Strategi Kunci: Tiongkok Membangun ‘Benteng Pangan’, Banyak Negara Terancam!
Dailynesia.com – Dalam upaya menghadapi ketidakpastian geopolitik dan gangguan global pada rantai pasok, Tiongkok memperkuat strateginya untuk menciptakan ‘Benteng Pangan’ sebagai bagian dari Key Strategy nasional. Pemerintah Beijing berupaya membangun kemandirian pangan dengan meningkatkan produksi dalam negeri, terutama pada komoditas seperti gandum, kedelai, dan protein alternatif. Kebijakan ini menunjukkan pergeseran signifikan dari ketergantungan pada impor, yang selama ini menjadi strategi utama dalam memenuhi kebutuhan pangan selama dekade terakhir.
Latar Belakang Ketergantungan Impor
Sejak bergabung dengan WTO pada tahun 2001, Tiongkok mengalami peningkatan signifikan dalam permintaan bahan pangan. Pada awal 2020-an, hampir 1/3 dari pasokan pangan nasional berasal dari luar negeri, terutama dari negara-negara seperti AS dan Brasil. Namun, ketergantungan ini mulai memicu kekhawatiran serius, terutama setelah Xi Jinping menganggap pangan sebagai elemen keamanan nasional yang setara dengan energi dan keuangan.
Melansir Financial Times, dalam 20 tahun terakhir, Tiongkok menjadi pembeli utama komoditas pertanian global, yang menunjukkan peran dominan mereka dalam pasar pangan internasional. Namun, perubahan Key Strategy terbaru memicu proses transisi dari konsumsi impor ke pengembangan kemandirian pangan.
Pengembangan Strategi Kebijakan Pangan
Krisis geopolitik antara Rusia dan Ukraina pada 2022 memperkuat perhatian Beijing terhadap keamanan pangan. Pemerintah memperkenalkan berbagai inisiatif baru, termasuk kebijakan subsidi, pengurangan biaya produksi, serta peningkatan investasi dalam teknologi pertanian. Tujuan utama adalah mengurangi risiko ketergantungan pada luar negeri, terutama di tengah ketidakstabilan politik dan ekonomi global.
Dalam upaya ini, Tiongkok fokus pada komoditas strategis seperti jagung, kedelai, dan produk protein alternatif. Peningkatan produksi dalam negeri diharapkan mampu menggantikan pasokan impor yang selama ini mengalami fluktuasi. Tiongkok juga mendorong penggunaan bahan baku lokal untuk memperkuat ketahanan pasokan, sebagai bagian dari Key Strategy yang dijalankan sejak akhir 2020.
Tantangan dan Peluang di Sektor Pertanian
Kebijakan pengembangan kemandirian pangan tidak hanya berdampak pada Tiongkok, tetapi juga mengubah dinamika pasar global. Eksportir utama seperti Brasil dan AS, yang selama ini bergantung pada pasar Tiongkok, kini memperkirakan adanya penurunan permintaan kedelai hingga 2030 jika Key Strategy ini berjalan cepat. Dampaknya bisa menyebabkan perubahan signifikan dalam volume ekspor dan harga komoditas pertanian.
Peluncuran kebijakan ini didukung oleh perusahaan-perusahaan milik pemerintah (BUMN) dan regulasi pengadaan pangan yang lebih ketat. Fokus utama berada pada protein hewani dan pakan ternak, seiring dengan meningkatnya konsumsi daging di tengah pertumbuhan populasi dan pendapatan masyarakat. Strategi ini mencakup pengembangan teknologi pertanian, seperti jagung dan kedelai rekayasa genetika, yang diperkirakan akan menjadi bagian integral dari Key Strategy dalam beberapa tahun mendatang.
Dalam skenario jangka panjang, Tiongkok diperkirakan akan menjadi eksportir bersih untuk produk unggas, susu, telur, dan ikan pada 2040. Selain itu, pada 2050, negara ini diperkirakan akan menggeser industri daging hasil kultur laboratorium secara masif. Perubahan ini bisa mengubah arus perdagangan global yang selama ini stabil sejak awal 2000-an, dengan Tiongkok berperan sebagai pemain utama dalam pangan.

