Tetangga RI Waspada, Kasus Flu Burung Mematikan Terdeteksi

1 month ago  ·  3 min read
By Elizabeth Lopez - dailynesia.com
6a2a1c2a-9294-4f17-96b2-360012303448-0

Tetangga RI Waspada, Kasus Flu Burung Mematikan Terdeteksi

Dailynesia.com – Dalam rangka menangkal ancaman virus H5N1, Pemerintah Australia mengumumkan pelaksanaan special plan yang lebih intensif. Penemuan kasus infeksi pada burung petrel raksasa utara di Wilayah Barat menjadi perhatian utama setelah sebelumnya strain virus tersebut terdeteksi pada burung skua cokelat di wilayah yang sama. Special plan ini dirancang untuk memantau dan mengendalikan penyebaran virus dengan memperkuat sistem kewaspadaan serta koordinasi antar lembaga.

Langkah Tindak Lanjut dalam Special Plan

“Kami sedang berupaya untuk menentukan apakah flu burung H5 telah menyebar di satwa liar atau di Australia, selain dari dua burung terisolasi ini,” ujar Collins kepada wartawan, seperti dikutip Australian Associated Press (AAP).

Peringatan yang diberikan oleh Menteri Lingkungan Hidup Australia, Murray Watt, menekankan pentingnya masyarakat menjaga jarak dengan burung sakit atau mati. Special plan ini tidak hanya fokus pada surveilans, tetapi juga mencakup rencana kesiapsiagaan untuk mengantisipasi kemungkinan penyebaran ke populasi unggas komersial. Meski belum ada kasus di peternakan, langkah pencegahan yang diterapkan oleh pemerintah menggambarkan respons yang serius.

Perluasan Lingkup Pemantauan dan Pertanian

Kekhawatiran semakin meningkat setelah lebih dari satu belas laporan burung sakit atau mati diterima oleh otoritas setempat. Special plan mengharuskan pihak terkait mengidentifikasi sumber penyebaran serta mengambil langkah-langkah ekstra untuk melindungi spesies rentan. Selain itu, sektor pertanian menjadi target utama, terutama karena potensi penularan ke unggas komersial yang bisa mengakibatkan kerugian besar.

Perusahaan produsen ayam terbesar di Australia, Inghams Group, langsung memperketat langkah pencegahan di seluruh fasilitasnya. Mereka menerapkan penguncian total di peternakan dan fasilitas pengolahan, membatasi akses hanya untuk keperluan kritis. Special plan juga mendorong pemerintah daerah menerbitkan perintah regional untuk memastikan unggas berkembang biak ditempatkan di kandang tertutup, sebagai upaya mengurangi risiko infeksi.

Kepala Petugas Veteriner Australia, Beth Cookson, menjelaskan bahwa negara ini sudah lama bersiap menghadapi ancaman H5N1. Sebelumnya, Australia menjadi satu-satunya benua yang belum terjangkit strain tersebut. Dengan special plan, pihaknya ingin memastikan penyebaran virus tidak berlanjut ke populasi satwa liar yang lebih luas.

Kesiapsiagaan dan Dana Penunjang

Dalam upaya memperkuat special plan, pemerintah federal Australia mengalokasikan dana sekitar US$100 juta atau setara Rp1,78 triliun untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Dana ini digunakan untuk pengujian lebih luas, pelatihan petugas, dan penguatan sistem pelaporan. Pemantauan intensif dilakukan di wilayah seperti Pulau Heard dan Pulau McDonald, yang menjadi habitat kembang biak sub-Antarktika.

Kasus infeksi H5N1 di wilayah tersebut menyebabkan kematian sekitar 13.359 anak anjing laut gajah selatan. Special plan telah menyusun lebih dari 100 rencana respons untuk lokasi strategis, termasuk fasilitas peternakan dan area konservasi. Langkah ini mencerminkan upaya terpadu untuk memutus rantai penyebaran virus sejak dini.

Peringatan Ilmuwan dan Kebutuhan Kemitraan

Penemuan ini memicu kekhawatiran ilmuwan dan organisasi konservasi. Peneliti dari Universitas Melbourne, Michelle Wille, mengingatkan bahwa pengalaman negara lain menunjukkan dampak H5N1 bisa sangat merusak, seperti lebih dari 200 juta ekor ayam yang dimusnahkan di Amerika Serikat sejak wabah menyebar. Special plan diharapkan menjadi pedoman untuk mengurangi kerentanan di sektor pertanian dan lingkungan.

Strategi special plan juga mencakup kolaborasi dengan pihak internasional untuk berbagi data dan pengalaman. Kementerian Pertanian dan Lingkungan Hidup Australia berkomitmen untuk menjaga kestabilan ekosistem dan industri unggas dengan mengintegrasikan tindakan pencegahan yang proaktif. Dengan special plan, pemerintah ingin menjadi contoh dalam pengelolaan risiko epidemiik yang berpotensi global.

MORE FROM THIS CATEGORY