Warga RI Masih Sulit Punya Rumah di Tengah Ketimpangan Global
Dailynesia.com – Kemampuan masyarakat Indonesia untuk memiliki hunian sendiri terus menunjukkan tantangan yang signifikan. Berdasarkan data terbaru dari UN Habitat World Cities Report 2026, warga RI masih sulit punya rumah dibandingkan dengan penduduk negara-negara lain di seluruh dunia. Laporan tersebut memetakan rasio harga rumah terhadap pendapatan atau home price-to-income ratio di 181 negara, yang menunjukkan variasi sangat lebar dari 3,0 pada negara paling terjangkau hingga 86,7 pada negara paling mahal.
Indonesia menempati posisi 166 dari 181 negara dalam peringkat keterjangkauan rumah ini. Dengan rasio sebesar 18,5, Indonesia berada jauh di atas rata-rata dunia yang hanya mencapai 11,2. Angka ini mengindikasikan bahwa secara relatif, harga rumah di Indonesia masih jauh lebih mahal dibandingkan dengan kemampuan pendapatan masyarakatnya. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa warga RI masih sulit punya rumah meskipun pendapatan terus meningkat.
Analisis Perbandingan dengan Negara Lain
Ketika dibandingkan dengan negara-negara tetangga maupun negara berkembang lainnya, posisi Indonesia semakin terlihat kurang menguntungkan. Rasio 18,5 yang dimiliki Indonesia berarti bahwa seorang warga perlu menabung selama hampir dua dekade untuk membeli rumah dengan harga rata-rata. Sementara itu, negara-negara dengan rasio rendah seperti yang mencapai 3,0 memungkinkan warganya membeli rumah dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Posisi 166 dari 181 negara menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan keterjangkauan hunian bagi masyarakatnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya rasio ini antara lain adalah pertumbuhan harga tanah yang cepat, keterbatasan pasokan rumah terjangkau, serta distribusi pendapatan yang belum merata. Meskipun pendapatan masyarakat terus meningkat, kenaikan harga rumah cenderung lebih tinggi dan lebih cepat. Hal ini membuat warga RI masih sulit punya rumah meskipun daya beli secara nominal mengalami peningkatan.
Dari perspektif kebijakan, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk memperbaiki kondisi ini. Program perumahan rakyat, insentif pajak untuk developer rumah terjangkau, serta regulasi harga tanah dapat menjadi solusi jangka panjang. Tanpa intervensi yang tepat, kesenjangan antara harga rumah dan kemampuan masyarakat akan terus melebar.
Bagi generasi muda dan keluarga baru, kondisi ini berarti mereka harus menunggu lebih lama atau mencari alternatif seperti rumah di luar kota besar. Banyak pasangan muda yang memilih untuk tinggal bersama orang tua atau menyewa selama bertahun-tahun sebelum akhirnya bisa membeli rumah. Ini adalah realita yang dihadapi oleh jutaan warga RI masih sulit punya rumah di berbagai kota besar Indonesia.
Ke depan, perbaikan dalam sektor perumahan tidak hanya akan membantu masyarakat memiliki hunian, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. Ketika lebih banyak orang memiliki rumah, mereka akan lebih stabil secara finansial dan mampu berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.

