Tren Paylater Dianggap Wajar oleh Ketua Hippindo
Dailynesia.com – Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah, menyatakan bahwa penggunaan layanan belanja sekarang bayar nanti atau buy now pay later (BNPL) di kalangan masyarakat masih masuk akal. Skema pembayaran tertunda ini tidak jauh berbeda dengan fasilitas cicilan kartu kredit yang telah lama menjadi salah satu pendorong utama penjualan ritel.
Pernyataan tersebut disampaikan Budihardjo sebagai tanggapan terhadap temuan Mandiri Spending Index. Data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin banyak berbelanja menggunakan pinjaman, termasuk paylater. Saat ditemui di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, pada Kamis (6/8/2026), Budihardjo menjelaskan bahwa Hippindo juga memiliki kartu kredit sendiri.
“Nah, di Hippindo ini kan ada kartu kredit. Kalau lagi ada promo 0%, ya itu ramai penjualan kami. Itu adalah hal yang dalam menurut kami marketing juga ya. Jadi (konsumen) beli barang elektronik tuh jarang yang mau cash langsung. Nah, kami bekerja sama dengan kartu kredit. Jadi sebenarnya paylater tuh mirip itulah,”
Paylater Normal, Judi Online yang Tidak
Budihardjo menambahkan bahwa jika ada produk baru, bahkan satu produk yang bisa di-0%-kan, mereka akan mempromosikannya. Menurutnya, hal ini normal untuk paylater. Yang tidak normal justru judol atau judi online.
“Kalau memang ada produk baru, bahkan kalau ada satu produk yang bisa di-0%-kan, kita akan promosiin juga. Jadi menurut kami ini hal yang normal kalau untuk paylater ya. Yang nggak normal tuh kalau judol (judi online). Kalau paylater mah normal itu ya,”
Skema Cicilan Mendorong Konsumsi
Sekretaris Jenderal Hippindo, Haryanto Pratantara, memberikan pandangan senada. Ia menilai skema cicilan, termasuk paylater, justru membantu meningkatkan konsumsi masyarakat karena memberikan fleksibilitas dalam berbelanja.
“Malah itu membantu meningkatkan konsumsi kan, karena orang bisa belanja dengan cicilan, atau dengan skala yang lebih kecil ketimbang langsung bayar di muka gitu kan,”
Harapan Stimulus untuk Daya Beli
Meski demikian, Budihardjo mengaku belum mencermati kondisi tabungan masyarakat yang belakangan disebut mengalami penurunan. Ia berharap pemerintah segera menggulirkan stimulus untuk mendorong daya beli.
“Nah, itu saya belum cek ya kalau tabungan. Memang saat ini kita harapkan stimulus segera diturunkan agar daya beli naik, ya itu kita harapkan segera,”
Data Mandiri Spending Index Juni 2026
Sebelumnya, laporan Daily Economic and Market Office of Chief Economist Bank Mandiri menunjukkan indeks pinjaman atau Mandiri Spending Index pada Juni 2026. Indeks ini mencakup pinjaman online (P2P lending), kartu kredit, dan paylater perusahaan pembiayaan non-bank, mencapai 157,7 atau tumbuh 24,6% secara tahunan (year on year/yoy).
Laporan tersebut mencatat bahwa belanja masih tumbuh positif meskipun tingkat tabungan melemah. Bersamaan dengan itu penggunaan pembiayaan meningkat.
Breakdown Pinjaman Menurut OJK dan Bank Indonesia
Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia, total outstanding pinjaman online, kartu kredit, dan paylater non-bank mencapai Rp160,7 triliun pada Mei 2026. Rinciannya, outstanding pinjaman online sebesar Rp103,7 triliun atau sekitar 65% dari total pembiayaan tersebut, kartu kredit Rp43,8 triliun (27%), dan paylater Rp13,2 triliun (8%).
Meski porsinya masih paling kecil, paylater menjadi jenis pembiayaan dengan pertumbuhan paling tinggi, yakni 53,6% yoy, disusul pinjaman online 25,7% yoy, serta kartu kredit 15,6% yoy.
Pergeseran Kebutuhan Konsumtif
Laporan tersebut juga mencatat porsi pinjaman online untuk kebutuhan konsumtif meningkat menjadi 86% pada April 2026, naik dari 78% pada April 2025 dan 68% pada April 2024. Sebaliknya, porsi pinjaman untuk kegiatan produktif turun menjadi hanya 14%.
Pergeseran ini menunjukkan kenaikan pinjaman lebih banyak didorong oleh kebutuhan konsumsi rumah tangga, sementara permintaan pembiayaan untuk aktivitas usaha menjadi lebih terbatas.
Di sisi lain, Mandiri Saving Index pada Juni 2026 berada di level 84,8, atau terkontraksi 5,7% yoy, mencerminkan melemahnya tingkat tabungan masyarakat.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Bos Ritel Benarkan Warga RI Kini?
Bos Ritel Benarkan Warga RI Kini is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Bos Ritel Benarkan Warga RI Kini matter?
Bos Ritel Benarkan Warga RI Kini matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

