Rupiah Terus Catatkan Rekor Terendah, Apa Penyebabnya?

2 months ago  ·  3 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
karyawan-menghitung-uang-pecahan-dolar-amerika-serikat-as-di-gerai-penukaran-mata-uang-asing-jakarta-jumat-2442026-1777018064259_169-1

Rupiah Terus Catatkan Rekor Terendah, Apa Penyebabnya?

Dailynesia.com – Berada di tengah perhatian publik setelah mata uang Garuda kembali mencatatkan level terendah sepanjang sejarah dalam perbandingan dengan dolar AS. Berdasarkan laporan Refinitiv, pada hari penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026), rupiah tercatat mengalami pelemahan 0,28% menjadi Rp17.780 per dolar. Ini menjadi rekor baru dalam penurunan kurs rupiah, yang terus berlanjut sepanjang beberapa minggu terakhir. Meski Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah-langkah kunci untuk memperkuat stabilitas valuta, kekhawatiran pasar terus menghimpit kinerja rupiah.

Strategi Key Strategy yang dijalankan BI mencakup berbagai upaya, seperti kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Penyesuaian ini merupakan langkah penting untuk menangkal tekanan eksternal dari kenaikan dolar AS dan menjamin keterkaitan dengan dinamika global. Namun, meskipun BI telah melakukan intervensi di pasar spot, NDF, dan obligasi, dampaknya masih terbatas karena kekuatan faktor-faktor lain yang menghimpit nilai tukar rupiah. Penyesuaian BI Rate terjadi setelah BI mempertimbangkan ekspektasi inflasi dan stabilitas ekonomi jangka panjang, dengan fokus pada kebijakan Key Strategy yang telah dirumuskan sejak 2024.

Langkah BI Rate ini dimaksudkan untuk mengurangi aliran modal keluar dan menjaga kestabilan harga kebijakan moneter. Meski kenaikan suku bunga diharapkan memperkuat rupiah, dampaknya hanya bersifat sementara karena tekanan eksternal yang terus mengalir dan keraguan pasar terhadap persiapan fiskal dalam negeri.

Kondisi eksternal tetap menjadi faktor utama yang menghimpit rupiah. Perang antara AS dan Iran di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 meningkatkan ketidakpastian geopolitik, sehingga investor global cenderung memprioritaskan aset berbahaya seperti dolar AS. Situasi ini memperkuat indeks dolar AS (DXY), yang pada periode tersebut mencapai level 100. Penguatan DXY berdampak langsung pada mata uang negara-negara lain, termasuk rupiah, yang mengalami penurunan lebih tajam dibandingkan mata uang negara-negara tetangga seperti ringgit Malaysia atau dolar Singapura.

Kondisi Eksternal: Tekanan Dolar AS yang Kuat

Masalah eksternal terutama dipicu oleh ketidakstabilan di pasar keuangan global. Kenaikan suku bunga di AS berdampak signifikan pada kebijakan Key Strategy BI, yang memaksa menjaga konsistensi dengan kondisi pasar internasional. Meski BI menyesuaikan kebijakan moneter dalam rangka mengurangi tekanan pada rupiah, inflasi yang terus mengalami peningkatan masih menjadi sorotan. Situasi ini memperlihatkan bahwa Key Strategy tidak hanya fokus pada pengendalian inflasi, tetapi juga pada stabilitas kurs yang terus mengalami tekanan dari luar.

Pasar global cenderung memilih dolar AS sebagai penyangga ketika terjadi krisis. Hal ini membuat rupiah menjadi salah satu mata uang yang paling rentan terhadap volatilitas. Selain itu, gangguan di Selat Hormuz dan kenaikan harga minyak mentah memperparah masalah, karena memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi. Investor yang khawatir terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga di AS lebih jauh memilih untuk menarik dana dari pasar Asia, termasuk Indonesia, sehingga mengurangi tekanan pada rupiah.

Kondisi Domestik: Defisit APBN yang Memicu Keraguan

Di sisi dalam negeri, kekhawatiran tentang defisit anggaran pemerintah menjadi penyebab utama pelemahan rupiah. Defisit APBN 2025 mencapai 2,92% dari PDB, yang menunjukkan kebutuhan tambahan pemerintah untuk memperoleh modal dari luar negeri. Key Strategy dalam upaya stabilisasi ekonomi juga melibatkan pengendalian defisit APBN, tetapi keterbatasan penerimaan keuangan membuat langkah ini sulit diimplementasikan secara efektif.

Pemerintah terus berupaya memperbaiki outlook fiskal dengan memperketat pengelolaan belanja dan meningkatkan pendapatan. Namun, tantangan dalam memenuhi target disiplin fiskal tetap menjadi hambatan. Dengan defisit yang mendekati ambang batas 3%, pasar mulai menanyakan kemampuan pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi dan memperkuat Key Strategy yang dijalankan. Hal ini menjelaskan mengapa rupiah tetap menjadi mata uang yang paling terpengaruh, meski BI telah mengambil langkah-langkah kritis.

Kondisi pasar yang tidak stabil membuat investor lebih skeptis terhadap kebijakan Key Strategy dalam menstabilkan kurs rupiah. Meski BI melakukan intervensi, nilai tukar rupiah tetap bergerak naik dan turun secara berulang, yang menunjukkan ketidakseimbangan antara kebijakan moneter dan faktor-faktor lain. Dalam konteks ini, Key Strategy terus diuji karena harus beradaptasi dengan tekanan global sekaligus menjaga konsistensi dalam kebijakan fiskal dan moneter. Kebijakan ini memerlukan koordinasi yang rapat antara lembaga keuangan dan pemerintah, yang menjadi tantangan utama dalam upaya menjaga kepercayaan pasar.

Secara keseluruhan, Key Strategy dalam situasi ini memainkan peran penting untuk menjaga stabilitas ekonomi, tetapi belum mampu menahan pelemahan rupiah yang berkelanjutan. Penguatan kurs hanya bisa terjadi dalam jangka pendek, sementara ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi masih menjadi faktor dominan. Dengan kondisi tersebut, pertanyaan tentang efektivitas Key Strategy dalam menghadapi krisis valuta menjadi semakin relevan, terutama dalam konteks globalisasi yang terus memperluas risiko ekonomi. Kebijakan ini memerlukan evaluasi terus-menerus untuk menyesuaikan respons dengan dinamika pasar yang berubah.

MORE FROM THIS CATEGORY