Dailynesia.com – “`html
Ribuan Yahudi Radikal Terobos Masuk Masjid Al-Aqsa, Lakukan Ritual Tisha B’Av
Ribuan Yahudi Radikal Terobos Masuk Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur pada Kamis (23/7/2026) dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jumlah warga Israel yang memasuki kawasan tersebut mencapai 4.288 orang, dengan proyeksi melampaui 5.000 orang menjelang matahari terbenam. Sebanyak lebih dari 4.200 pemukim bersama anggota kelompok sayap kanan Israel berhasil menembus masuk ke dalam kompleks suci tersebut. Aksi penerobosan ini merupakan yang terbesar sepanjang tahun 2026 dan digelar secara khusus untuk memperingati hari raya Tisha B’Av yang jatuh pada tanggal tersebut.
Penerobosan Massal Pemukim Israel ke Kompleks Masjid Al-Aqsa
Kejadian Ribuan Yahudi Radikal Terobos Masuk Masjid Al-Aqsa ini menarik perhatian dunia internasional. Para pemukim Israel yang datang dari berbagai penjuru Israel berhasil melewati berbagai pos pemeriksaan keamanan yang didirikan oleh aparat Israel. Mereka memasuki kompleks suci melalui beberapa pintu gerbang yang berbeda, termasuk pintu Bab Al-Rahmah dan pintu Bab Al-Magharibah. Kehadiran mereka di kawasan masjid ini tidak hanya dalam jumlah besar, tetapi juga disertai dengan persiapan ritual yang matang dan terorganisir.
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, juga hadir dalam penerobosan tersebut dengan diiringi pengawalan kepolisian yang ketat. Kehadiran tokoh politik senior ini menunjukkan dukungan resmi pemerintah Israel terhadap aksi para pemukim. Aparat keamanan Israel menerapkan pembatasan ketat di seluruh pintu gerbang. Langkah ini membuat sebagian besar jamaah Palestina serta pelajar tidak dapat memasuki lokasi. Beberapa jamaah bahkan dilaporkan diserang saat berada di dalam kompleks, menambah ketegangan yang sudah ada sejak lama.
Keterlibatan Tokoh Politik dan Pengawasan Ketat
Para pemukim Israel melaksanakan ritual Talmud di dalam kawasan masjid dengan penuh khidmat. Kegiatan tersebut meliputi berlutut, bernyanyi, dan berdoa secara terbuka di berbagai titik strategis dalam kompleks. Media Israel mencatat bahwa polisi memberikan izin kepada lebih dari 1.000 warga Israel untuk melakukan ibadah di situs suci tersebut. Ritual-ritual ini dilakukan dengan membawa kitab suci dan alat-alat peribadatan tradisional yang telah disiapkan sebelumnya.
Kehadiran para pemukim ini juga disertai dengan pemasangan bendera Israel di beberapa titik dalam kompleks. Hal ini menjadi simbol visual yang kuat tentang klaim mereka terhadap tempat suci tersebut. Para pemukim juga membawa spanduk dan poster yang berisi pesan-pesan keagamaan dan politik. Suasana di dalam kompleks menjadi sangat ramai dengan kehadiran ribuan orang yang melakukan berbagai aktivitas keagamaan.
Reaksi dan Pernyataan Resmi
Ben-Gvir memberikan apresiasi terhadap kehadiran warga Yahudi di lokasi tersebut. Ia menyatakan bahwa para pengunjung merasa seperti pemilik sah tempat suci ini. Menteri tersebut juga memuji apa yang ia sebut sebagai kemajuan luar biasa di Al-Aqsa. Pernyataan ini menuai kritik dari berbagai pihak yang menganggapnya sebagai upaya mengubah status quo yang telah berlaku selama puluhan tahun.
“Warga Yahudi yang mengunjungi situs ini pada Tisha B’Av merasa seperti pemiliknya,” ujar Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir.
Tindakan ibadah non-Muslim tersebut dianggap melanggar status quo yang disepakati sejak tahun 1967. Kesepakatan tersebut melarang kegiatan ibadah selain umat Islam di tempat suci ketiga umat Islam tersebut. Pemerintah Kota Yerusalem mengecam kehadiran Ben-Gvir sebagai eskalasi berbahaya. Tindakan ini mencerminkan dukungan resmi dari pemerintah Israel terhadap penerobosan tersebut. Para pejabat Yerusalem khawatir bahwa kehadiran para pemukim dalam jumlah besar dapat memicu ketegangan yang lebih luas.
“Incursions atau penerobosan ini merupakan eskalasi berbahaya yang dirancang untuk memaksakan pembagian waktu dan ruang di situs suci. Kompleks Al-Aqsa tetap menjadi tempat ibadah eksklusif umat Islam di mana Israel tidak memiliki kedaulatan hukum,” tegas Presidensi Palestina dalam pernyataan resminya.
Kritik Internasional dan Peringatan Hamas
Kelompok Hamas mengeluarkan peringatan keras terkait tindakan agresi yang mencolok tersebut. Hamas menyatakan bahwa aksi ini akan berbalik menghantam pihak pendudukan serta para pemukimnya. Pernyataan ini disampaikan melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk media sosial dan konferensi pers. Kelompok ini juga mengancam akan melakukan tindakan balasan jika penerobosan terus berlanjut.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Yordania juga mengutuk keras penerobosan ini. Yordania, sebagai penjaga situs suci Islam di Yerusalem, merasa bertanggung jawab untuk melindungi kepentingan umat Islam. Pernyataan resmi dari Yordania menekankan pentingnya menjaga status quo dan mencegah eskalasi lebih lanjut.
“Kunjungan ini merupakan penodaan terhadap kesucian masjid, sebuah eskalasi, tindakan barbar, dan provokasi yang tidak dapat diterima,” tegas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Yordania Duta Besar Fouad Majali.
Jurnalis yang berada di lapangan melaporkan bahwa keterlibatan tokoh-tokoh Partai Likud yang berkuasa menandai pergeseran politik fundamental dalam pemerintahan Israel. Pihak Palestina dan pimpinan Muslim menilai bahwa seruan untuk membangun kembali kuil Yahudi kini telah didukung langsung oleh pejabat kunci di parlemen Israel. Hal ini menunjukkan adanya perubahan arah kebijakan Israel terhadap Yerusalem.
Ancaman pencerobosan diperkirakan akan terus berlanjut hingga hari Jumat. Situasi ini berpotensi memicu bentrokan susulan yang lebih luas. Kementerian Urusan Agama Palestina mendesak komunitas internasional untuk segera menekan Israel agar menghentikan seluruh pelanggaran di situs suci Yerusalem. Masyarakat internasional diharapkan memberikan respons yang tegas terhadap tindakan-tindakan yang dianggap provokatif.
Kehadiran Ribuan Yahudi Radikal Terobos Masuk Masjid Al-Aqsa ini juga mendapat perhatian dari berbagai negara di dunia. Beberapa negara Arab dan Muslim telah menyampaikan protes melalui saluran diplomatik. Mereka khawatir bahwa tindakan Israel dapat mengubah keseimbangan politik di kawasan Timur Tengah. Para pengamat internasional juga memantau perkembangan situasi dengan cermat untuk melihat apakah akan ada eskalasi lebih lanjut.
“`

