Topics Covered: Pertamina Komut Fokus pada Strategi KTKT
Dailynesia.com – Pada Rabu (6/6/2026), Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, memimpin pertemuan koordinasi Komite Tata Kelola Terintegrasi (KTKT) di Ballroom Pertamina Club, Kuningan, Jakarta Selatan. Pertemuan ini membahas Topics Covered terkait dampak peristiwa geopolitik global terhadap operasional Pertamina Group, serta rencana strategis untuk mengelola risiko yang mengancam kinerja perusahaan. Dalam diskusi, Iriawan menekankan pentingnya integrasi tata kelola yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan eksternal dan internal yang semakin kompleks.
Topics Covered dalam KTKT: Evaluasi Risiko dan Stabilitas Energi Nasional
Rapat koordinasi KTKT menjadi wadah utama untuk menyelaraskan kebijakan tata kelola antar unit bisnis dan anak perusahaan. Iriawan menjelaskan bahwa Topics Covered kali ini mengarah pada pemantauan risiko terpadu, termasuk tekanan dari perubahan harga minyak, konflik regional, dan ketidakpastian ekonomi internasional. Hal ini diperlukan untuk memastikan kestabilan pasokan energi nasional, yang menjadi prioritas utama Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Selain itu, perusahaan juga mengevaluasi langkah-langkah pengelolaan risiko finansial strategis untuk memperkuat daya tahan bisnis.
“Dalam Topics Covered ini, Pertamina Group harus mampu mengidentifikasi ancaman yang tidak hanya bersifat operasional, tetapi juga kebijakan dan finansial. Sistem tata kelola terintegrasi ini akan menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih cepat dan efektif,” jelas Iriawan dalam pernyataan resmi.
Strategi KTKT untuk Membangun Resilien Perusahaan
Iriawan menekankan bahwa tata kelola terpadu dalam KTKT harus dijalankan secara nyata, bukan sekadar konsep. Ia mengingatkan bahwa pengelolaan risiko harus dilakukan dengan pendekatan holistik, mencakup aspek operasional, keuangan, dan kebijakan. “Topics Covered dalam rapat ini meliputi bagaimana Pertamina dapat meningkatkan kolaborasi antar subholding, mengoptimalkan sumber daya internal, dan membangun sistem yang resilien terhadap krisis,” tambahnya.
Lebih lanjut, Iriawan menyebutkan bahwa rancangan strategi yang diberikan dalam KTKT akan menjadi acuan untuk menyesuaikan operasional perusahaan dengan perubahan dinamika pasar global. Dalam konteks ini, kecermatan dalam risiko eksternal dan internal menjadi kunci untuk menjaga kelangsungan bisnis serta memenuhi tanggung jawab sosial sebagai BUMN.
“Pertamina harus menjadi contoh dalam mengintegrasikan tata kelola dengan visi strategis nasional. Topics Covered ini mengharuskan seluruh lini bisnis untuk berfokus pada sinergi, bukan ego sektoral,” tegas Iriawan.
KTKT dan Tantangan Perubahan Global
Menurut Iriawan, pertemuan KTKT kali ini dilakukan dalam rangka mengantisipasi dampak dari perubahan geopolitik yang terus berkembang. Kondisi seperti ketegangan geopolitik, migrasi pasokan minyak, dan pergeseran nilai tukar mata uang dianggap sebagai ancaman besar bagi Pertamina Group. Ia menyarankan bahwa sistem tata kelola harus diperbarui dengan mengadopsi metode analisis risiko yang lebih mutakhir, termasuk penggunaan data real-time dan penilaian terhadap keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Dalam Topics Covered, Iriawan juga menyoroti pentingnya keterlibatan aktif manajemen dan direksi dalam menyusun rencana tindakan yang terukur. “KTKT menjadi alat untuk memastikan Pertamina tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu memimpin dalam sektor energi nasional,” ujarnya. Ia berharap, dengan adanya keterpaduan tata kelola, perusahaan dapat merespons perubahan global secara lebih efektif.
“Kita harus bergerak bersama dalam memperkuat sistem tata kelola. Topics Covered dalam rapat ini akan menjadi titik awal untuk menciptakan struktur yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” imbuh Iriawan.
Sebagai kesimpulan, Iriawan menegaskan bahwa KTKT adalah bagian integral dari upaya Pertamina untuk menjaga ketahanan ekonomi dan operasional di tengah ketidakpastian yang semakin tinggi. Dengan menerapkan pendekatan terpadu dalam Topics Covered, perusahaan diharapkan dapat merespons perubahan eksternal dengan cepat dan memperkuat posisi sebagai pelaku utama dalam menjaga stabilitas pasokan energi di Indonesia.

