Bye Israel! Trump Mulai Tinggalkan, Tak Anggap Lagi Sekutu Istimewa AS

1 month ago  ·  3 min read
By David Williams - dailynesia.com
4adf97f1-3132-4745-8b34-2e87e81f6c85-0

Key Discussion: Trump dan Israel: Akhir dari Sekutu Istimewa AS

Dailynesia.com – Dalam Key Discussion terbaru, hubungan antara Amerika Serikat dan Israel sedang mengalami perubahan mendasar. Pemerintahan Donald Trump, yang selama ini dikenal dengan pendekatan “America First,” mulai menggeser prioritasnya terhadap Israel. Menurut laporan Politico, kebijakan luar negeri AS kini tidak lagi mengakui Israel sebagai sekutu istimewa, melainkan menghadapi pendekatan yang lebih adil terhadap seluruh mitra strategis. Perubahan ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah Israel masih akan mendapatkan dukungan konsisten dari Washington dalam beberapa tahun ke depan.

Pergeseran Prioritas Trump: Dari Kecuali ke Sama

Key Discussion mengungkapkan bahwa Trump, selama masa pemerintahannya, berusaha mengurangi preferensi khusus yang diberikan kepada Israel. Hal ini terjadi karena ia ingin memperkuat posisi AS dalam beberapa aspek luar negeri, termasuk kebijakan yang lebih fokus pada kepentingan nasional. Meski Israel tetap dianggap sebagai sekutu kuat, kebijakan yang diterapkan tidak lagi bersifat eksklusif. Selama beberapa bulan terakhir, Trump mengambil langkah-langkah untuk mengembangkan hubungan dengan negara lain yang sebelumnya dianggap sebagai sekutu kelas dua.

“Kami secara naif bertaruh untuk dikecualikan dari prinsip ‘America First’. Namun, hal ini tidak bisa bertahan selamanya,”

kata sumber dari pemerintah Israel, seperti yang dilaporkan pada 30 Juni 2026. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Israel telah terlalu bergantung pada peran istimewa yang selama ini diberikan oleh AS. Dalam Key Discussion, berbagai pihak mengkritik ketergantungan ini, mengingat bahwa AS juga harus mempertimbangkan kepentingan negara-negara lain dalam Timur Tengah.

Kritik Terhadap Netanyahu: Bukan Sekadar Hanya Hubungan

Key Discussion juga menyebutkan bahwa PM Israel Benjamin Netanyahu hanya sekali mengunjungi Gedung Putih pada 2026, setelah lima kali berkunjung di tahun 2025. Laporan dari Axios menyoroti bahwa Trump memberikan kritik tajam kepada Netanyahu dalam panggilan telepon pada 2 Juni. Trump menyebutnya sebagai “orang gila terkutuk” karena sikap pemimpin Israel tersebut dinilai tidak sejalan dengan kebijakan AS yang ingin lebih adil. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan yang selama ini kuat mulai retak, terutama dalam konteks kebijakan luar negeri.

“Yang terburuk belum datang,”

tambah sumber dari pemerintah AS, menggambarkan bahwa Trump masih punya rencana untuk memperkuat kebijakan “America First” dalam beberapa tahun mendatang. Dengan Key Discussion ini, AS berharap bisa menciptakan keseimbangan dalam pendekatannya terhadap sekutu Timur Tengah, termasuk memperhatikan kepentingan negara-negara lain seperti Arab Saudi atau Mesir yang juga berperan penting dalam stabilitas kawasan.

Key Discussion menyoroti bahwa keterlibatan Wakil Presiden J.D. Vance sebagai pendukung doktrin “America First” memperkuat pergeseran ini. Vance mengingatkan para pejabat Israel bahwa dukungan AS tidak lagi jadi jaminan tanpa syarat. Ini berdampak pada kebijakan Israel dalam memperkuat posisinya di dunia internasional, terutama dalam menghadapi tantangan dari negara-negara Arab dan kritik dari organisasi internasional seperti PBB.

Key Discussion ini juga menyoroti bagaimana perubahan sikap AS bisa mengubah dinamika kekuatan di Timur Tengah. Jika kebijakan “America First” terus berlanjut, Israel mungkin akan diharuskan mengembangkan hubungan bilateral yang lebih mandiri. Dengan ini, AS berusaha memperluas keberagaman strategi luar negerinya, sementara Israel harus beradaptasi dengan kebijakan yang lebih inklusif. Apakah ini akan menjadi akhir dari hubungan istimewa AS-Israel, atau hanya perubahan penyesuaian, masih jadi pertanyaan besar dalam Key Discussion terkini.

MORE FROM THIS CATEGORY