Nasib Manajer Kopdes Setelah Kontrak Berakhir 2 Tahun: Topics Covered
Dailynesia.com – Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Koperasi dan UKM Ferry Juliantono memberikan penjelasan terkait nasib manajer Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdeskel) Merah Putih yang telah menyelesaikan kontrak kerja selama dua tahun. Dalam pernyataannya, Ferry menyampaikan bahwa pemerintah sedang merancang rencana penempatan baru untuk para manajer tersebut, dengan opsi bekerja di lingkungan koperasi atau Kementerian Koperasi (Kemenkop). Ia menegaskan, “Status mereka tetap sebagai pegawai BUMN, tetapi setelah kontrak berakhir, akan diarahkan ke koperasi. Kami juga berharap mereka bisa berkontribusi di Kemenkop,” ungkapnya dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (8/5/2026).
Status Kerja Tetap Berbentuk Kontrak
Ferry menegaskan bahwa status manajer Kopdeskel Merah Putih tidak akan berubah menjadi aparatur sipil negara (ASN), melainkan tetap berupa kontrak kerja waktu tertentu (PKWT). Skema ini dirancang agar pemerintah tetap memiliki fleksibilitas dalam mengelola sumber daya manusia di sektor koperasi. “Kami memastikan para manajer tidak hanya diberi tugas administratif, tetapi juga kewenangan strategis dalam pengembangan Kopdeskel,” terangnya. Hal ini berdampak pada dinamika organisasi, terutama dalam mendorong kemandirian dan inovasi.
Program Sertifikasi untuk Penguatan SDM
Sebagai bagian dari perencanaan, pemerintah juga meluncurkan program sertifikasi yang bertujuan meningkatkan kompetensi para pengelola koperasi desa. Program ini diharapkan dapat memberikan peningkatan kualitas SDM hingga mencapai 30 ribu manajer Kopdeskel Merah Putih. Sertifikasi mencakup berbagai bidang seperti manajerial, pengelolaan usaha, tata kelola koperasi, dan keuangan. “Dengan Topics Covered ini, kita bisa memastikan setiap manajer memiliki kemampuan yang sesuai dengan tanggung jawabnya,” tambah Ferry.
Program sertifikasi juga akan mencakup pelatihan intensif untuk bendahara koperasi, sehingga menjamin koordinasi yang lebih baik antara manajer dan pengelola keuangan. Fasilitas pendidikan ini akan dilaksanakan di Komando Latihan (Kolat) Kementerian Pertahanan, dengan durasi sekitar 15 hari atau 90 jam pelajaran. “Topics Covered ini merupakan langkah strategis untuk menjadikan koperasi sebagai pilar ekonomi masyarakat yang kuat,” paparnya.
Kualifikasi Profesional dan Tantangan Reformasi
Farida Farichah, Wakil Menteri Koperasi, menambahkan bahwa pemilihan manajer Kopdeskel Merah Putih bukan hanya berdasarkan kemampuan kerja, tetapi juga kualifikasi profesional. “Setiap manajer harus memiliki dasar pengetahuan yang kuat agar mampu memimpin dengan efektif,” jelasnya. Pemerintah juga mempertimbangkan pengalaman kerja dan komitmen terhadap pengembangan Kopdeskel sebagai faktor penting dalam pemilihan.
Reformasi ini menimbulkan tantangan, terutama dalam memastikan keberlanjutan program sertifikasi dan pelatihan. Menurut Farida, para manajer harus mampu memahami karakteristik usaha lokal, termasuk peran kelembagaan dalam menjaga stabilitas ekonomi desa. “Topics Covered ini adalah bagian dari transformasi sistem koperasi menuju lebih profesional,” katanya. Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan kebangsaan dalam membentuk manajer yang memiliki integritas dan kesadaran sosial.
Langkah Strategis untuk Koperasi Berkelanjutan
Sebagai bagian dari strategi pemerintah, program pelatihan dan sertifikasi ini dirancang agar Kopdeskel Merah Putih dapat beroperasi secara berkelanjutan. Dengan mendapatkan pengetahuan yang lebih luas, manajer dan bendahara koperasi diharapkan mampu menjawab tantangan pasar, seperti kompetisi dengan usaha skala besar atau perubahan kebijakan pemerintah. “Topics Covered ini akan menjadi dasar bagi pertumbuhan koperasi dalam jangka panjang,” tambah Ferry.
Dalam pengelolaan kebijakan, pemerintah juga memperhatikan kepuasan para manajer Kopdeskel. Dengan memastikan mereka memiliki sertifikasi dan pelatihan yang memadai, diharapkan muncul pengelola koperasi yang lebih mandiri dan profesional. “Kita tidak hanya menyiapkan kompetensi, tetapi juga membangun sistem penilaian yang transparan untuk memilih manajer terbaik,” ujarnya. Langkah ini menjadi bagian dari upaya transformasi Kopdeskel menjadi institusi yang lebih modern dan adaptif.
Sejumlah manajer Kopdeskel telah memberikan tanggapan positif terhadap program ini. Mereka menyatakan bahwa pelatihan dan sertifikasi akan meningkatkan kredibilitas mereka di mata masyarakat. Namun, ada juga yang mengkhawatirkan adanya risiko kehilangan keleluasaan dalam pengambilan keputusan. “Dengan Topics Covered ini, kita bisa lebih yakin bahwa Kopdeskel akan terus berkembang,” kata salah satu manajer Kopdeskel. Pemerintah menegaskan bahwa rencana ini akan dievaluasi berkala untuk memastikan keberhasilannya.

