RI Kembangkan Bahan Bakar Baru Hidrogen, Berapa Harganya?

1 week ago  ·  2 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
13079623-3976-4c1a-a7ad-739d982be345-0

Hidrogen Masih Mahal di Indonesia, Tapi Diprediksi Akan Kompetitif

Tantangan Harga Energi Baru Terbarukan

Dailynesia.com – Jakarta mencatat perkembangan penting dalam sektor energi nasional. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa produksi hidrogen di tanah air saat ini menanggung biaya yang lebih besar daripada berbagai jenis energi lainnya. Kondisi ini bahkan menempatkan harga hidrogen di atas nilai keekonomian biodiesel 50% (B50), yang selama ini menjadi program unggulan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyoroti perbandingan harga tersebut sebagai hambatan signifikan bagi pertumbuhan ekosistem energi baru terbarukan di Indonesia. Dalam paparannya, ia mengaitkan nilai keekonomian hidrogen dengan biaya produksi B50 tanpa subsidi yang tercatat mencapai Rp 18.600 per liter.

“Problemnya adalah hidrogen ini memang biayanya masih mahal dibandingkan dengan produk energi lain,” ujar Bahlil dalam acara Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta, dikutip Kamis (23/7/2026).

Prospek Jangka Panjang Hidrogen

Berdasarkan diskusi dengan tim riset internal, Bahlil menegaskan bahwa energi yang dihasilkan dari hidrogen masih berada di atas harga bahan bakar nabati tersebut. Pemerintah berkomitmen untuk terus mencari inovasi teknologi yang lebih efisien sehingga harga hidrogen domestik dapat menjadi lebih kompetitif bagi sektor industri maupun transportasi.

Menurut penjelasan menteri, keunggulan hidrogen sebagai energi bersih belum cukup untuk menekan biaya energinya di bawah harga B50. Ia memberikan gambaran bahwa selisih biaya antara B50 non-PSO atau biaya industri berada di kisaran Rp 18.600 per liter, sementara energi hidrogen ternyata masih lebih tinggi.

“Berapa biaya selisih antara B50 non-PSO, non-PSO itu biaya industri itu kan kurang lebih sekitar Rp 18.600 (per liter). Kalau diumpamakan dengan hidrogen ini berapa energinya ternyata masih di atas daripada harga B50. Hidrogen masih agak lebih mahal,” paparnya.

Kondisi harga tinggi ini dipandang sebagai dampak alami dari teknologi yang masih berada pada tahap awal pengembangan di Indonesia. Namun, pihak kementerian optimis bahwa dinamika geopolitik global yang menyulitkan pasokan minyak mentah akan menjadikan hidrogen sebagai alternatif yang lebih rasional dalam beberapa tahun mendatang.

“Tetapi keyakinan saya dengan perang terus terjadi dengan geopolitik yang tidak menentu dan tidak lagi gampang untuk kita mendapatkan minyak di blok-blok yang baru maka tidak akan lama lagi harga hidrogen akan jauh lebih kompetitif dengan sumber-sumber BBM minyak lainnya,” tandasnya.

MORE FROM THIS CATEGORY