Video: Gandum & Kedelai Impor Masih Jadi PR Ketahanan Pangan RI
Dailynesia.com – Menyambut tantangan Facing Challenges, Indonesia berupaya memperkuat keberlanjutan pangan dengan mengurangi ketergantungan pada impor. Meski berhasil mencapai swasembada beras, negara ini masih menghadapi masalah ketahanan bahan baku utama lainnya, seperti gandum dan kedelai. Dalam wawancara Squawk Box, CNBC Indonesia, Emanuella Bungasmara Ega Tirta dari CNBC Indonesia Research mengungkap bahwa ketergantungan pada impor kedua komoditas ini memperkuat tekanan terhadap program ketahanan pangan nasional.
Ketergantungan Impor Gandum dan Kedelai
Berdasarkan data terkini, sekitar 70% kebutuhan gandum Indonesia dipasok dari luar negeri, sementara kedelai mencapai 90% dari impor. Meski potensi produksi lokal ada, tantangan Facing Challenges tetap signifikan. Produksi gandum di dalam negeri terbatas karena rendahnya produktivitas dan kurangnya pengembangan teknologi budidaya. Sementara kedelai, meski bisa ditanam secara luas, belum mampu memenuhi permintaan domestik karena daya tarik harga dan manfaat ekonomi yang tidak sebanding dengan tingkat produksi.
“Tantangan Facing Challenges terutama berada pada ketidakseimbangan antara produksi lokal dan kebutuhan pasar. Gandum dan kedelai memang menjadi komoditas yang rentan terhadap ketergantungan impor karena kesulitan dalam proses budidaya dan kurangnya dukungan insentif bagi para petani,” ujar Emanuella Bungasmara Ega Tirta.
Strategi untuk Mengatasi Ketergantungan Impor
Dalam memperbaiki kondisi ini, pemerintah RI telah mengambil langkah-langkah strategis. Salah satunya adalah penguatan kebijakan pengembangan pertanian berbasis teknologi untuk meningkatkan produktivitas gandum dan kedelai. Selain itu, diversifikasi sumber pasokan melalui kerja sama dengan negara-negara tetangga dan pengembangan kebun benih nasional juga menjadi prioritas. Emanuella menyoroti bahwa penggunaan modal dan dukungan pemerintah dalam bentuk subsidi serta insentif harga sangat penting untuk menarik minat petani.
Menurut analisis Emanuella, sektor pangan Indonesia perlu mengatasi tantangan Facing Challenges yang berakar pada keterbatasan infrastruktur logistik dan rantai pasok. Peningkatan kapasitas gudang, pengurangan biaya distribusi, serta pengelolaan stok pangan secara efisien dapat mengurangi risiko ketergantungan pada impor. Dengan demikian, ketahanan pangan nasional tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada sistem distribusi yang terintegrasi.
Ketergantungan pada impor gandum dan kedelai juga berdampak pada ekonomi. Setiap kenaikan harga bahan baku impor berpotensi mengurangi daya beli masyarakat dan meningkatkan defisit neraca perdagangan. Emanuella menegaskan bahwa tantangan Facing Challenges ini memerlukan penanganan jangka panjang, termasuk pelatihan pertanian berkelanjutan, investasi dalam riset, dan kebijakan yang mendorong penggunaan bahan baku lokal dalam industri makanan.
Sebagai contoh, program pengembangan benih unggul dan penggunaan pestisida organik dapat meningkatkan hasil panen. Selain itu, kerja sama dengan perusahaan lokal untuk mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah juga diperlukan. Dengan mengatasi Facing Challenges ini, Indonesia dapat menciptakan ekosistem pangan yang lebih mandiri dan resilien. Ulasan lengkap mengenai langkah-langkah strategis ini bisa dilihat dalam Squawk Box, CNBC Indonesia, yang tayang pada Kamis, 07 Mei 2026.

