Gubernur Malut Ungkap Manfaat Hilirisasi Nikel, Ini Salah Satunya!

2 months ago  ·  2 min read
By James Lopez - dailynesia.com
68ecf4e2-0c77-42ac-acb9-9972b745e083-0

Key Strategy: Gubernur Malut Ungkap Manfaat Hilirisasi Nikel, Ini Penjelasannya

Perkembangan Hilirisasi Nikel di Malut

Dailynesia.com – Gubernur Maluku Utara (Malut), Sherly Tjoanda, telah mengungkapkan pentingnya hilirisasi nikel sebagai strategi pengembangan ekonomi wilayahnya. Pada hari Jumat (12/6/2026), ia menyampaikan bahwa kuartal pertama tahun 2026 menunjukkan pertumbuhan ekonomi mencapai 19,6%, dengan kontribusi utama berasal dari hilirisasi nikel. Hal ini menegaskan bahwa hilirisasi menjadi bagian integral dari Key Strategy untuk meningkatkan daya saing dan perekonomian Malut.

Potensi Industri Nikel dan Tantangan

Hilirisasi nikel di Malut menawarkan banyak manfaat, salah satunya adalah pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) melalui penciptaan lapangan kerja baru. Gubernur Sherly menjelaskan bahwa industri ini bisa menyumbang 100.000 pekerjaan, sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi lokal. Namun, tantangan utama tetap ada, terutama dalam pengembangan SDM, karena kebutuhan tenaga ahli masih didatangkan dari luar daerah.

“Malut berada di posisi strategis dalam peta energi terbarukan. Saat ini, kita baru mulai menghasilkan feronikel, dan sekarang sedang berkembang ke nikel sulfur untuk baterai. Potensi industri ini masih sangat luas ke depan,” ujarnya kepada CNBC Indonesia.

Dalam Key Strategy yang diterapkan, pemerintah Malut juga fokus pada pengembangan infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan industri. Salah satu langkah penting adalah pembangunan jaringan jalan dan jembatan yang lebih baik, agar aksesibilitas dan distribusi bahan baku serta produk hilirisasi bisa lebih optimal. Target jalan provinsi mencapai 550 kilometer sebelum 2030, sementara jaringan jalan kabupaten dengan total 1.900 kilometer juga memerlukan perbaikan terus-menerus.

Pengembangan SDM menjadi kunci utama dalam Key Strategy. Untuk itu, Gubernur Sherly mengungkapkan rencana kerja sama dengan universitas unggul dan kementerian terkait, serta pengusaha, agar kurikulum SMK dan sekolah vokasi bisa disesuaikan dengan kebutuhan pasar. “Pendidikan vokasi menjadi fondasi penting. Industri ini akan terus berkembang, tidak hanya untuk baterai EV tetapi juga permintaan lainnya. Kami perlu memastikan SDM bisa disiapkan sesuai dengan kebutuhan industri,” lanjut Sherly.

Di sisi lain, peningkatan infrastruktur kesehatan juga menjadi bagian dari Key Strategy. Hingga 2026, Malut telah menambahkan 10 rumah sakit tipe C di 10 kabupaten/kota, setelah sebelumnya menambahkan tiga fasilitas kesehatan di Halmahera Timur, Sulat, dan Taliabu pada 2025. Investasi total untuk setiap rumah sakit mencapai Rp 150 miliar, yang bertujuan memastikan ketersediaan layanan medis untuk penduduk dan pekerja industri.

Dengan Key Strategy yang terus ditingkatkan, Malut diharapkan bisa menjadi pusat hilirisasi nikel nasional. Pemangkasan birokrasi, insentif investasi, dan pengembangan ekosistem industri menjadi faktor pendukung utama. Dukungan dari pemerintah pusat dan peran aktif masyarakat serta sektor swasta juga sangat penting dalam mewujudkan visi ini. Tantangan utama, seperti perluasan akses pasar dan peningkatan kapasitas SDM, tetap menjadi fokus dalam beberapa tahun mendatang.

MORE FROM THIS CATEGORY