Ujian Independensi Bank Indonesia

6 days ago  ·  4 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
66062d27-0508-4e29-bae5-7ad308ddda88_169

Ujian Independensi Bank Indonesia: Transisi dan Tantangan

Dailynesia.com – Ujian Independensi Bank Indonesia menjadi sorotan utama seiring proses pencalonan Destry Damayanti sebagai satu-satunya kandidat Gubernur Bank Indonesia. Opini ini menyajikan pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili立场 editorial CNBCIndonesia.com. Apabila mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat, ia berpotensi menjadi wanita pertama yang secara permanen menempati posisi puncak lembaga moneter nasional.

Jejak karir Destry Damayanti di sektor pasar keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan, serta peran sebagai Deputi Gubernur Senior sejak tahun 2019 memberikan indikasi adanya kesinambungan kebijakan. Namun, momen peralihan kepemimpinan ini justru memunculkan pertanyaan mendasar: di titik mana koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter berakhir, sementara fiscal dominance mulai mengambil alih?

Memahami Independensi Secara Lebih Holistik

Kemandirian bank sentral kerap dipahami secara terlalu biner. Ada persepsi bahwa BI baru dianggap mandiri jika selalu bersikap berbeda dari pemerintah. Sementara itu, pembelian Surat Berharga Negara atau kebijakan yang juga mendorong pertumbuhan ekonomi sering kali dianggap sebagai bentuk kompromi terhadap independensi. Kedua pandangan tersebut terlalu menyederhanakan realitas.

Independensi bukanlah isolasi total. Koordinasi pun bukan berarti subordinasi. Inti dari kemandirian bank sentral modern terletak pada kemampuan mengambil keputusan berdasarkan mandat yang diberikan, tanpa didikte oleh kepentingan politik atau kebutuhan fiskal jangka pendek. Pemerintah tentu memiliki preferensi terhadap pertumbuhan dan biaya pembiayaan yang rendah, namun bank sentral harus tetap memiliki kebebasan menggunakan instrumen yang diperlukan untuk menjaga stabilitas.

Dengan demikian, independensi tidak berarti bahwa ketika pemerintah menginginkan opsi A, maka BI harus memilih opsi B. BI tetap independen ketika memilih A bersama pemerintah, sepanjang keputusan tersebut konsisten dengan mandatnya. Independensi justru diuji ketika data mengharuskan pilihan B: apakah BI masih memiliki ruang untuk memilihnya?

Independensi dari Siapa?

Perspektif political economy of central banking membawa persoalan ini ke level yang lebih dalam. Alessandro Roselli dalam karyanya The Political Economy of Central Banking (2024) menyoroti bahwa posisi bank sentral terus bertransformasi mengikuti relasi antara negara, uang, pasar, perang, krisis, dan demokrasi.

Literatur yang lebih luas bahkan mempertanyakan anggapan bahwa independensi bank sentral selalu menghasilkan stabilitas tanpa biaya ekonomi atau distribusional.

Berarti, bank sentral tidak pernah beroperasi dalam ruang steril; ia berada di persimpangan pemerintah, parlemen, fiskal, pasar keuangan, sektor perbankan, dunia usaha, dan masyarakat. Karena itu, ancaman terhadap independensi bukan hanya berasal dari fiscal dominance. Ada political dominance ketika kepentingan politik jangka pendek membatasi pilihan moneter. Ada pula financial dominance ketika kekhawatiran terhadap gejolak pasar atau kesehatan lembaga keuangan membuat bank sentral enggan mengambil kebijakan yang sebenarnya diperlukan.

Maka pertanyaan independensi yang lebih substantif bukan sekadar apakah BI bebas dari pemerintah, melainkan: apakah BI tetap bebas menjalankan mandatnya ketika berbagai kepentingan menekan dari arah berbeda? Di sinilah independensi harus dibedakan dari sikap saklek. Bank sentral yang selalu berseberangan dengan pemerintah tidak otomatis independen; bisa jadi ia hanya terisolasi. Sebaliknya, bank sentral yang selalu mengakomodasi pemerintah juga berisiko kehilangan kredibilitas.

Paradoks dan Tantangan Fiskal

Di sinilah paradoks independensi bank sentral muncul. Semakin besar kebutuhan fiskal dan moneter untuk berkoordinasi, semakin penting pula independensi bank sentral agar koordinasi tersebut tetap kredibel dan tidak bergeser menjadi subordinasi. Independensi bukan independensi dari koordinasi, melainkan independensi dari dominasi.

Fiscal dominance karena itu bukan mitos, tetapi juga tidak layak menjadi label bagi setiap koordinasi fiskal-moneter. Persoalan muncul ketika kebutuhan pembiayaan dan keberlanjutan fiskal mulai membatasi kemampuan bank sentral menjalankan kebijakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas. Garis batasnya dapat diringkas melalui satu pertanyaan: siapa yang menjadi constraint bagi siapa?

Dalam rezim yang sehat, fiskal memperhitungkan konsekuensi kebijakan moneter. Dalam fiscal dominance, hubungan itu mulai berbalik: kebijakan moneter semakin dibatasi konsekuensinya terhadap biaya utang dan pembiayaan fiskal. Karena itu ukuran utamanya bukan berapa banyak SBN yang berada dalam neraca BI, melainkan apakah kebutuhan fiskal mulai mengubah reaction function kebijakan moneter. Jika ya, maka ujian independensi Bank Indonesia telah dimulai.

FAQ: Ujian Independensi Bank Indonesia

Apa itu ujian independensi Bank Indonesia? Ujian independensi Bank Indonesia merujuk pada kemampuan lembaga moneter nasional untuk menjalankan mandatnya secara mandiri tanpa didikte oleh kepentingan politik atau kebutuhan fiskal jangka pendek pemerintah.

Bagaimana cara mengukur independensi bank sentral? Independensi bank sentral diukur melalui kemampuan mengambil keputusan berdasarkan data dan mandat, bukan sekadar bersikap berbeda dari pemerintah. Koordinasi yang sehat tetap memungkinkan independensi.

Apa perbedaan fiscal dominance dan political dominance? Fiscal dominance terjadi ketika kebutuhan pembiayaan fiskal membatasi kebijakan moneter. Political dominance terjadi ketika kepentingan politik jangka pendek membatasi pilihan moneter bank sentral.

Apakah Destry Damayanti akan menjadi Gubernur BI wanita pertama? Ya, apabila mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat, Destry Damayanti berpotensi menjadi wanita pertama yang secara permanen menempati posisi Gubernur Bank Indonesia.

More from this category