Ketua MUI Sebut Alasan Prabowo Tidak Disukai Asing, Singgung IMF

2 months ago  ·  3 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
c2411df2-724c-4d71-92a5-496058fe4982-0

Facing Challenges: Ketua MUI Sebut Prabowo Tidak Disukai Asing, Singgung IMF

Jakarta, 13 Juni 2026

Dailynesia.com – Dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Anwar Iskandar, mengungkap alasan mengapa Presiden RI Prabowo Subianto tidak disukai oleh pihak asing, khususnya lembaga keuangan internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF). Menurut KH Anwar, kebijakan yang diambil Prabowo menunjukkan semangat berani menghadapi tekanan eksternal, terutama dalam upaya memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia.

Kebijakan Menolak IMF sebagai Langkah Strategis

KH Anwar Iskandar menegaskan bahwa keputusan Prabowo menolak intervensi IMF adalah langkah strategis yang memperkuat prinsip UUD 1945 Pasal 33. “Menolak IMF bukan sekadar sikap anti-asing, tapi merupakan tindakan untuk menjaga kedaulatan ekonomi dan memastikan kebijakan negara tidak tergantung pada kepentingan luar,” ujarnya dalam sebuah wawancara terkini. Ia menyoroti bahwa IMF sering dikaitkan dengan pola pengambilan kebijakan yang menguntungkan pihak-pihak besar, sementara negara-negara berkembang bisa merasa tertekan oleh keharusan memenuhi standar internasional.

Dalam konteks ini, Prabowo dianggap sebagai sosok yang berani mengambil risiko dan memilih jalur independen. Tantangan yang dihadapinya bukan hanya dari dalam negeri, tapi juga dari luar, di mana IMF dikenal sebagai lembaga yang mengatur ekonomi global melalui kebijakan moneter yang terkadang memaksa negara-negara berkembang mengambil langkah kontraproduktif. “Pak Prabowo tahu betul apa yang dirasakan rakyat, dan ia memilih jalan yang paling tepat untuk menjaga kepentingan nasional,” tambah KH Anwar.

Alasan MUI Berikan Dukungan untuk Prabowo

Ketua MUI Pusat mengatakan bahwa sikap Prabowo dalam menolak IMF dianggap sebagai bentuk tanggung jawab pemimpin yang mengutamakan kepentingan rakyat. “Ini menunjukkan bahwa kebijakan yang diambil tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan internasional, tapi juga oleh kebutuhan masyarakat,” paparnya. Ia menyoroti bahwa keberanian Prabowo dianggap sebagai respons terhadap tantangan ekonomi yang berkepanjangan, terutama setelah beberapa dekade negara ini tergantung pada kebijakan IMF.

KH Anwar juga menambahkan bahwa keputusan Prabowo bukanlah keputusan yang impulsif, melainkan hasil dari analisis mendalam terhadap dampak kebijakan tersebut. “Menolak IMF berarti menolak sistem yang telah membawa kesenjangan ekonomi di banyak negara. Kita harus menghargai langkah ini sebagai bagian dari perjuangan untuk menghadapi tantangan,” jelasnya. Ia berharap kebijakan tersebut dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain yang ingin membangun ekonomi mandiri tanpa terikat pada lembaga internasional.

Respons dari Berbagai Pihak terhadap Kebijakan Prabowo

Kebijakan menolak IMF oleh Prabowo tidak hanya mendapat dukungan dari MUI, tetapi juga diapresiasi oleh sejumlah pihak dalam dan luar negeri. Banyak analis ekonomi menyatakan bahwa keputusan ini bisa menjadi langkah penting untuk mengatasi tantangan ekonomi yang berkepanjangan. “Ini menunjukkan keberanian menghadapi tekanan eksternal, tetapi juga kesadaran bahwa Indonesia harus berdiri sendiri,” kata seorang ekonom yang tidak ingin disebutkan namanya.

Sementara itu, ada pihak yang masih mengkritik kebijakan tersebut, menilai bahwa penolakan IMF perlu didukung dengan strategi ekonomi yang kuat. Namun, KH Anwar menegaskan bahwa kunci keberhasilan terletak pada komitmen untuk membangun ekonomi yang mandiri. “Tantangan terbesar saat ini adalah mengubah pola pikir bahwa kita harus bergantung pada kebijakan luar. Prabowo berada di garis depan untuk menghadapi tantangan ini,” katanya.

Peluang dan Tantangan di Depan

Menurut KH Anwar, keberhasilan kebijakan menolak IMF akan tergantung pada kemampuan pemerintah untuk menyusun program pengganti yang lebih inklusif. “Kita harus menyiapkan solusi yang tidak hanya memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga mengedepankan kepentingan rakyat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi kebijakan selama masa pemerintahan, terutama dalam menghadapi tekanan dari pihak internasional.

Selain itu, KH Anwar juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat terkait dampak dari kebijakan tersebut. “Masyarakat harus memahami bahwa menolak IMF bukan berarti menolak bantuan eksternal, tapi menolak sistem yang bisa mengancam kemandirian kita,” jelasnya. Ia berharap kebijakan Prabowo dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk berdiri sendiri dalam menghadapi tantangan global.

KH Anwar menutup wawancaranya dengan pesan agar Prabowo terus berjuang. “Orang-orang kecil seperti saya ingin menyampaikan, jangan berhenti. Ini bukan hanya pesanan, tapi keinginan masyarakat yang merasakan manfaat dari kebijakan yang tulus,” pungkasnya. Dengan keberanian menghadapi tantangan dan keberhasilan mengubah arah kebijakan ekonomi, Prabowo dianggap sebagai sosok yang memiliki peran penting dalam membangun bangsa ini lebih kuat dan mandiri.

MORE FROM THIS CATEGORY