru menaikkan suku bunga, meski peluang pengetatan tetap terbuka. “Kami memperkirakan The Fed akan menunggu hingga Desember sebelum memulai siklus pengetatan secara bertahap,” tambahnya.

Menurut survei Reuters terhadap para ekonom, nonfarm payrolls AS diperkirakan bertambah 80.000 pekerjaan pada bulan Juli. Angka ini melampaui kenaikan 57.000 pekerjaan yang tercatat pada Juni. Sementara itu, tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di angka 4,2 persen.

CNBC INDONESIA RESEARCH [email protected]

Frequently Asked Questions

What is Asia Tak Kompak Hadapi Dolar?

Asia Tak Kompak Hadapi Dolar is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Asia Tak Kompak Hadapi Dolar matter?

Asia Tak Kompak Hadapi Dolar matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

MORE FROM THIS CATEGORY