Video: Hormuz Kembali Memanas – IHSG Tertekan & Rupiah Melemah

2 months ago  ·  3 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
hormuz-kembali-memanas-ihsg-tertekan-rupiah-melemah-1781159401814_169

Video: Hormuz Kembali Memanas – IHSG Tertekan & Rupiah Melemah

Dailynesia.com – Pergerakan pasar keuangan kembali terpengaruh oleh dinamika global, terutama terkait kenaikan harga komoditas di Laut Hormuz. Video terbaru dari CNBC Indonesia mengungkapkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan pada sesi perdagangan hari ini, Kamis (11/06), dengan menurun ke level 5.789. Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya sempat naik hingga kisaran 5.900-an, mencerminkan ketidakpastian yang menghiasi pasar modal akibat faktor eksternal. Di sisi lain, mata uang Rupiah juga mengalami pelemahan, mencapai Rp 17.974 per Dolar AS, mengisyaratkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat pergerakan harga minyak dan komoditas global.

Kondisi Pasar Global yang Memicu IHSG Tertekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan karena tekanan dari pasar global, terutama sektor energi. Kenaikan harga batu bara di Laut Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi sentimen investor. Pasar saham di Indonesia merespons dengan penurunan yang terlihat di sejumlah sektor, termasuk pertambangan dan energi. Selain itu, ketidakstabilan ekonomi dunia, seperti tekanan inflasi dan perang dagang, juga berkontribusi pada kecemasan pasar. Para analis mengingatkan bahwa IHSG masih rentan terhadap perubahan harga komoditas dan data ekonomi internasional yang bisa memicu reaksi berlebihan.

Pergerakan Rupiah dan Faktor yang Memengaruhinya

Pelemahan Rupiah terus berlanjut, mencapai Rp 17.974 per Dolar AS, yang menandakan bahwa mata uang lokal masih mengalami tekanan terhadap nilai tukar. Perubahan ini dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah, yang menggerus aliran modal ke dalam negeri. Di samping itu, data ekonomi domestik yang kurang menggembirakan, seperti inflasi dan defisit neraca perdagangan, juga memperparah situasi. Rupiah yang terus melemah berdampak pada sektor perekonomian, khususnya ekspor dan investasi asing. Untuk mengatasi tekanan ini, Bank Indonesia terus melakukan intervensi melalui kebijakan moneter, tetapi tantangan tetap besar karena ketergantungan pada harga komoditas global.

Analisis dari ekspertis CNBC Indonesia mengungkapkan bahwa pelemahan Rupiah tidak hanya terkait harga minyak, tetapi juga faktor-faktor lain seperti kebijakan fiskal pemerintah dan dinamika pasar keuangan internasional. Beberapa sektor ekonomi, seperti pertanian dan industri, turut terdampak oleh pergerakan mata uang. Meski demikian, pasangan Rupiah terhadap mata uang asing lainnya masih menunjukkan kestabilan, yang menunjukkan bahwa sentimen pasar tidak sepenuhnya negatif.

Harga Batu Bara dan Emas: Perbandingan Pasar Komoditas

Di sisi komoditas, harga batu bara kembali melambung hingga USD 150 per ton, mencapai titik tertinggi sejak September 2023. Kenaikan ini dipengaruhi oleh kembali meningkatnya permintaan dari negara-negara utama seperti Tiongkok dan India, yang membutuhkan bahan bakar fosil dalam jumlah besar. Sebaliknya, harga emas tetap stabil di kisaran USD 4.000 per ounce, mencerminkan bahwa logam mulia masih menjadi aset yang aman di tengah ketidakpastian ekonomi global. Perbedaan performa antara kedua komoditas ini menunjukkan perubahan preferensi investor terhadap risiko dan imbal hasil.

Analisis mendalam menunjukkan bahwa kenaikan harga batu bara memberikan dampak positif terhadap sektor pertambangan, sementara emas menjadi penyelamat bagi investor yang mencari keamanan. Pasar keuangan secara keseluruhan masih menunggu data ekonomi kunci, seperti pertumbuhan ekonomi dan angka inflasi, untuk memutuskan arah pergerakan selanjutnya. Meski ada tekanan dari sektor saham, pasar komoditas tetap menjadi penopang utama dalam kondisi ketidakstabilan global.

Untuk informasi lebih lanjut, simak ulasan Serliana Salsabila dalam program Profit, CNBC Indonesia, pada Selasa, 11/06/2026. Analis tersebut menjelaskan bahwa kenaikan harga batu bara tidak hanya berdampak pada sektor tambang, tetapi juga memengaruhi inflasi dan kebijakan moneter. “Pasar saham Indonesia terus terbebani oleh dinamika global, terutama di sektor energi. Kenaikan harga batu bara menciptakan tekanan pada sektor keuangan, terutama karena pertumbuhan ekonomi negara-negara pengimpor masih dinilai positif,” kata Serliana dalam wawancara terbarunya. Hal ini menegaskan bahwa pasar keuangan Indonesia sangat rentan terhadap perubahan harga komoditas di luar negeri.

MORE FROM THIS CATEGORY