Rupiah Lemah-Biaya Operasional Naik, Bos Mal Pilih Lakukan Langkah Ini

2 months ago  ·  2 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
ketua-umum-asosiasi-pengelola-pusat-belanja-indonesia-appbi-alphonzus-widjaja-dalam-peluncuran-program-bina-holiday-back-to-sc-1780919964218_169

Special Plan: Rupiah Melemah, Biaya Operasional Naik, Strategi Mall Diambil

Dailynesia.com – Di tengah tekanan rupiah yang terus melemah, para pengelola pusat perbelanjaan (mall) di Indonesia tengah menyusun Special Plan untuk mengatasi kenaikan biaya operasional. Langkah ini diperlukan guna memastikan kelangsungan usaha dan mempertahankan daya beli konsumen. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, dalam acara peluncuran program BINA Holiday & Back to School di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (8/6/2026).

“Kenaikan biaya operasional terasa jelas akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang memengaruhi harga bahan bakar, logistik, dan biaya impor,” jelas Alphonzus. “Dengan Special Plan, kami mencoba meminimalkan dampak negatif ini melalui berbagai inisiatif promosi dan optimisasi pengelolaan anggaran.”

Pengelola mall memilih tidak langsung menaikkan tarif penyewa atau konsumen, melainkan fokus pada strategi Special Plan yang lebih proaktif. Kenaikan biaya logistik, terutama bahan bakar seperti CNG, dan biaya kegiatan operasional yang meningkat memaksa para pengelola menyusun rencana khusus untuk meningkatkan volume penjualan. “Kami menghadapi tekanan besar, tetapi Special Plan memberi ruang untuk menyesuaikan tarif secara bertahap agar tidak menghambat konsumsi,” tambah Alphonzus.

Tantangan Global dan Domestik dalam Biaya Operasional

Dampak pelemahan rupiah tidak hanya terasa di sektor ritel, tetapi juga menyebabkan kenaikan biaya operasional di berbagai wilayah. Alih-alih meningkatkan harga jual, APPBI mengatakan pengelola mall lebih memilih mengoptimalkan Special Plan untuk menarik lebih banyak pengunjung dan mengurangi beban keuangan. “Beberapa daerah mengalami peningkatan pajak setelah dana alokasi dari pusat dikurangi, sehingga Special Plan menjadi alat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi,” kata Alphonzus.

Musim low season yang berlangsung lebih awal tahun ini juga memperparah situasi. Kuartal kedua dan ketiga menjadi periode yang paling tidak produktif, dengan penjualan turun drastis. Namun, pengelola mall berupaya menutupi tekanan ini melalui Special Plan yang lebih intensif. “Kami berharap strategi ini bisa memperkuat pertumbuhan ekonomi dan menjaga kepercayaan konsumen di tengah ketidakstabilan ekonomi,” tuturnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Special Plan di sektor ritel semakin terkoordinasi dan mengakomodasi kebutuhan konsumen. Program promosi seperti BINA Holiday dan Back to School tidak hanya menjadi bagian dari strategi rutin, tetapi juga diadaptasi untuk memenuhi tantangan ekonomi yang terjadi. “Penguatan Special Plan tahun ini diharapkan bisa menjadi jembatan bagi konsumen dan pengelola mall dalam menjaga keberlanjutan bisnis,” jelas Alphonzus.

Banyak pengelola mall juga menggandeng mitra lokal untuk memperkuat Special Plan mereka. Kemitraan ini mencakup kerja sama dengan penyewa, pelaku UMKM, dan perusahaan logistik guna menekan biaya serta meningkatkan efisiensi. “Dengan menggandeng pihak-pihak lokal, kami bisa mengurangi risiko ketergantungan pada mata uang asing dan memastikan Special Plan berjalan secara optimal,” tambah Alphonzus.

Sebagai bagian dari Special Plan, APPBI juga mendorong pengelola mall untuk beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen. Masyarakat semakin sensitif terhadap harga dan promo, sehingga pengelola mall harus menciptakan inisiatif yang menarik dan relevan. “Kami ingin Special Plan ini tidak hanya sekadar menurunkan harga, tetapi juga meningkatkan pengalaman belanja konsumen,” pungkas Alphonzus.

MORE FROM THIS CATEGORY