Teror Pesta Berlin Pride: Menteri Dalam Negeri Jerman Sorot Kelompok Islamis sebagai Pelaku
Dailynesia.com – Teror Pesta Berlin Pride menjadi perhatian dunia setelah keributan besar melanda perayaan Christopher Street Day (CSD) atau Berlin Pride yang berlangsung tahunan. Menteri Dalam Negeri Jerman, Alexander Dobrindt, mengumumkan bahwa seluruh bukti telah berhasil dikumpulkan terkait teror yang terjadi pada Sabtu malam, 26 Juli 2026. Berdasarkan temuan awal, serangan tersebut diduga dilakukan oleh kelompok beraliran Islamis yang memiliki keterkaitan dengan jaringan radikal di Berlin.
Dobrindt menjelaskan bahwa tersangka utama memiliki riwayat keterlibatan dalam tindak pidana sebelumnya. Selain itu, individu tersebut juga tercatat pernah mengalami proses radikalisasi dan memiliki hubungan dengan organisasi Islamis. “Kami menghadapi seorang tersangka yang sebelumnya telah beberapa kali terlibat dalam tindak kriminal, radikalisasi, dan memiliki afiliasi dengan kelompok Islamis,” kata Dobrindt dalam konferensi pers di dekat lokasi kejadian, sebagaimana dikutip Reuters pada Minggu, 27 Juli 2026.
Kronologi Serangan dan Respons Pemerintah
Pemerintah federal Jerman telah memberikan pengarahan kepada seluruh 16 negara bagian terkait insiden tersebut. Mereka disarankan untuk meninjau kembali langkah-langkah keamanan untuk acara-acara besar, termasuk perayaan Pride yang akan datang. “Tidak dapat dikesampingkan bahwa tindakan mengerikan seperti itu, serangan teroris seperti itu, dapat menginspirasi peniru,” tambah Dobrindt dengan serius.
Kronologi kejadian dimulai sekitar pukul 22.00 waktu setempat atau 20.00 GMT/03.00 WIB. Sebuah kendaraan melaju kencang ke arah taman Tiergarten, menerjang kerumunan massa, dan baru berhenti setelah menghantam sebuah pohon. Aksi tersebut menewaskan satu orang dan menyebabkan 17 orang lainnya luka-luka. Pihak kepolisian setempat mengonfirmasi bahwa beberapa korban saat ini berada dalam kondisi kritis.
“Mobil ditemukan dalam keadaan kosong. Saat ini kami bekerja secara intensif untuk melacak keberadaan pelaku,” ujar juru bicara kepolisian Berlin di lokasi kejadian, dikutip dari Reuters, Minggu (26/7/2026).
Identifikasi Pelaku dan Perincian Korban
Saksi mata yang dikutip media lokal menyebutkan bahwa pelaku mengendarai van berwarna putih. Setelah menabrakkan mobilnya, ia keluar dari kendaraan dan melarikan diri dengan berjalan kaki. Pihak berwenang telah mengidentifikasi terduga pelaku yang saat ini menjadi buronan utama. Diduga pelaku yang masih diburu ini merupakan bagian dari kalangan simpatisan kelompok Islamis di Berlin.
Dinas Pemadam Kebakaran Berlin mengonfirmasi eskalasi jumlah korban pascainsiden. Dari 17 korban luka-luka, delapan di antaranya mengalami luka berat, dengan tiga mengalami kondisi sangat kritis. Sementara itu, sembilan orang mengalami luka ringan hingga sedang. Adapun satu orang dinyatakan tewas dalam insiden yang mengejutkan ini.
Dampak Terhadap Perayaan dan Insiden Sebelumnya
Insiden ini seketika menghentikan perayaan CSD, salah satu parade LGBTQ terbesar di Eropa yang memperingati Pemberontakan Stonewall 1969. Acara yang mulanya berlangsung damai dan dihadiri ratusan ribu orang tersebut berubah menjadi kepanikan massal. “Ini adalah salah satu hari terburuk bagi komunitas queer dan hari yang paling saya harapkan tidak pernah terjadi. Saya sangat terkejut,” ungkap Julian Miethig, salah satu peserta acara di lokasi.
Aksi penabrakan massa menggunakan kendaraan menambah daftar panjang insiden keamanan serupa yang menghantam Jerman dalam beberapa tahun terakhir. Pada Mei 2026, mobil menerjang area pejalan kaki yang menyebabkan dua tewas dan tiga luka berat di Leipzig. Pelaku diduga mengalami masalah kesehatan mental yang memicu aksinya.
Pada 2025 lalu, ada dua insiden di Mannheim dan Munich. Pria 40 tahun dengan gangguan psikologis menabrak pejalan kaki dan menyebabkan dua tewas di Mannheim. Sementara itu, warga Afganistan menabrak demonstrasi serikat buruh yang menyebabkan dua tewas dan lebih dari 40 luka-luka di Munich. Pada Desember 2024, serangan penabrakan di Pasar Natal oleh seorang psikiater asal Arab Saudi menyebabkan beberapa orang tewas di Magdeburg.
Teror Pesta Berlin Pride ini menjadi pengingat penting bagi seluruh masyarakat Jerman tentang ancaman keamanan yang terus berkembang. Pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan sistem keamanan dan koordinasi antar lembaga dalam menghadapi potensi ancaman serupa di masa depan.

