Mengapa PM Inggris Starmer Mundur, Dari Populer Lalu Dibenci Warga?

1 month ago  ·  3 min read
By James Lopez - dailynesia.com
7a033acb-17dc-48e1-a0cd-c47143bf1ac5-0

PM Inggris Starmer Mundur: Dari Populer ke Dibenci Warga

Dailynesia.com – Menjadi poin utama dalam pengumuman resmi Senin (22/6/2026) di Downing Street, saat Keir Starmer, Perdana Menteri Inggris, memutuskan untuk mengundurkan diri setelah dua tahun memimpin pemerintahan. Pemilihan pemimpin baru Partai Buruh akan dimulai 1 Juli, dengan harapan ketua baru bisa menyelamatkan partai dari krisis reputasi. Starmer dipilih pada 2024 untuk menggantikan Jeremy Corbyn, sebagai upaya menanggulangi isu anti-Semitisme yang menghiasi Partai Buruh sebelumnya, tetapi kini keputusannya mencuri perhatian publik.

Langkah Taktis dan Dinamika Politik dalam Meeting Results

Starmer, yang memimpin pemerintahan Inggris sejak 2024, menghadapi tantangan besar setelah keberhasilan awalnya dalam pemilu. Dalam beberapa bulan pertama, ia dinilai sebagai kandidat yang mampu mengubah arah kebijakan nasional, tetapi popularitasnya berubah drastis seiring tindakan pemerintahannya yang dinilai terlalu keras. Dalam Meeting Results terakhir, Starmer mengungkapkan keputusannya untuk mundur, menyusul kritik terhadap kebijakan pajak dan subsidi yang dianggap menghambat pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan yang diambil dalam Meeting Results, termasuk kenaikan pajak penghasilan dan dividen, menimbulkan kecaman dari berbagai kalangan. Diperkirakan bahwa keputusan ini memperparah inflasi yang sudah tinggi, terutama di kalangan keluarga kecil dan masyarakat menengah. Meskipun Starmer menegaskan kebutuhan untuk mengatasi defisit anggaran, banyak yang merasa kebijakan ini tidak seimbang dengan kebutuhan rakyat.

Kebijakan Pajak dan Eksperimen Ekonomi

Meeting Results terakhir juga menjadi ajang debat intensif antara pihak dalam dan luar partai. Starmer mengakui adanya “lubang £22 miliar” dalam anggaran, yang membuat keputusan pemerintahan terasa kaku dan tidak fleksibel. Pada 2024, kenaikan pajak menjadi bagian dari strategi untuk mengembalikan stabilitas ekonomi, tetapi hasilnya justru memicu kebuntuan politik. Pemotongan subsidi, termasuk tunjangan bahan bakar musim dingin, membuat masyarakat mengeluh tentang kebijakan yang terkesan “mengambil dari rakyat untuk memberi kepada korporasi.”

Kritik terhadap Starmer semakin menguat setelah hasil pemilu Mei 2026, di mana Partai Buruh kehilangan lebih dari 1.400 kursi. Dalam Meeting Results yang dilakukan menjelang pemilu, Starmer dituduh tidak cukup responsif terhadap kebutuhan rakyat, terutama terkait biaya hidup yang melonjak. Teguran dari Zack Polanski, pemimpin Partai Hijau, mengingatkan bahwa Starmer “dipilih karena janji perubahan, tetapi apa yang kami lihat justru membuat situasi lebih buruk.”

Starmer juga menghadapi tekanan dari kelompok sayap kiri yang menuntut lebih banyak perubahan sosial, serta sayap kanan yang mengecam kebijakannya dalam soal imigrasi. Dalam beberapa rapat kabinet, ia memutuskan untuk menangkap ratusan warga yang dianggap menyebarkan anti-imigran di media sosial. Keputusan ini memicu protes, termasuk dari para pemimpin partai oposisi dan aktivis hak asasi manusia.

Penggantian dan Harapan Masa Depan

Seiring persetujuan publik yang terus menurun, Starmer memutuskan untuk mengakhiri masa jabatannya, menurut laporan dari surat kabar Inggris. Dalam Meeting Results akhirnya, ia menegaskan bahwa pengunduran dirinya adalah langkah taktis untuk mempercepat proses pemilihan pemimpin baru yang bisa memperkuat kembali Partai Buruh. Dengan popularitasnya yang telah kehilangan kepercayaan, Starmer berharap krisis politik bisa diatasi melalui kepemimpinan yang lebih responsif.

Kebijakan ekonomi yang diterapkan Starmer, termasuk dalam beberapa sesi Meeting Results, dinilai tidak cukup mendorong pertumbuhan. Meskipun anggaran negara terlihat lebih sehat, rakyat merasa tidak terwakili dalam keputusan penting. Kebangkitan Partai Reformasi Inggris, yang dipimpin Nigel Farage, menjadi sorotan, karena menggambarkan ketidakpuasan publik terhadap kepemimpinan Starmer.

Setelah mundur, Starmer akan berfokus pada pertemuan strategis di dalam Partai Buruh untuk menentukan arah kebijakan baru. Sejumlah nama pemimpin potensial, termasuk eks anggota kabinet dan tokoh-tokoh muda, mulai diulas dalam meeting results internal. Kehadiran opsi ini menunjukkan bahwa Partai Buruh masih memiliki kemungkinan untuk bangkit, meski keputusan Starmer menggambarkan titik balik politik Inggris.

MORE FROM THIS CATEGORY