Kilau Meredup – Pedagang di Surga Batu Akik Banyak yang Gulung Tikar

4 weeks ago  ·  3 min read
By David Williams - dailynesia.com
859bd79e-3f92-44c9-a6e4-b3195c2ca00b_169

Kilau Meredup, Pedagang Batu Akik di Pasar Rawa Bening Terpaksa Gulung Tikar

Dailynesia.com – Jakarta – Kilau yang pernah menjadi daya tarik utama Pasar Rawa Bening, Jatinegara, kini mulai pudar. Batu akik, yang dulu dipasarkan dengan harga fantastis hingga puluhan juta rupiah, kini mengalami penurunan tajam dalam penjualan. Fenomena ini menunjukkan bagaimana perubahan kebutuhan masyarakat dan ekonomi global memengaruhi bisnis tradisional yang telah berkembang selama beberapa dekade.

Perjalanan Pasar Rawa Bening Sebagai ‘Surga’ Batu Akik

Pasar Rawa Bening dikenal sebagai salah satu pusat batu akik terbesar di Jakarta. Dulu, sekitar sepuluh tahun lalu, tempat ini menjadi magnet bagi penggemar batu akik, baik dari kalangan lokal maupun mancanegara. Banyak orang datang hanya untuk mencari batu akik yang memiliki kilau spektakuler dan dianggap sebagai simbol keberuntungan. Namun, di tengah berbagai tantangan, permintaan terhadap batu akik semakin menurun, menyebabkan banyak pedagang terpaksa menutup kios mereka.

Kesulitan Finansial dan Penurunan Daya Beli Masyarakat

Kilau Meredup bukan hanya sekadar penurunan kecantikan batu akik, tetapi juga mencerminkan kesulitan para penjual dalam mencari pembeli. Arif, seorang pedagang batu akik di pasar tersebut, mengatakan bahwa biaya operasional seperti listrik dan sewa tempat menjadi beban besar bagi para pengusaha. “Banyak yang tutup karena enggak bisa bayar listrik,” ujarnya saat ditemui CNBC Indonesia, Rabu (8/7/2026).

Dengan daya beli masyarakat yang turun, Arif terpaksa menurunkan harga jual batu akiknya hingga ratusan ribu rupiah per unit. Contohnya, batu akik yang dulu dijual dengan harga Rp 5-7 juta, kini dijual dengan harga Rp 500 ribu. Meski demikian, ia menjelaskan bahwa penyesuaian harga ini adalah langkah yang diperlukan untuk bertahan hidup dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Imbas Pandemi dan Perubahan Kebutuhan Masyarakat

Jeje, pengelola kios batu akik di Pasar Rawa Bening, mengakui bahwa penurunan penjualan juga terkait dengan dampak pandemi. “Setelah pandemi, kebutuhan pokok meningkat, sehingga orang-orang mengurangi pengeluaran untuk produk seperti batu akik,” katanya. Menurut Jeje, masa penjualan yang sepi ini berlangsung selama beberapa bulan, hingga sekarang.

Dalam situasi yang sangat sulit, Jeje menyebutkan bahwa jumlah penjualan per hari hanya mencapai satu atau dua cincin. Namun, bagi pedagang yang masih bisa mencapai omzet harian, itu dianggap sebagai hasil yang baik. “Kalau masih bisa bilang omzet per hari, itu sudah bagus sekali menurut saya,” ujarnya.

Kilau Meredup Juga Dipengaruhi Kebijakan Global

Kilau Meredup bukan hanya fenomena lokal, tetapi juga mencerminkan dampak kebijakan global terhadap pasar batu akik. Ketidakpastian ekonomi, perubahan pola hidup, dan persaingan dari produk kecantikan modern membuat batu akik semakin sulit dipasarkan. Menurut Sandi Shadewo, pedagang lain di pasar tersebut, penjualan cincin batu akik kini hanya mencapai dua atau tiga unit per hari. “Kadang juga ada yang Rp 1,3 juta, ya kalau rezeki lagi hoki,” tambahnya.

Sandi berharap pemerintah dapat memberikan dukungan melalui Kementerian Pariwisata untuk mempromosikan batu akik sebagai bagian dari budaya lokal. Ia yakin, jika batu akik bisa dikenalkan sebagai warisan budaya yang bernilai, maka permintaan akan kembali meningkat dan pedagang dapat bangkit kembali dari masa sulit ini.

Langkah yang Dibutuhkan untuk Memulihkan Pasar Batu Akik

Kilau Meredup di Pasar Rawa Bening menjadi peringatan bahwa industri batu akik perlu adaptasi agar tetap relevan. Salah satu langkah yang direkomendasikan adalah memperkenalkan batu akik kepada pasar internasional melalui pameran atau promosi digital. Selain itu, pengembangan kreativitas dalam desain batu akik juga bisa menjadi solusi untuk menarik minat calon pembeli.

Perubahan ini juga menunjukkan bahwa keberlanjutan bisnis batu akik tidak hanya bergantung pada kilau batu itu sendiri, tetapi juga pada kebijakan pemerintah dan inisiatif pedagang dalam menghadapi tantangan pasar yang terus berubah. Dengan memahami kebutuhan konsumen dan memanfaatkan peluang baru, Pasar Rawa Bening mungkin masih bisa menjadi pusat batu akik yang vital, meski dalam bentuk yang lebih adaptif.

MORE FROM THIS CATEGORY