Daftar 20 Negara dengan Utang Tertinggi di Dunia, Ada 3 Tetangga RI

3 months ago  ·  4 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
10-besar-negara-dengan-utang-terbesar-di-dunia-1763453259502_169

Special Plan: Daftar 20 Negara dengan Utang Tertinggi Dunia, Tiga Negara Tetangga Indonesia Masuk

Dailynesia.com – Dalam Special Plan terbaru, rasio utang global terus meningkat, dengan sejumlah negara mencatat angka melebihi 300% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menunjukkan bahwa utang negara-negara tersebut mencapai tiga kali lipat dari nilai perekonomian tahunan mereka. Laporan Global Debt Monitor dari Institute of International Finance (IIF) kuartal IV-2025 menyoroti utang dari berbagai sektor, termasuk rumah tangga, perusahaan, dan pemerintah, sebagai indikator utama kesehatan ekonomi.

Utang Hong Kong: 380% dari PDB

Wilayah administratif khusus Tiongkok, Hong Kong, menempati posisi pertama dengan utang mencapai 380% dari PDB. Meski utang pemerintah hanya sekitar 67% dari PDB, kontribusi utang korporasi yang mencapai 227% dari PDB menjadi faktor dominan. Special Plan ini mengungkapkan bahwa keandalkan ekonomi Hong Kong pada sektor properti dan keuangan membuat utang pribadi serta perusahaan berkembang pesat.

“Beban utang korporasi Hong Kong yang tinggi terkait erat dengan ekspansi perumahan dan investasi di pasar keuangan,” menurut laporan Visual Capitalist. Kebijakan pemerintah yang menekankan stabilitas keuangan juga mengakibatkan pertumbuhan utang yang terus berlanjut meski ekonomi kota tersebut menghadapi tekanan global.

Dalam Special Plan, kredibilitas Hong Kong sebagai pusat keuangan Asia menjadi faktor yang diperhitungkan. Meski demikian, ketergantungan pada utang eksportir dan nilai tukar dolar Hong Kong menyebabkan risiko kesulitan pembayaran yang membesar.

Utang Jepang: 372% dari PDB

Jepang, negara dengan utang kedua tertinggi, mencatat rasio 372% dari PDB. Mayoritas utang ini berasal dari pemerintah, mencapai 199% dari PDB, sebagai hasil dari kebijakan stimulus yang berkelanjutan. Special Plan menunjukkan bahwa kondisi ini terus berkembang sejak krisis ekonomi di awal 1990-an, ketika harga aset meledak dan mengakibatkan penurunan tajam produksi.

“Kebijakan moneter yang longgar dan program belanja pemerintah mengakibatkan utang menumpuk, terutama selama periode pascapandemi,” papar analis dari IIF. Jepang tetap menjaga stabilitas dengan berbagai mekanisme, tetapi pengelolaan utang yang semakin kompleks menimbulkan kekhawatiran tentang keberlanjutan ekonomi.

Dalam Special Plan, Jepang menjadi contoh negara maju yang menghadapi tantangan pemerintah dalam mengatur utang. Meski begitu, ekonomi Jepang tetap stabil karena perekonomian besar dan kebijakan fiskal yang terencana.

Utang Negara Asia Tenggara

Di samping Hong Kong dan Jepang, sejumlah negara Asia Tenggara juga masuk dalam daftar Special Plan utang tinggi. Singapura, Prancis, Kanada, dan Tiongkok terdaftar sebagai negara dengan rasio utang melebihi 300%, sementara Indonesia mencatat 79% dari PDB.

“Beban utang di Singapura dominan dari sektor korporasi, terutama karena ketergantungan pada perdagangan global,” terang laporan IIF. Prancis dan Kanada mencatat utang sekitar 326% dan 315% dari PDB, masing-masing. Sementara itu, Tiongkok yang masuk dalam kategori negara berkembang memiliki rasio utang 298%, seiring peningkatan investasi infrastruktur dan konsumsi pemerintah.

Dalam Special Plan, ekonomi Asia Tenggara terlihat lebih stabil dibandingkan negara-negara maju, tetapi beberapa negara tetap menghadapi tekanan dari inflasi dan krisis perbankan. Filipina (96%), Laos (114%), dan Vietnam (161%) juga mencatat angka utang yang tinggi, meski belum mencapai ambang kritis seperti Hong Kong.

Utang Pemerintah Indonesia: 40% dari PDB

Indonesia berada di posisi yang relatif lebih baik dibandingkan negara-negara lain, dengan total utang 79% dari PDB. Dari total tersebut, utang pemerintah mencapai 40%, sedangkan utang korporasi nonkeuangan sekitar 24% dan utang rumah tangga sebesar 15%. Special Plan menyoroti bahwa pertumbuhan utang di Indonesia terkendali, terutama karena kebijakan moneter yang konservatif dan pengendalian defisit anggaran.

“Kebijakan pemerintah Indonesia dalam mengatur utang memperlihatkan strategi yang lebih ketat dibandingkan negara-negara tetangga,” kata ekspertis dari CNBC Indonesia. Meski demikian, kenaikan harga bahan bakar dan inflasi terus memperkuat kebutuhan akan pinjaman dalam tahun-tahun mendatang.

Dalam Special Plan, Indonesia menjadi negara Asia Tenggara dengan utang paling rendah, menunjukkan ketahanan perekonomian yang lebih baik. Namun, kenaikan utang pemerintah terus terjadi karena peningkatan investasi infrastruktur dan subsidi untuk sektor produktif.

Konteks Global: Perbandingan dan Tantangan

Penelitian Special Plan menunjukkan bahwa krisis global dan pandemi memperparah beban utang di hampir seluruh dunia. Negara-negara berkembang, khususnya, terkena dampak yang lebih besar karena ketergantungan pada ekspor dan daya beli konsumen. Sementara itu, negara maju memiliki akses lebih luas ke pasar keuangan internasional, memungkinkan mereka menutupi defisit fiskal dengan kebijakan stimulus.

“Perbandingan utang global menunjukkan bahwa negara-negara Asia Tenggara memiliki beban lebih ringan dibandingkan Eropa atau Asia Timur,” tulis analis CNBC Indonesia. Namun, pertumbuhan utang di Indonesia tetap perlu dipantau karena stabilitas perekonomian kian tergantung pada kinerja ekspor dan sektor energi.

Dalam Special Plan, Indonesia dianugerahi peringkat utang yang lebih baik dibandingkan negara-negara tetangga seperti Filipina dan Thailand. Ini menunjukkan bahwa kebijakan fiskal yang ketat dan tata kelola pemerintahan yang baik masih menjadi faktor penentu dalam mengurangi risiko krisis utang.

Analisis Utang: Tren dan Proyeksi

Analisis dalam Special Plan menyoroti bahwa tren utang global berlanjut karena ekonomi yang semakin dinamis

MORE FROM THIS CATEGORY