Langkah Baru: 2 Kapal Berhasil Tembus Selat Hormuz, “On The Way” China-Pakistan
Dailynesia.com – Dalam bingkai new policy, dua kapal tanker besar yang membawa minyak mentah serta gas alam cair (LNG) berhasil melewati Selat Hormuz setelah beberapa bulan terjebak dalam perang antara AS-Israel dan Iran. Pembaruan ini menunjukkan kemajuan dalam mengatasi gangguan logistik yang terjadi akibat konflik geopolitik, dengan kapal-kapal tersebut menuju Pakistan dan China. New policy ini mengambil peran kritis dalam mempercepat alur distribusi energi di kawasan Timur Tengah, yang sebelumnya terhambat oleh situasi perang.
Konflik dan Pemulihan Jalur Pelayaran
Sebelumnya, wilayah Selat Hormuz menjadi jalur kritis yang mengalami penurunan signifikan karena konflik yang memanas sejak awal tahun 2026. Pada masa tersebut, sekitar 20.000 pelaut terjebak di dalam Teluk, sementara ratusan kapal terpaksa menghentikan operasionalnya. Perubahan new policy memberikan solusi bagi keterlambatan ini, dengan Iran memberikan izin transit khusus untuk kapal-kapal yang kini dapat berlayar kembali.
Menurut data terkini, jumlah perlintasan kapal di Selat Hormuz turun drastis dari 125-140 per hari sebelum konflik menjadi hanya sekitar 30-40 per hari. Namun, berkat new policy yang diterapkan, alur lalu lintas kembali membaik, dengan dua kapal LNG tercatat melintasi perairan tersebut pada hari Senin (25/05/2026). Ini menandai rencana strategis yang telah disusun oleh pihak terkait untuk memperkuat ketergantungan ekonomi dan energi antara China dan Pakistan.
Detil Peralihan dan Penyediaan Energi
Kapal supertanker Very Large Crude Carrier (VLCC) Eagle Verona, yang berbendera Singapura, telah meninggalkan Teluk Irak setelah mengangkut minyak mentah Basrah sejak awal Maret 2026. Kapal ini merupakan bagian dari new policy yang mencakup tujuh VLCC yang diajukan oleh Malaysia kepada Iran. Dari jumlah tersebut, lima kapal telah berlayar, sedangkan satu masih menunggu konfirmasi. Dengan keberhasilan ini, new policy turut memperkuat status China sebagai mitra utama Pakistan dalam pengadaan bahan bakar.
Kapal LNG Al Rayyan, yang berbendera Qatar, juga berhasil melewati perairan strategis tersebut dan sedang menuju China pada 27 Juni 2026. Al Rayyan membawa muatan besar yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi di kawasan Asia Tenggara. Pembaruan new policy ini tidak hanya membantu pengiriman bahan bakar, tetapi juga menunjukkan koordinasi yang lebih baik antara negara-negara produsen dan konsumen dalam situasi krisis.
“On The Way” China-Pakistan” merupakan indikator bahwa new policy telah berjalan efektif, dengan dua kapal tanker menjadi titik awal dari kerja sama yang lebih luas antara kedua negara. Ini berdampak besar pada perekonomian kedua negara, khususnya dalam mempercepat akses ke pasar energi global.
Dalam konteks new policy, pengiriman minyak dan LNG dari Selat Hormuz menjadi bagian dari strategi yang lebih besar, yaitu mengurangi ketergantungan pada jalur laut tradisional yang rentan terhadap ancaman geopolitik. Kapal-kapal yang lolos melewati perairan tersebut sekarang bisa beroperasi tanpa hambatan, yang merupakan hasil dari upaya diplomatis dan logistik yang terus berjalan. Selain itu, new policy ini juga mendorong integrasi ekonomi yang lebih erat dalam kerangka China-Pakistan Economic Corridor (CPEC), sebuah proyek infrastruktur dan energi yang menjadi prioritas kedua pihak.
Pemulihan ini menunjukkan bahwa new policy telah berhasil mengatasi tantangan yang menghambat alur pasokan energi. Dengan dua kapal LNG berhasil berlayar, sektor energi Pakistan kini memiliki cadangan yang lebih stabil, sementara China juga mendapatkan pasokan bahan bakar yang lebih cepat. New policy ini diterapkan sebagai respons terhadap konflik yang terjadi di Timur Tengah, dengan tujuan memastikan keberlanjutan pasokan energi bagi negara-negara yang bergantung pada kawasan tersebut.

