Destry Blak-blakan Alasan BI Naikkan Bunga 100 Bps dalam Sebulan

1 month ago  ·  4 min read
By James Lopez - dailynesia.com
0d85c452-4537-4ec4-acbb-2f9788eee54c-0

Destry Jelaskan Alasan BI Naikkan Bunga 100 Bps dalam Sebulan

Dailynesia.com – Dalam sebuah wawancara eksklusif pada Economic Update 2026, Deputi Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti secara terbuka membahas alasan keputusan BI menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin dalam sebulan. Kenaikan ini membawa BI Rate mencapai level 5,75%, setelah sebelumnya naik 50 basis poin di bulan Mei dan 25 basis poin dalam rapat dewan gubernur (RDG) mingguan di Juni. Destry menjelaskan bahwa kebijakan ini dirancang untuk menghadapi tantangan ekonomi global yang dinamis, serta menjaga keseimbangan makroekonomi dalam jangka pendek dan menengah.

Biaya Kredit dan Perkembangan Ekonomi

Topics Covered – Destry menegaskan bahwa kenaikan bunga yang signifikan ini bertujuan untuk menarik modal asing ke pasar keuangan Indonesia. “Kebijakan BI Rate selama satu bulan terakhir tidak hanya berdampak pada biaya kredit, tetapi juga mendorong stabilisasi nilai tukar rupiah yang terpuruk akibat tekanan dari kenaikan harga kecomaran global,” jelasnya. Destry menjelaskan bahwa BI memperhatikan indikator seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan risiko kredit dalam mengambil keputusan. Dalam RDG bulan Juni, peningkatan bunga tambahan 25 basis poin dilakukan untuk memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar domestik.

Destry menyebutkan bahwa kenaikan bunga sebesar 100 basis poin dalam sebulan menjadi langkah paling agresif sejak 2017, dengan intensitas yang tidak pernah terjadi sebelumnya. “BI memutuskan kenaikan ini berdasarkan ekspektasi inflasi yang meningkat di atas target, serta ketidakpastian dari perang dagang internasional dan kenaikan suku bunga di negara-negara tetangga,” tambah Destry. Menurutnya, langkah ini juga bertujuan untuk menurunkan kelebihan likuiditas yang berpotensi menimbulkan risiko inflasi di sektor keuangan.

Strategi BI dalam Menghadapi Tantangan Ekonomi

Topics Covered – Dalam wawancara tersebut, Destry menjelaskan bahwa BI menggunakan dua instrumen utama dalam menjaga stabilitas ekonomi: kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial. “Peningkatan BI Rate adalah bagian dari kebijakan moneter yang terfokus pada pertumbuhan dan stabilitas nilai tukar rupiah, sementara kebijakan makroprudensial mendorong penguatan sektor keuangan dan pengendalian risiko,” ujarnya. Destry mengatakan bahwa BI juga memperhatikan ketersediaan cadangan devisa dan kondisi pasar SBN (Surat Berharga Negara) dalam menentukan langkah-langkah kebijakan.

“Kenaikan bunga bukan hanya untuk mengendalikan inflasi, tetapi juga untuk meningkatkan daya tarik pasar keuangan Indonesia terhadap investor asing. Dengan ini, BI mencoba mengimbangi tekanan dari kebijakan moneter negara-negara tetangga yang lebih ketat,” imbuh Destry.

Dalam konteks ini, Destry menyoroti bahwa BI Rate menjadi alat utama dalam menyesuaikan kondisi makroekonomi. “Dalam enam bulan terakhir, BI telah melakukan penyesuaian bunga sebanyak empat kali, total kenaikan 100 basis poin, sehingga memberikan kejelasan tentang kebijakan moneter yang lebih ketat di masa depan,” jelas Destry. Menurutnya, kebijakan ini juga diharapkan dapat mendorong pengendalian inflasi yang mencapai 4,5% pada bulan Mei 2026, sebelumnya mencapai 5,75%.

Analisis Ekonomi Global dan Dampak Kebijakan

Topics Covered – Destry menyoroti bahwa kenaikan bunga BI memperhatikan kondisi ekonomi global, termasuk kebijakan moneter negara-negara tetangga seperti AS dan Jepang. “Kenaikan BI Rate ini diambil untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan inflasi, yang merupakan prioritas utama dari kebijakan BI sesuai UU yang berlaku,” jelasnya. Menurut Destry, faktor utama yang mendorong kenaikan ini adalah risiko kredit yang meningkat dan kebutuhan untuk memperkuat daya tahan perekonomian dalam menghadapi ketidakpastian global.

Dalam wawancara tersebut, Destry juga menyinggung tentang dampak dari kenaikan bunga terhadap pasar modal dan sektor produktif. “Kenaikan BI Rate akan menaikkan biaya pinjaman bagi masyarakat, tetapi ini diharapkan dapat menurunkan inflasi dan meningkatkan kinerja keuangan nasional,” tambahnya. Destry memperkirakan bahwa kenaikan bunga akan berdampak positif terhadap inflow modal asing yang masuk ke Indonesia, terutama ke sektor infrastruktur dan ekspor.

Kebijakan Sistem Pembayaran dan Pendorong Pertumbuhan

Destry menegaskan bahwa BI tidak hanya fokus pada kebijakan moneter, tetapi juga memperhatikan kinerja sistem pembayaran nasional. “Kebijakan sistem pembayaran harus dijaga agar tidak menimbulkan risiko terhadap likuiditas dan stabilitas keuangan,” ujarnya. Menurut Destry, kebijakan ini dirancang untuk mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang, sekaligus menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi. “BI memberikan insentif kepada bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas, seperti ekspor dan investasi di bidang teknologi,” imbuh Destry.

“Dengan adanya inflow modal asing, cadangan devisa akan lebih kuat dan pasokan valuta asing di pasar domestik akan bertambah, sehingga memperkuat daya tahan perekonomian,” tambah Destry.

Destry juga menyinggung bahwa kenaikan BI Rate akan berdampak signifikan terhadap biaya kredit dan sektor riil. “Kebijakan ini diharapkan dapat menurunkan inflasi hingga 3-4% pada akhir tahun ini, sementara juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan,” jelasnya. Dengan menyesuaikan BI Rate secara agresif, BI mencoba mencapai keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan yang sehat, terutama dalam kondisi ekonomi yang semakin kompleks.

MORE FROM THIS CATEGORY