Harga Batu Bara Turun Usai Pesta 5 Hari: India Hadapi Krisis Pasokan Energi
Dailynesia.com – India tengah menghadapi tantangan serius dalam menjaga ketersediaan batu bara untuk pembangkit listriknya. Hingga pertengahan Juli 2026, cadangan di pembangkit tenaga uap (PLTU) hanya mampu menopang operasional selama 13 hari, jauh melampaui batas normal yang seharusnya mencapai 26 hari. Kondisi ini diperparah oleh lonjakan permintaan listrik yang mencapai level 270 gigawatt (GW), mendekati rekor tertinggi sebesar 270,2 GW yang dicatat pada bulan Mei lalu. Situasi ini menjadi perhatian utama bagi para investor dan pelaku pasar energi global.
Berbagai faktor berkontribusi terhadap penyusutan stok batu bara. Fenomena El Niño menyebabkan suhu udara lebih panas, sehingga penggunaan pendingin ruangan meningkat signifikan. Selain itu, curah hujan yang lebih rendah dari rata-rata mengganggu produksi listrik dari pembangkit air dan angin, memaksa PLTU berbahan bakar batu bara untuk bekerja lebih keras memenuhi kebutuhan energi nasional. Dampaknya, harga batu bara turun usai periode kenaikan yang panjang akibat faktor-faktor ini.
Respons Pemerintah dan Koordinasi Strategis
Pemerintah India telah melakukan langkah-langkah koordinasi intensif antara Kementerian Batu Bara, Energi, dan Perkeretaapian untuk memastikan distribusi tetap berjalan lancar. Dengan asumsi musim hujan yang masih lemah, beban puncak listrik diproyeksikan mampu menyentuh angka 280 GW sepanjang tahun ini. Upaya ini menjadi krusial mengingat ketergantungan India terhadap batu bara masih sangat tinggi.
Untuk memperkuat infrastruktur, India menambah kapasitas PLTU sebesar 9,47 GW pada periode 2025-2026, ditambah 2,26 GW lainnya antara April hingga Juli 2026. Meskipun pengembangan energi terbarukan terus digalakkan, batu bara tetap menjadi tulang punggung pasokan listrik. Data menunjukkan bahwa pada kuartal kedua 2026, pembangkit batu bara dan lignit menyumbang 69,5% total pasokan, dengan kontribusi mencapai 75% saat beban puncak malam hari.
Trump Gelontorkan Dana untuk Industri Batu Bara AS
Di sisi lain Atlantik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan investasi sebesar US$700 juta melalui Defense Production Act untuk menghidupkan kembali industri batu bara nasional. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap lonjakan harga energi yang dipicu oleh konflik Iran dan penutupan Selat Hormuz. Keputusan ini menunjukkan bahwa batu bara masih menjadi prioritas strategis di banyak negara.
“Hari ini kami mengambil langkah bersejarah untuk menurunkan harga energi dan biaya hidup rakyat Amerika melalui kekuatan batu bara,” kata Trump, dikutip dari BBC.
Dari total dana tersebut, US$500 juta dialokasikan untuk menjaga operasional 14 PLTU, 42 tambang batu bara, serta pembangunan terminal ekspor baru di California. Sementara itu, US$200 juta sisanya digunakan untuk membangun dua PLTU baru di Alaska dan West Virginia, menandai proyek PLTU pertama di AS sejak tahun 2013. Trump memproyeksikan investasi ini akan menciptakan 14.000 lapangan kerja baru dan menghemat biaya pembangkitan hingga US$50 miliar bagi konsumen Amerika.
Sentimen Pasar China dan Pergerakan Harga Global
Di Asia Timur, pasar batu bara termal pelabuhan utara China menunjukkan pelemahan akibat permintaan yang lesu dan persediaan di pelabuhan yang melimpah. Pembeli, terutama utilitas listrik, cenderung menahan pembelian spot karena stok yang mereka miliki masih memadai. Namun, pelaku pasar tetap optimistis bahwa harga tidak akan anjlok drastis mengingat pasokan dari wilayah tambang yang relatif ketat dan biaya pengiriman yang masih tinggi.
Secara global, harga batu bara turun usai periode kenaikan yang panjang. Harga batu bara ditutup pada posisi US$134,5 per ton pada perdagangan Kamis (23/7/2026), turun 0,77% dan memutus tren positif selama lima hari sebelumnya yang mencapai 3,9%. Pelemahan ini terjadi meskipun harga minyak mentah menembus level US$100 per barel. Di AS sendiri, harga bensin kini mencapai US$4,24 per galon, naik dari US$2,98 saat konflik dimulai, sementara harga energi yang dibayar konsumen melonjak 17,9% secara tahunan hingga April.
Di India, Coal India Ltd masih memiliki sekitar 152 juta ton batu bara yang siap disalurkan ke pembangkit. Dengan kebutuhan harian sebesar 3,1 juta ton, cadangan tersebut cukup untuk mendukung operasional dalam jangka pendek. Pemerintah menegaskan bahwa pasokan batu bara saat ini masih terkendali meskipun stok di pembangkit mengalami penurunan signifikan. Situasi ini menunjukkan bahwa harga batu bara turun usai berbagai faktor eksternal yang mempengaruhi pasar energi global.

