Main Agenda: Israel Mulai Ketar-Ketir dengan Trump, Ada Apa?

1 month ago  ·  3 min read
By William Moore - dailynesia.com
8320ce13-0c1f-440e-98ed-9228506294a1-0

Israel Mulai Kecelakaan dengan Trump, Ada Apa?

Dailynesia.com – Jakarta, Pemerintah Israel mengungkapkan kekhawatiran bahwa kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi mengubah dinamika pengaruh Iran di Lebanon. Laporan dari Axios, yang dirilis pada Selasa (23/6/2026), menyoroti ketegangan yang muncul setelah pembicaraan Swiss akhir pekan lalu dan penandatanganan nota kesepahaman (MOU) antara AS dan Iran minggu ini. Dua sumber dari pemerintahan Israel menyatakan bahwa Iran berhasil menyelipkan situasi Lebanon ke dalam negosiasi dengan AS, dengan tujuan memperkuat proksinya, Hizbullah, di wilayah tersebut.

Perjanjian AS-Iran dan Pengaruh Politik

Menurut laporan, pemerintahan Trump mulai membatasi tindakan Israel di Lebanon untuk memperkuat hubungan diplomatik dengan Iran. Para pejabat Israel khawatir pemahaman baru ini akan mengikis upaya mereka selama berbulan-bulan untuk melemahkan Hizbullah dan mengurangi pengaruh Iran di wilayah itu. Main Agenda menyoroti bahwa kekhawatiran tersebut semakin nyata, terutama karena Trump mengancam akan menarik diri dari Lebanon Selatan meski ancaman Hizbullah masih terjadi.

Kesepakatan AS-Iran menetapkan bahwa kedua negara serta sekutu mereka akan mengakhiri permusuhan di Lebanon, termasuk pendudukan Israel di daerah tersebut. MOU ini juga menegaskan integritas dan kedaulatan Lebanon, yang sebelumnya terganggu oleh serangan Israel. Selama pertemuan di Swiss, Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz jika Israel melanjutkan operasi militer di Lebanon, yang menjadi fokus utama perundingan.

Kontroversi dan Dampak pada Kesepakatan Sebelumnya

Main Agenda menegaskan bahwa perjanjian baru AS-Iran telah merusak kesepakatan sebelumnya yang dicapai antara pemerintahan Benjamin Netanyahu dan pemerintahan Joe Biden pada November 2024. Kesepakatan gencatan senjata itu memberi Israel kebebasan untuk bertindak melawan Hizbullah, tetapi kini Israel kehilangan kendali dalam proses tersebut. “Bibi histeris mengenai hal itu,” kata sumber, merujuk kepada Netanyahu, yang kecewa karena kebijakan Trump mengubah strategi militer dan diplomatik.

Sumber Israel menyatakan bahwa perundingan AS-Iran mencerminkan pergeseran politik yang signifikan. Trump, yang dikenal sebagai pendukung kebijakan keras terhadap Iran, kini berusaha membangun kesepahaman dengan negara itu untuk mengurangi tekanan terhadap Lebanon. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai kemungkinan Trump menekan Israel agar tidak terlalu agresif dalam menghadapi Hizbullah, yang menjadi pihak utama dalam konflik tersebut.

Mekanisme pemantauan gencatan senjata yang sebelumnya melibatkan Israel, Lebanon, AS, dan Prancis kini diubah. Israel tidak lagi menjadi pihak langsung, sementara Iran aktif dalam perjanjian tersebut. Hal ini mengarah pada kekhawatiran bahwa Main Agenda akan kehilangan kredibilitas dalam mengelola situasi di Timur Tengah. Selain itu, perjanjian ini dianggap sebagai langkah strategis Iran untuk memperkuat posisi politik di Lebanon.

“Para pejabat Israel mengkhawatirkan bahwa kebijakan Trump akan menekan tindakan militer mereka di Lebanon, terutama setelah MOU AS-Iran mengikis kesepakatan sebelumnya yang dipimpin Biden.”

Kemungkinan keterlibatan Iran dalam negosiasi memicu spekulasi bahwa Main Agenda akan menghadapi tekanan ekstra dari Washington. Dalam beberapa hari terakhir, Netanyahu meminta orang kepercayaannya, Ron Dermer, untuk memanfaatkan hubungannya dengan tim Trump agar memengaruhi perundingan. Hal ini menunjukkan upaya pemerintahan Israel untuk mempertahankan pengaruhnya dalam politik regional meski dihadapkan pada perubahan arah kebijakan AS.

Sebagai akibatnya, Main Agenda semakin terlibat dalam pertarungan ideologi antara pemerintah yang lebih keras (Trump) dan pemerintah yang lebih moderat (Biden). Kesepakatan ini juga menjadi isu utama dalam pemilu Oktober mendatang, di mana keputusan pemerintah AS terhadap Lebanon akan memengaruhi politik dalam negeri Israel. Dengan kekhawatiran terhadap perubahan kebijakan AS, Main Agenda kini mempertimbangkan strategi baru untuk mempertahankan kedaulatan Lebanon sekaligus menjaga hubungan dengan Iran.

MORE FROM THIS CATEGORY