Kondisi Gaza Memprihatinkan, Israel Tiba-Tiba Mau Rebut Semua Wilayah

2 months ago  ·  3 min read
By David Williams - dailynesia.com
israel-palestiniansgaza-hamas-1779925471000_169

Key Strategy: Israel Akan Rebut Wilayah Gaza

Dailynesia.com – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menjadi sorotan setelah mengumumkan rencana perluasan wilayah pengendalian Israel di wilayah Gaza. Tindakan ini dianggap sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mendominasi wilayah yang menjadi pusat konflik antara Israel dan Palestina. Perdana Menteri tersebut mengatakan akan menaikkan persentase area yang dikendalikan dari 53% menjadi 70% dalam waktu dekat, tanpa memberikan rincian jadwal atau alasan spesifik. Pengumuman ini memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk kelompok oposisi di dalam Israel dan negara-negara Eropa yang khawatir akan eskalasi konflik.

Perubahan dalam Kesepakatan Gencatan Senjata

Kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani bulan Oktober 2025 memberikan Israel wewenang atas 53% wilayah Gaza, sementara pihak Palestina mengendalikan sebagian besar area lainnya. Namun, Netanyahu menegaskan bahwa rencana peningkatan pengendalian ini merupakan bagian dari Key Strategy yang dirancang untuk memperkuat dominasi Israel di wilayah tersebut. Menurut sumber internal dari Dewan Perdamaian, langkah ini bisa mengubah alur perundingan antara kedua pihak, terutama jika Hamas tidak bersedia menyerahkan wilayah-wilayah yang dimaksud dalam waktu singkat.

“Key Strategy Netanyahu ini bertujuan untuk mengubah kondisi politik Gaza secara permanen,” kata seorang diplomat internasional dalam wawancara terpisah. “Dengan mengambil kendali lebih luas, Israel bisa mengontrol sumber daya dan arus informasi, yang sangat krusial dalam konflik yang berkepanjangan.”

Pernyataan Netanyahu menciptakan ketegangan yang semakin memuncak di kalangan masyarakat sipil Gaza, yang telah mengalami tekanan besar selama hampir delapan bulan terakhir. Selain itu, kelompok militan Palestina Hamas menilai Key Strategy ini sebagai tanda akhir dari upaya Israel untuk mengusir penduduk Palestina dari wilayah mereka. Kritik terhadap rencana ini semakin kuat karena peningkatan kendali Israel dianggap mengancam kemerdekaan Gaza dan kehidupan normal warga setempat.

Reaksi dari Kelompok dan Negara-Negara

Reaksi langsung dari Hamas sangat tajam, dengan pernyataan keras bahwa Key Strategy ini berpotensi menyebabkan krisis besar. Ismail al-Thawabta, kepala kantor media pemerintah Gaza, mengatakan, “Setiap upaya memaksakan realitas pendudukan baru di Gaza tidak sah.” Selain itu, kelompok oposisi di Israel, seperti Partai Labor, menentang kebijakan Netanyahu yang dianggap terlalu agresif, menegaskan bahwa Key Strategy ini bisa memicu perang kembali.

“Kita tidak ingin Israel mengambil alih semua wilayah Gaza, terutama jika itu berarti mengeksploitasi sumber daya secara tidak adil,” ujar aktivis kemanusiaan di Gaza, Sabtu (30/5/2026).

Di tingkat internasional, beberapa negara Eropa seperti Inggris dan Jerman mengecam rencana ini. Inggris menyebut peningkatan pengendalian Israel berisiko mengurangi akses bantuan kemanusiaan, sementara Jerman menganggap ini sebagai langkah yang mengancam terwujudnya solusi dua negara. Meski demikian, Amerika Serikat masih mendukung Key Strategy Netanyahu sebagai bagian dari upaya menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Di sisi lain, rencana peningkatan kendali Israel juga mendapat dukungan dari sebagian kelompok politik di dalam negeri. Netanyahu berharap dengan Key Strategy ini, pemerintahannya bisa memperkuat kredibilitas sebelum pemilu, yang dinilai sebagai kesempatan untuk menunjukkan prestasi dalam mengatasi ancaman dari Gaza. Selain itu, peningkatan kontrol ini dianggap sebagai cara untuk menekan tuntutan dari pemimpin Hamas agar menyerahkan senjata.

Kondisi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk karena peningkatan tekanan militer. Bantuan dari luar negri terbatas, dan pasokan makanan serta bahan pokok terus dipersulit. Sejumlah warga Gaza menyampaikan keluhan bahwa Key Strategy ini hanya memperparah penderitaan mereka. “Ke mana kita akan pergi? Ke laut? Tidak ada ruang,” keluh Mohammed al-Shagra, seorang warga yang tinggal di Khan Younis, menggambarkan situasi yang semakin sempit.

Perubahan dalam Key Strategy ini juga memicu pertanyaan tentang keberlanjutan kesepakatan gencatan senjata. Sejak kesepakatan itu berlaku, hampir delapan bulan berlalu, tetapi konflik utama belum selesai. Serangan Israel terus berlangsung, dan risiko kekerasan baru semakin meningkat. Para ahli krisis menilai bahwa peningkatan kendali Israel dari 53% hingga 70% bisa menjadi titik balik dalam perundingan antara pihak Israel dan Palestina.

Dalam konteks geopolitik, Key Strategy ini juga menjadi bagian dari upaya Israel untuk memperkuat keamanan di wilayah Barat Daya. Peningkatan pengendalian tentu akan memudahkan operasi militer dan pembatasan kegiatan anti-islam. Meski demikian, kebijakan ini juga dianggap sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menegaskan dominasi politik dan militer di wilayah yang masih dianggap sebagai wilayah Palestina. Dengan Key Strategy ini, Israel berharap bisa mengubah dinamika konflik secara permanen.

MORE FROM THIS CATEGORY