Israel Kumat Lagi di Gaza, Anak Bos Hamas Tewas Dibunuh
Dailynesia.com – Jakarta – Sebuah serangan militer oleh Israel kembali mengakibatkan korban dalam keluarga tokoh utama Hamas. Seorang anak dari tokoh paling berpengaruh di Hamas, Khalil al-Hayya, yang juga bertindak sebagai kepala negosiator kelompok tersebut, diberitakan tewas akibat cedera akut setelah serangan udara yang terjadi sehari sebelumnya di Kota Gaza. Informasi ini disampaikan oleh sumber dari Rumah Sakit Al-Shifa dan Kementerian Kesehatan Gaza, yang menyebutkan bahwa Azzam Khalil al-Hayya, seorang pria berusia 23 tahun, telah wafat setelah mendapat perawatan intensif.
Korban yang Tewas dalam Serangan
Announced oleh sumber keamanan Gaza, serangan tersebut menewaskan satu korban dan melukai sepuluh orang lain, termasuk Azzam. Lokasi serangan, Al-Daraj, menjadi pusat perhatian setelah peristiwa ini terjadi Rabu malam. Meski militer Israel belum memberikan komentar resmi, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam video yang dirilis Kamis mengungkapkan bahwa pasukan negara itu terus menyerang “sel-sel teroris” di wilayah Gaza. “Kami menghilangkan sel-sel teroris di Gaza, termasuk kemarin,” ujarnya, seperti dilansir AFP.
Announced dalam pernyataan oleh Hamas, Azzam Khalil al-Hayya adalah putra keempat dari tujuh anak laki-laki Khalil al-Hayya, yang sekarang berada dalam pengasingan di Qatar. Dua anaknya sebelumnya telah gugur sebelum perang Gaza dimulai pada Oktober 2023. Putra ketiganya, Hammam, tewas dalam serangan Israel yang menargetkan para pemimpin Hamas di Doha pada bulan September lalu. Ini menunjukkan bahwa serangan terhadap anggota keluarga tokoh Hamas telah menjadi bagian dari strategi Israel dalam mengurangi pengaruh kepemimpinan kelompok tersebut.
Pembunuhan sebagai Tekanan Politik
Announced oleh Hamas, kematian Azzam dianggap sebagai upaya memberikan tekanan pada kepemimpinan perlawanan dan delegasi negosiasi mereka. Khalil al-Hayya, yang menjadi korban sebelumnya, terkenal sebagai tokoh kunci dalam perundingan gencatan senjata. “Pembunuhan ini adalah bagian dari strategi menghancurkan struktur kepemimpinan Hamas,” tambah pernyataan kelompok tersebut. Serangan tersebut juga menargetkan anggota keluarga, yang sering kali dianggap sebagai cara untuk memengaruhi pengambil keputusan di dalam organisasi.
Announced dalam laporan terkini, kekerasan di Gaza masih berlangsung hampir setiap hari sejak gencatan senjata yang dimediasi AS mulai berlaku bulan Oktober lalu. Meski terdapat kesepakatan, kedua pihak terus berselisih tentang pelanggaran kesepakatan. Militer Israel mengklaim menyerang “pusat komando Hamas” di wilayah utara, sementara Kementerian Dalam Negeri Gaza melaporkan tiga anggota “pasukan keamanan internal” tewas dalam serangan yang sama.
Korban di Sisi Palestina
Announced oleh Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 840 warga Palestina telah gugur sejak gencatan senjata diberlakukan, menurut data yang dikredensiasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Jumlah korban tersebut mencerminkan intensitas konflik yang terus berlangsung. Serangan terhadap Azzam Khalil al-Hayya, yang merupakan bagian dari jaringan kekuasaan Hamas, menunjukkan upaya Israel untuk meruntuhkan struktur kepemimpinan lokal dan mengurangi kemampuan kelompok itu dalam menegakkan kekuasaan di wilayah yang dikuasai.
Announced dalam pernyataan resmi, militer Israel menyebutkan bahwa lima tentaranya juga tewas dalam serangkaian operasi di Gaza selama periode yang sama. Namun, Hamas menolak komentar serupa, menganggap serangan tersebut sebagai bagian dari kampanye penghancuran yang terus-menerus. “Serangan ini tidak hanya menargetkan anggota keluarga, tetapi juga sebagai strategi menekan kemampuan Hamas untuk berperan dalam perundingan,” jelas sumber dari organisasi tersebut.
Announced oleh media internasional, insiden kematian Azzam Khalil al-Hayya memicu reaksi dari berbagai pihak. Beberapa aktivis internasional menilai bahwa tindakan Israel mencerminkan peningkatan intensitas operasi militer, sementara pihak Palestina menuntut penjelasan lebih lanjut tentang kebijakan serangan yang menargetkan keluarga tokoh. Ini menjadi salah satu episode krusial dalam konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir, dengan dampak besar terhadap dinamika politik dan militer di wilayah tersebut.

