Rupiah Terus Melemah, 6 Emiten Berpotensi Terkena Kerugian
Dailynesia.com – Jakarta, Rupiah mengalami penurunan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa hari terakhir, membuat posisinya semakin rentan. Hingga pukul 11.00 WIB, Jumat (5/6/2026), rupiah mencapai Rp18.025 per dolar AS, tercatat melemah 8,04% dibandingkan akhir tahun 2025. Ini menjadi angka terendah sepanjang masa untuk mata uang lokal.
Beberapa faktor yang memicu tekanan pada rupiah meliputi ketidakpastian geopolitik, kemungkinan kenaikan inflasi, serta aliran dana keluar dari pasar keuangan dalam negeri, baik saham maupun obligasi.
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
Perusahaan pangan ICBP terpantau paling rentan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025, total liabilitas dalam mata uang asing mencapai Rp48,60 triliun pada saat rupiah mencapai Rp17.110 per dolar AS. Angka ini meningkat menjadi Rp51,12 triliun saat rupiah melemah ke Rp18.010 per dolar.
Komponen utama berasal dari obligasi global senilai US$2,75 miliar, yang setara dengan Rp47,05 triliun di level Rp17.110 per dolar AS. Jumlah ini naik menjadi Rp49,53 triliun saat rupiah menguat ke Rp18.010 per dolar. Liabilitas USD lainnya, seperti utang usaha, mencapai US$46,41 juta atau Rp794,07 miliar, meningkat menjadi Rp835,84 miliar.
Sementara itu, liabilitas dalam mata uang asing lain seperti riyal Arab Saudi, lira Turki, dan yen Jepang totalnya sekitar Rp754,70 miliar. Pada periode laporan tersebut, ICBP belum menerapkan kebijakan lindung nilai formal untuk mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.
PT Indofood Sukses Makmur Tbk
Induk usaha ICBP, INDF, juga menghadapi risiko yang sama. Total liabilitas mata uang asing pada 31 Desember 2025 mencapai Rp56,66 triliun di level Rp17.110 per dolar AS, naik menjadi Rp58,53 triliun saat rupiah melambung ke Rp18.010 per dolar.
Beban terbesar berasal dari kewajiban jangka panjang, termasuk obligasi global dan pinjaman bank, senilai US$2,84 miliar. Jumlah ini setara dengan Rp48,52 triliun di Rp17.110 per dolar AS, meningkat menjadi Rp51,15 triliun. Selain itu, utang bank jangka pendek mencapai US$384,93 juta atau Rp6,58 triliun, naik menjadi Rp6,93 triliun.
Liabilitas USD lainnya, seperti utang usaha dan kewajiban operasional, mencapai US$55,04 juta atau Rp941,73 miliar, yang kini bernilai Rp991,27 miliar. Untuk mengurangi risiko, perusahaan melakukan penggunaan kontrak forward dan pemantauan kondisi ekonomi secara rutin.
PT Modernland Realty Tbk
Emiten properti MDLN terkena dampak signifikan akibat fluktuasi rupiah. Total liabilitas valuta asing per 31 Desember 2025 mencapai Rp5,28 triliun di level Rp17.110 per dolar AS, naik menjadi Rp5,56 triliun saat rupiah melemah.
Sebagian besar kewajiban berupa utang obligasi senilai US$274,51 juta, setara Rp4,94 triliun, yang akan jatuh tempo pada April 2027. Komponen lainnya meliputi pinjaman sindikasi sebesar US$31,30 juta atau Rp535,54 miliar, serta beban akrual US$3,05 juta atau Rp52,19 miliar. Perusahaan tercatat menggunakan instrumen derivatif untuk mengantisipasi risiko.
PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk
Dalam sektor telekomunikasi, EXCL terpantau memiliki kewajiban valuta asing sebesar Rp1,15 triliun di level Rp17.110 per dolar AS, yang meningkat menjadi Rp1,21 triliun saat rupiah melambung.
Mayoritas utang berasal dari kewajiban usaha kepada pemasok senilai US$67,12 juta, yang setara dengan Rp1,15 triliun di Rp17.110 per dolar AS. Angka ini naik menjadi Rp1,21 triliun. Perusahaan tidak menjelaskan strategi pengurangan risiko secara rinci, tetapi menyoroti besaran utang yang terkena dampak kurs.
Perusahaan Lain yang Terdampak
Beberapa perusahaan lain, seperti perusahaan berdenominasi dolar AS atau mata uang lain, juga menghadapi kerugian. Perubahan nilai tukar membuat biaya impor dan bahan baku meningkat, yang secara langsung membebani operasional bisnis.
Dengan pelemahan rupiah yang berkelanjutan, emiten dengan utang valuta asing berpotensi mengalami tekanan lebih besar. Risiko ini perlu diwaspadai, terutama dalam kondisi pasar global yang tidak stabil.

