Bersiaplah Hadapi 9 Guncangan dalam 3 Hari: MSCI – Pertemuan China AS
Dailynesia.com – Pada akhir pekan lalu, pasar keuangan Indonesia mengalami penurunan signifikan, dengan bursa saham dan nilai tukar rupiah menyusut. Hanya pasar obligasi yang menunjukkan peningkatan. Perkembangan terkini menunjukkan bahwa pasar keuangan akan terus menghadapi tekanan selama pekan ini. Analisis lebih lanjut mengenai sentimen pasar akan dijelaskan dalam artikel berikut ini.
Kinerja IHSG dan Saham Komoditas
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.969,40 pada Jumat (8/5/2026) dengan penurunan 2,86% atau 204,92 poin. Total transaksi mencapai Rp 36,1 triliun, melibatkan 56,3 miliar saham dalam 2,82 juta transaksi. Meski demikian, IHSG bergerak naik 0,18% dalam satu pekan. Namun, saham-saham komoditas seperti batu bara dan nikel mengalami koreksi tajam, terutama di sesi kedua perdagangan.
Barito Renewables Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menjadi dua saham terberat yang turun masing-masing 20,29 poin dan 20,28 poin. Penurunan ini disebabkan oleh rencana pemerintah menerapkan pajak baru pada sektor pertambangan dan nikel, yang dikenal sebagai windfall profit tax.
“Pajak ini dikenakan beriringan dengan bea keluar, dan saat ini masih dalam diskusi dengan Kementerian ESDM,”
Kebijakan tersebut diharapkan memengaruhi dinamika harga komoditas, terutama nikel, yang turun signifikan. Kenaikan IHSG pada minggu ini juga tergantung pada pergerakan saham komoditas yang sebelumnya mengalami tekanan.
Perkembangan Pasar Mata Uang
Rupiah ditutup melemah 0,17% ke level Rp17.360/US$ pada Jumat pekan lalu, mengakhiri tren penguatan dua hari beruntun sejak Rabu. Dalam sepekan, mata uang ini turun 0,32%, berlawanan dengan kekuatan mata uang Asia lainnya.
Meski rupiah melemah, beberapa mata uang Asia seperti ringgit Malaysia dan peso Filipina justru menguat. Ringgit Malaysia naik 1,25% dalam pekan ini, sementara peso Filipina dan dong Vietnam juga menunjukkan peningkatan signifikan.
Pasar Saham AS dan Indeks Kinerja
Bursa Wall Street mencetak rekor baru pada Jumat (8/5/2026) terdorong oleh kenaikan saham perusahaan teknologi seperti NVIDIA Corporation, SanDisk Corporation, dan emiten AI lainnya. Indeks S&P 500 naik 0,84% ke 7.398,93, sementara Nasdaq melonjak 1,71% ke 26.247,08. Dow Jones juga menguat tipis 0,02% ke 49.609,16.
Indeks semikonduktor Philadelphia Semiconductor Index (SOX) mengalami kenaikan 55% selama kuartal II, didukung oleh percepatan pembangunan pusat data AI. Saham NVIDIA naik 1,8%, sedangkan produsen memori seperti Micron Technology dan SanDisk melonjak lebih dari 15%.
Dalam sepekan, S&P 500 dan Nasdaq mencatat kenaikan mingguan keenam berturut-turut, yang merupakan peningkatan terbesar sejak Oktober 2024. Pada 2026, S&P 500 sudah naik 8%, dan Nasdaq melonjak 13%.
Kebijakan Ekonomi dan Faktor Eksternal
Laporan ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari ekspektasi menunjukkan ketangguhan pasar tenaga kerja. Meski ada kekhawatiran tentang inflasi akibat kenaikan harga minyak di Timur Tengah, investor tetap fokus pada kinerja keuangan perusahaan AS yang solid.
Kenaikan harga saham di AS juga didorong oleh kinerja industri semikonduktor dan kecerdasan buatan. Laba perusahaan dalam S&P 500 untuk kuartal I diperkirakan meningkat hampir 29% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan kontribusi utama dari perusahaan besar.

