Pukulan Telak untuk Netanyahu: Iran Bertahan, Trump Berbalik Arah

1 month ago  ·  3 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
5a0735d6-b4a6-475c-aeb3-b466ecd0eee3-0

Kemenangan Iran dan Perubahan Arah Trump: Ancaman Besar bagi Netanyahu

Dailynesia.com – New Policy, yaitu kebijakan baru yang diperkenalkan oleh pemerintahan Amerika Serikat dan Iran, telah menjadi pukulan telak bagi Benjamin Netanyahu. Kesepakatan sementara ini menandai perubahan drastis dalam hubungan diplomatik antara AS dan Iran, yang sebelumnya menjadi basis utama kekuatan politik Netanyahu. Dengan adanya New Policy, strategi lama Netanyahu yang mengandalkan tekanan militer terhadap Iran kini tergoyahkan. Ini tidak hanya mengancam kebijakan luar negeri Israel, tetapi juga memicu ketegangan dalam pemerintahan AS, khususnya antara Trump dan Netanyahu.

Proses Perundingan New Policy

Proses pembentukan New Policy memakan waktu sekitar empat bulan, selama masa konflik yang memanas antara Iran dan Israel. Kesepakatan ini menunjukkan bahwa Washington lebih memilih pendekatan damai untuk menyelesaikan konflik tersebut, meski awalnya Trump mendukung tindakan keras. New Policy juga mencakup langkah-langkah untuk mengurangi kesenjangan kekuatan antara Iran dan Israel, termasuk penegakan sanksi yang lebih terarah dan pembukaan dialog yang lebih intens. Dalam konteks ini, Netanyahu dikenang sebagai tokoh yang selama ini menjadi pengambil kebijakan utama, tetapi kini terlihat tertinggal dalam perubahan arah strategi Washington.

Analisis dari para pakar menunjukkan bahwa New Policy bukan hanya kebijakan eksternal, tetapi juga mencerminkan kebutuhan internal pemerintahan Trump untuk menyeimbangkan tekanan dari basis politik dalam negeri. Pemimpin Partai Republik, seperti Trump, dinilai menghadapi kritik karena kebijakan luar negerinya yang kontradiktif. Sementara itu, New Policy menjadi alat untuk menenangkan pihak-pihak yang menentang serangan militer terhadap Iran, terutama di kalangan masyarakat sipil dan kelompok keagamaan di AS.

Dampak New Policy pada Hubungan AS-Israel

Dengan New Policy, hubungan antara AS dan Israel terhadap Iran mengalami pergeseran yang signifikan. Netanyahu, yang selama ini menjadi simbol kekuatan politik AS-Israel, kini dilihat sebagai pemimpin yang kurang efektif dalam menghadapi tantangan baru. Kesepakatan ini menegaskan bahwa Trump lebih mengutamakan kepentingan diplomatik daripada tindakan militer, yang mengurangi kontribusi Netanyahu sebagai “pembisik Amerika.” Para mantan pejabat menyatakan bahwa New Policy membawa dampak lebih luas, termasuk perubahan dalam pembagian kekuasaan antara pemerintah AS dan Israel.

“New Policy menunjukkan bahwa Trump kini memilih jalan berbeda dari Netanyahu. Ini bukan sekadar perubahan arah kebijakan, tetapi juga menggambarkan penyesuaian strategi Washington untuk memperkuat hubungan dengan Iran dan menciptakan keseimbangan politik baru,” kata Dennis Ross, mantan pejabat AS. Selain itu, kebijakan ini memberikan ruang bagi negara-negara lain seperti Lebanon dan Mesir untuk mengambil peran lebih aktif dalam konflik Iran-Israel.

Dalam konteks internasional, New Policy berdampak pada peran Iran sebagai aktor utama di Timur Tengah. Iran, yang selama ini dianggap sebagai musuh utama Israel, kini memiliki peluang untuk memperkuat posisi politiknya. Sementara itu, Netanyahu dituduh gagal memenuhi harapan para pendukungnya yang ingin menjaga dominasi Israel di wilayah tersebut. New Policy menjadi bukti bahwa kebijakan luar negeri Israel bisa diubah, terutama jika ada kekuatan besar yang menentangnya.

Analisis Terkini dari Para Ahli

Mantan penasihat Netanyahu, Aviv Bushinsky, menegaskan bahwa New Policy adalah momen kritis dalam sejarah hubungan AS-Israel. Ia menyatakan, “New Policy menimbulkan tekanan besar terhadap Netanyahu, karena ia kehilangan Trump sebagai sekutu strategis. Sekarang, ia harus beradaptasi dengan kebijakan baru yang berbeda dari yang ia pilih selama ini.” Kebijakan ini juga mengubah dinamika dalam pemerintahan Trump, yang sebelumnya mendukung tindakan militer terhadap Iran, tetapi kini lebih fokus pada kerja sama diplomatik.

Reaksi dari pihak internasional terhadap New Policy beragam. Beberapa negara di Timur Tengah, seperti Mesir dan Yordania, menyambut baik kebijakan tersebut karena mengurangi risiko perang regional. Namun, kelompok-kelompok konservatif di Israel dan Amerika Serikat menolak New Policy, menganggapnya sebagai pengorbanan kekuatan untuk kepentingan politik yang lebih luas. Dalam situasi ini, New Policy menjadi pusat perdebatan politik antara pendukung tindakan keras dan pendukung perdamaian.

Sejauh ini, New Policy masih dalam tahap uji coba, tetapi dampaknya sudah terasa. Netanyahu, yang dikenal sebagai politisi yang penuh semangat, kini terpaksa mengakui bahwa kebijakan luar negeri Israel tidak bisa lagi dijalankan sendirian. Dengan Trump yang berubah arah, New Policy menegaskan bahwa kekuatan politik dan ekonomi AS menjadi faktor dominan dalam menentukan arah konflik antara Iran dan Israel. Kebijakan ini juga memberikan harapan bagi negosiasi lebih lanjut antara pihak-pihak yang terlibat.

MORE FROM THIS CATEGORY