Airlangga: Ekspor Lewat DSI Berlaku Mekanisme QQ, Ini Penjelasannya
Implementasi DSI Sebagai BUMN Eksportir SDA Strategis
Dailynesia.com – Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) akan memulai operasional penuh sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berperan dalam ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) strategis pada 1 Januari 2027. Dalam fase awal, perusahaan ini akan fokus pada pengelolaan komoditas utama ekspor seperti batu bara, kelapa sawit, dan paduan besi (ferro alloy). Airlangga menegaskan bahwa DSI akan bertindak sebagai mitra ekspor dalam sistem Indonesia National Single Window (INSW), yang dioperasikan oleh Lembaga National Single Window (LNSW) di bawah Kementerian Keuangan. Dengan demikian, DSI akan berfungsi sebagai entitas yang bekerja sama dengan eksportir utama, bukan sebagai pemegang hak eksklusif.
Dalam rangka penerapan peran baru DSI, pemerintah telah mengatur mekanisme khusus dalam sistem bea cukai. Mekanisme ini dirancang untuk memastikan proses ekspor berjalan terstruktur, dengan melibatkan empat pihak utama: eksportir, pemilik barang, importir, serta penerima barang. Untuk tahap awal, Airlangga menjelaskan bahwa eksportir dan pemilik barang harus melakukan registrasi melalui INSW, yang sudah mencantumkan DSI sebagai mitra eksportir. “Ini bertujuan untuk menyelaraskan data ekspor dengan kontrol yang lebih ketat,” tambahnya.
Mekanisme QQ dalam Proses Eksportir
Airlangga mengatakan bahwa dalam skema ini, mekanisme QQ (Qualitate Qua) akan diterapkan. Mekanisme ini memungkinkan eksportir mengalihkan proses pelaporan ekspor ke PT DSI. “Dengan QQ, perusahaan-perusahaan yang sebelumnya mengirimkan barang ke luar negeri dapat mendaftarkan kegiatan mereka melalui DSI,” ujar Airlangga, seperti dikutip pada Selasa (26/5/2026). Menurutnya, QQ berarti bahwa DSI akan menjadi entitas yang menerima data ekspor secara langsung dari eksportir, sementara eksportir utama tetap menjalankan fungsi operasionalnya.
“Jadi, perusahaan-perusahaan yang saat ini melakukan ekspor QQ kepada DSI,” jelasnya.
Dalam menjelaskan detail mekanisme, Airlangga menyatakan bahwa pelaporan ekspor seluruhnya akan diserahkan ke PT DSI. Hal ini bertujuan untuk mempercepat proses verifikasi dan memastikan transparansi dalam pengelolaan komoditas strategis. “Kita akan fokus pada tiga bulan pertama untuk menguji sistem ini secara menyeluruh,” lanjutnya.
Proses Evaluasi Sebelum Penerapan Penuh
Mekanisme QQ akan berlaku sebelum penerapan penuh DSI sebagai eksportir utama. Airlangga menegaskan bahwa evaluasi akan dilakukan secara paralel selama tiga bulan berikutnya, setelah masa percobaan selesai. “Kita akan mengevaluasi kinerja DSI dalam tiga bulan pertama, lalu mengulang proses evaluasi untuk tiga bulan berikutnya sebelum implementasi penuh pada 1 Januari 2026,” terangnya.
Langkah ini diambil karena pemerintah ingin memastikan bahwa DSI mampu mengelola ekspor secara efisien tanpa mengganggu kerja sama yang sudah ada. Airlangga juga menekankan bahwa perusahaan yang terlibat dalam kontrak bisnis kecil-menengah (B2B) dapat terus menjalankan aktivitas ekspor mereka selama tidak melanggar aturan yang berlaku. “Ini penting karena waktu yang dibutuhkan sangat mendesak, dan kami ingin mempercepat pengembangan ekspor SDA strategis,” tambahnya.
Pemantauan Kontrak Eksportir untuk Meminimalkan Risiko
Airlangga memastikan bahwa kontrak antara eksportir dan pembeli tetap valid selama tidak menyalahi prinsip-prinsip regulasi. Salah satu contoh yang disebutkan adalah kecurangan underinvoicing, yaitu saat nilai barang diinvoice lebih rendah dari seharusnya untuk mengurangi pajak. “Kami memantau kegiatan eksportir agar tidak ada praktek yang merugikan kepentingan negara,” tegasnya.
Dengan mekanisme QQ, pemerintah berharap mampu memperkuat kontrol terhadap ekspor komoditas strategis, terutama yang memiliki dampak besar terhadap perekonomian nasional. Airlangga menyebutkan bahwa DSI akan berperan sebagai “pemantau dan penyalur” data ekspor, sementara eksportir utama tetap bertanggung jawab atas pengiriman fisik dan kepatuhan terhadap regulasi.
Konteks Penggunaan Sistem INSW dalam Eksportir
Sistem INSW dianggap sebagai alat utama dalam integrasi layanan pemerintah untuk ekspor. LNSW, sebagai pengelola sistem ini, akan menjadi pihak yang menghubungkan eksportir dengan DSI. Airlangga menjelaskan bahwa INSW akan memastikan semua data terkait ekspor masuk ke dalam database yang terstandarisasi, sehingga memudahkan pengawasan. “Dengan sistem ini, kita bisa mengurangi kebingungan administratif dan meningkatkan efisiensi,” kata Airlangga.
Proses pendaftaran melalui INSW juga dirancang untuk menghindari kegandaan pelaporan. Eksportir hanya perlu melakukan satu kali pendaftaran, dan DSI akan menerima data dari sistem tersebut. Hal ini diperkirakan dapat mengurangi waktu dan biaya yang diperlukan untuk ekspor, terutama bagi perusahaan yang bergerak dalam komoditas strategis.
Manfaat dan Tantangan Implementasi QQ
Manfaat penggunaan mekanisme QQ antara lain adalah kemudahan bagi eksportir dalam mengakses layanan pemerintah, serta peningkatan akurasi data ekspor. Dengan DSI sebagai mitra, pemerintah dapat memastikan bahwa semua transaksi ekspor dilacak secara real-time dan tidak ada kebocoran informasi. Airlangga juga menyebutkan bahwa mekanisme ini akan membantu pemerintah dalam mengambil keputusan yang lebih cepat terkait kebijakan ekspor.
Tantangan yang mungkin muncul adalah adanya ketergantungan eksportir terhadap D

