Mata Uang Asia Digilas Dolar: Rupiah Takluk, Tapi Ringgit Perkasa

1 month ago  ·  3 min read
By Christopher Moore - dailynesia.com
b10775c2-ae77-4491-bff5-b3e7b7fb78e0-0

Key Discussion: Mata Uang Asia Digilas Dolar AS, Rupiah Melemah Sementara Ringgit Tetap Kuat

Dailynesia.com – Jakarta – Pada penutupan perdagangan Jumat (26/6/2026), penguatan dolar Amerika Serikat kembali menyapu berbagai mata uang Asia. Sebanyak delapan dari 10 mata uang utama Asia mengalami pelemahan, sementara satu menguat dan satu lainnya stagnan. Perkembangan ini terjadi di tengah konsistensi indeks dolar AS yang berada di level kuat. Penguatan greenback juga didukung oleh ekspektasi kebijakan moneter yang ketat, serta fakta bahwa inflasi AS tetap tinggi.

Rupiah menjadi salah satu mata uang yang paling terpukul, turun 0,36% ke Rp17.905 per dolar AS. Pemulihan dari level sebelumnya terus terhambat karena tekanan terhadap mata uang Garuda yang semakin berat. Meski demikian, ringgit Malaysia tampil sebagai mata uang Asia yang paling kuat, naik 1,19% ke MYR 4,005/US$. Kinerja ringgit tersebut dianggap sebagai bukti ketangguhan ekonomi negara tersebut dalam menghadapi volatilitas global.

Perkembangan Mata Uang Asia

Dalam tren pelemahan, baht Thailand mengalami penurunan terbesar, melemah 1,46% ke THB 33,31/US$. Penurunan ini terkait dengan tekanan dari kenaikan harga minyak mentah dan tingkat inflasi yang mulai meningkat. Sementara peso Filipina turun 0,96% ke PHP 61.23/US$, dolar Taiwan juga koreksi 0,55% hingga TWD 31,85/US$. Mata uang lain seperti dolar Singapura dan yuan China turut terdampak, masing-masing melemah 0,22% dan 0,43%.

Dari segi kinerja, yen Jepang mengalami pelemahan paling terbatas, turun 0,28% ke JPY 161,73/US$. Pemulihan dolar AS masih mendominasi pasar keuangan global, sehingga menyebabkan beberapa mata uang Asia mengalami tekanan. Dong Vietnam menjadi pilihan terakhir dengan pergerakan stabil di VND 26.245/US$. Perbedaan ini mencerminkan kondisi ekonomi masing-masing negara, terutama dalam ketahanan terhadap kenaikan suku bunga.

Analisis Kebijakan Moneter AS

Kenaikan suku bunga yang diprediksi akan dilakukan The Fed memberi dampak signifikan terhadap kebijakan moneter Asia. Dalam Key Discussion, analis Capital Economics menilai dolar AS bisa kembali menguat di paruh kedua 2026 jika penguatan moneter AS tetap dijaga. Ini terkait dengan inflasi yang mencapai 4,1% pada Mei 2026, didorong kenaikan harga energi akibat ketegangan di Timur Tengah.

“Setelah kenaikan tajam menyusul rapat FOMC pekan lalu, dolar AS sedikit melemah hari ini dan mungkin akan jeda dalam waktu dekat,” tulis analis Capital Economics dalam risetnya, dikutip dari Reuters. Namun, perbedaan arah kebijakan antara AS dan Eropa masih menjadi peluang bagi greenback untuk kembali menguat. Kebijakan moneter yang lebih ketat di AS berbanding terbalik dengan perangkat stimulasi yang lebih moderat di zona Eropa.

Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada rapat 29 Juli kini mencapai 69% berdasarkan CME FedWatch, naik dari 65,8% sebelumnya. Kenaikan ini diperkirakan akan memperkuat daya tarik investasi asing, terutama terhadap aset berujud dollar AS. Dalam Key Discussion, pasar mulai memperkirakan bahwa penguatan dolar AS akan terus berlanjut, karena kebijakan moneter yang lebih ketat dipandang sebagai alat untuk menekan inflasi dan menjaga nilai tukar mata uang.

Kenaikan suku bunga The Fed juga berdampak pada tingkat bunga lokal di Asia. Beberapa negara seperti Jepang dan Korea Selatan mulai menyesuaikan kebijakan moneter mereka untuk menjaga daya saing. Namun, tekanan terhadap rupiah Indonesia terus berlanjut, karena ekonomi lokal masih rentan terhadap fluktuasi pasar global. Analisis menunjukkan bahwa Rupiah perlu memperkuat kembali daya tarik investor dengan langkah strategis dalam perekonomian.

Di sisi lain, ringgit Malaysia menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Penguatan mata uang ini disebabkan oleh kebijakan fiskal yang stabil, serta pengelolaan inflasi yang lebih baik dibandingkan negara-negara lain di kawasan. Dalam Key Discussion, kekuatan ringgit menjadi indikator bahwa Malaysia mampu mempertahankan kepercayaan pasar dalam kondisi ekonomi yang terus berubah.

MORE FROM THIS CATEGORY