Bagaimana Proyeksi Harga BBM di Juli 2026? Ini Kata Bahlil

1 month ago  ·  3 min read
By Sandra Taylor - dailynesia.com
8568fb5a-5503-47a9-8fac-cdf48d78a1d1-0

Proyeksi Harga BBM Juli 2026 dan Penjelasan Bahlil Lahadalia

Dailynesia.com – Mengenai proyeksi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di bulan Juli 2026 menjadi topik yang ramai dibicarakan, terutama dalam konteks harga BBM non subsidi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan pandangan mengenai kebijakan harga BBM, khususnya Pertamax (RON 92), yang dinilainya harus mencerminkan harga pasar. Meski tidak memberikan jawaban langsung mengenai kenaikan harga pada Juli 2026, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tetap memantau dinamika harga internasional dan kebijakan Pertamina dalam menentukan harga jual BBM. Ia juga menyebutkan bahwa meskipun tren harga minyak dunia sedang menurun, harga Pertamax sebelumnya dijaga stabil meski terjadi kenaikan signifikan sejak Maret 2026.

Kenaikan Harga BBM Non Subsidi dan Konteks Global

Visit Agenda terkait BBM non subsidi mencakup perubahan harga yang dilakukan PT Pertamina pada 10 Juni 2026, saat harga Pertamax (RON 92) di DKI Jakarta naik menjadi Rp 16.250 per liter. Kenaikan ini terjadi setelah harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan akibat perang Israel-Iran yang pecah pada 28 Februari 2026. Sebelumnya, Pertamax dijual dengan harga Rp 12.300 per liter. Dalam pernyataannya, Bahlil menjelaskan bahwa keputusan menaikkan harga BBM non subsidi sejalan dengan dinamika pasar, tetapi pemerintah tetap mengevaluasi kebijakan tersebut dalam rangka menjaga keseimbangan antara kebutuhan konsumen dan stabilitas harga.

“Kita lihat aja. Teman-teman media, teman-teman juga harus fair dong. Pada saat harga minyak lagi naik dua bulan lebih, hampir tiga bulan, kan nggak kita naikkan (harga BBM Pertamax). Masa baru naik, baru naik dua minggu hampir tiga minggu ya? Teman-teman sudah tanya itu? kenapa waktu kemarin (harga tidak naik) kok tidak tanya, nggak diturunkan (beritanya)?”

Bahlil menekankan bahwa harga BBM non subsidi seperti Pertamax harus selalu disesuaikan dengan harga minyak mentah global. Hal ini terlihat dari perubahan harga Pertamax Green (RON 95) yang mencapai Rp 17.000 per liter, naik dari sebelumnya Rp 12.900 per liter. Sementara itu, Pertamax Turbo tetap dijual dengan harga Rp 20.750 per liter, dan Pertashop juga menetapkan harga Pertamax sebesar Rp 16.150 per liter. Meski demikian, Bahlil mengingatkan bahwa kenaikan harga BBM non subsidi tidak boleh terjadi secara acak, tetapi harus disinkronkan dengan kebijakan makroekonomi dan kondisi pasar.

Analisis Harga Minyak Dunia dan Dampaknya

Berdasarkan data dari Refinitiv, harga minyak mentah Brent dan WTI mengalami penurunan signifikan dalam perdagangan pekan lalu. Brent turun 4,34% menjadi US$ 71,99 per barel, sementara WTI mengalami penurunan 3,74% ke US$ 69,23 per barel. Dalam seminggu terakhir, Brent turun 10,65% dan WTI merosot 9,62%. Dengan demikian, harga minyak global kini berada di posisi yang lebih rendah dibandingkan puncaknya pada akhir Maret 2026, ketika Brent sempat mencapai US$ 118,35 per barel.

Dalam Visit Agenda, Bahlil menyebutkan bahwa harga BBM di dalam negeri tergantung pada asumsi harga minyak Indonesia (ICP) yang digunakan dalam rencana makro APBN 2026, yaitu US$ 70 per barel. Meski harga minyak global turun, Bahlil mengingatkan bahwa pemerintah masih mempertimbangkan faktor lain seperti nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, biaya distribusi, dan permintaan pasar dalam menentukan kebijakan harga BBM. Kenaikan harga BBM non subsidi pada bulan Mei 2026 menjadi langkah strategis untuk menyesuaikan dengan kondisi pasar yang dinamis.

Harga BBM non subsidi seperti Pertamax Green dan Pertamax Turbo serta Pertashop memberi gambaran bahwa pemerintah sedang mencoba memperbaiki kesenjangan harga antara BBM bersubsidi dan non subsidi. Namun, Bahlil juga menyoroti bahwa konsumen harus siap menerima penyesuaian harga tersebut, karena BBM non subsidi secara alami lebih mahal dari BBM bersubsidi. Dalam konteks Visit Agenda, ia menekankan pentingnya transparansi dan keberlanjutan kebijakan harga BBM dalam menghadapi fluktuasi pasar.

Dalam rangka mengevaluasi proyeksi harga BBM Juli 2026, Bahlil menggarisbawahi bahwa pemerintah akan terus memantau harga minyak mentah dan kebijakan Pertamina. Hal ini penting karena kenaikan harga BBM dapat memengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat. Visit Agenda mengenai perubahan harga BBM juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan stabilitas ekonomi sekaligus mengurangi subsidi yang dialokasikan untuk produk BBM.

Harga BBM bersubsidi seperti Pertalite (RON 90) dan Solar masih dijual dengan harga tetap, yakni Rp 10.000 dan Rp 6.800 per liter. Namun, Bahlil menegaskan bahwa harga BBM non subsidi akan disesuaikan sesuai dengan fluktuasi harga minyak dunia. Dengan demikian, proyeksi harga BBM Juli 2026 dipengaruhi oleh keputusan pemerintah dalam Visit Agenda untuk menyesuaikan harga BBM dengan kondisi pasar yang terus berubah.

MORE FROM THIS CATEGORY