Video: Bahlil Lahadalia Tegaskan Orang Kaya Harus Bayar Harga BBM Non Subsidi
Dailynesia.com – Menjadi tema utama dalam acara Energy Forum yang diselenggarakan CNBC Indonesia di Jakarta, Selasa (24/06/2026). Forum ini fokus pada upaya memperkuat ketahanan energi nasional di tengah tantangan geopolitik global yang terus berubah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memaparkan pandangannya dalam sesi diskusi, menyebutkan bahwa dinamika harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi menjadi isu penting yang perlu diperhatikan oleh semua pihak, terutama kalangan masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih tinggi.
Strategi untuk Menghadapi Kenaikan Harga BBM Non Subsidi
Dalam sesi diskusi, Bahlil menyampaikan bahwa kenaikan harga BBM non subsidi adalah hal yang wajar dalam kondisi ekonomi global yang tidak stabil. Ia menekankan bahwa orang kaya atau kalangan menengah atas harus siap membayar harga bahan bakar yang lebih tinggi, karena mereka memiliki daya beli yang lebih kuat dibandingkan kelompok masyarakat lain. Menurutnya, kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi beban subsidi yang berdampak pada anggaran pemerintah, sambil tetap menjaga akses bahan bakar bagi masyarakat ekonomi rendah.
Bahlil juga memaparkan bahwa Indonesia masih mengandalkan impor sebanyak satu juta barel minyak mentah per hari, akibat penurunan produksi migas dalam negeri. “Kita masih butuh impor untuk mengisi kebutuhan energi nasional,” ujarnya. Namun, ia menegaskan bahwa peningkatan produksi migas dalam negeri harus menjadi prioritas untuk mengurangi ketergantungan pada impor, terutama di tengah ketidakpastian harga minyak internasional.
Dalam situasi ketidakpastian global, Indonesia tetap membutuhkan impor satu juta barel minyak mentah per hari akibat penurunan lifting migas.
Ia menambahkan bahwa pemerintah sedang berupaya mempercepat eksplorasi di daerah-daerah seperti Indonesia Timur, yang memiliki potensi besar untuk menghasilkan minyak mentah. Selain itu, mereaktivasi sumur-sumur yang tidak aktif dan menerapkan inovasi teknologi juga menjadi bagian dari strategi peningkatan produksi.
Langkah Strategis untuk Meningkatkan Produksi Migas
Bahlil menyebutkan tiga langkah utama yang perlu diambil dalam upaya meningkatkan produksi migas. Pertama, penerapan inovasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi ekstraksi minyak. Kedua, mempercepat eksplorasi di wilayah Indonesia Timur, yang memiliki 118 blok migas potensial. Ketiga, mereaktivasi sumur-sumur yang tidak aktif. “Produksi migas kita perlu ditingkatkan agar tidak ketergantungan sepenuhnya pada impor,” jelasnya.
Selain itu, Bahlil menyoroti pentingnya hilirisasi sektor kelapa sawit sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada solar. Pemerintah telah meluncurkan Biodiesel B50 pada 1 Juli 2026, yang diharapkan bisa menjadi solusi jangka panjang. “Dengan biodiesel, kita bisa menekan impor solar sekaligus mendukung sektor pertanian,” tegasnya. Ia juga menekankan bahwa Main Agenda ini harus diiringi komitmen kuat dalam pengelolaan sumber daya energi secara optimal.
Konsumsi bahan bakar solar mencapai 39 juta kiloliter per tahun, sehingga upaya menekan impor solar menjadi sangat penting. Sementara itu, konsumsi bensin mencapai 40 juta kiloliter, dengan pasokan utama dari Singapura dan Malaysia. Meski begitu, Bahlil memastikan bahwa harga BBM subsidi tetap akan dijaga agar tidak memberatkan masyarakat berpenghasilan rendah. “Harga subsidi harus tetap terjangkau bagi rakyat, sementara yang non subsidi bisa bergerak lebih fleksibel,” katanya.
Di sisi lain, Bahlil mengungkapkan bahwa konsumsi LPG (Liquefied Petroleum Gas) mencapai 8,5 juta ton per tahun, sedangkan produksi dalam negeri hanya sebesar 1,8 juta ton. Hal ini menyebabkan kerugian devisa sebesar Rp 150 triliun per tahun. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah sedang mendorong penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif. “CNG bisa menjadi pilihan yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan,” tambah Bahlil.
Dalam menjelaskan strategi ketahanan energi nasional, Bahlil mengingatkan bahwa perusahaan listrik, seperti PLN, juga menghadapi tantangan besar. Ketergantungan pada batubara yang masih tinggi membuat pasokan listrik menjadi rentan terhadap fluktuasi harga energi global. Ia menegaskan bahwa pemerintah dan sektor swasta harus bekerja sama dalam mengelola sumber daya energi secara lebih efisien. “Ini adalah bagian dari Main Agenda kita untuk menjaga stabilitas energi nasional,” ujarnya.

