Vietnam Melalui Kerja Sama Inggris, RI Yakin Tidak Iri?
Dailynesia.com – Kerja sama antara Vietnam dan Inggris melalui Perjanjian Perdagangan Bebas UK-Vietnam (UKVFTA) menjadi contoh nyata bagaimana keterlibatan ekonomi dengan negara besar bisa memberi dampak signifikan dalam waktu singkat. Pada 2025, nilai perdagangan bilateral mencapai lebih dari US$9,38 miliar, menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Indonesia, yang masih menunggu pengesahan perjanjian serupa, perlu belajar dari model kerja sama yang dijalani Vietnam.
UKVFTA ditandatangani pada 29 Desember 2020 dan mulai berlaku pada 1 Januari 2021, menjadikannya salah satu perjanjian dagang paling ambisius di Asia Tenggara. Dengan komitmen untuk mengurangi tarif masuk dan keluar, dua negara ini berhasil mempercepat aliran barang strategis, seperti produk pertanian dan manufaktur. Meski Singapura dan Vietnam menjadi dua negara ASEAN pertama yang meneken perjanjian dengan Inggris, Indonesia punya peluang untuk mengikuti jejak mereka.
Penurunan Tarif dan Pertumbuhan Perdagangan
Dari data Bea dan Cukai Vietnam, ekspor ke Inggris pada 2025 meningkat 11,8% menjadi US$8,39 miliar, sementara impor naik 12% ke US$991,36 juta. Pertumbuhan ini jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekspor ke Uni Eropa (16,8%) dan pasar global (15,4%). Komoditas seperti mainan, lada, dan sayur-sayuran mencatat pertumbuhan ekspor hingga 60,5% dan 61,5%, menunjukkan efektivitas Key Strategy dalam memanfaatkan akses pasar Eropa.
Menurut laporan Departemen Perdagangan Inggris, impor dari Vietnam ke Inggris meningkat 65% sejak berlakunya UKVFTA, sementara ekspor Inggris ke Vietnam melesat 40%. Pembangkit tenaga mekanis dan produk farmasi menjadi komoditas utama yang menikmati manfaat besar dari perjanjian ini, memberi contoh bagaimana Key Strategy bisa menembus batasan geografis.
Kesempatan untuk Indonesia
Indonesia, yang sudah menandatangani EVFTA dengan Uni Eropa, bisa meniru pendekatan Vietnam dalam mengembangkan Key Strategy berbasis perjanjian dagang. Selama 6–9 tahun, UKVFTA akan menghapus hampir 99% tarif, memperkuat daya saing produk lokal. Namun, negara ini perlu memastikan kebijakan pemasaran dan dukungan infrastruktur untuk mengubah potensi menjadi kenyataan.
Kerja sama ekonomi Vietnam-Inggris juga menggambarkan keunggulan negara dengan populasi 97 juta orang dalam membangun hubungan bilateral. Dengan memprioritaskan komoditas unggulan dan menawarkan insentif khusus, Vietnam berhasil mengatasi hambatan perdagangan. Strategi ini bisa diadopsi Indonesia untuk meningkatkan volume ekspor ke Eropa, terutama dalam sektor pertanian dan manufaktur.
Investasi dan Manfaat Jangka Panjang
Penghapusan tarif yang cepat dalam UKVFTA mendorong aliran investasi langsung dari Inggris ke Vietnam. Jumlah investasi meningkat dari £936 juta pada 2020 menjadi £1,327 miliar pada 2023, mencerminkan kepercayaan pasar internasional. Key Strategy ini memberi peluang bagi perusahaan Vietnam untuk menembus industri strategis, seperti energi dan farmasi, yang sebelumnya terkendala biaya importir.
Perjanjian ini juga menekankan kebutuhan Key Strategy dalam harmonisasi kebijakan tarif. Dengan kecepatan penghapusan tarif yang lebih tinggi dibandingkan perjanjian lainnya, Vietnam bisa mempercepat peningkatan ekspor ke Inggris. Angka ini menjadi bukti bahwa Key Strategy yang tepat bisa mengubah skenario perdagangan jangka panjang.

