Sudah Tutup Pabrik & Ratusan Toko – BATA Masih Boncos Rp116 Miliar

2 months ago  ·  3 min read
By William Moore - dailynesia.com
suasana-lengang-toko-sepatu-bata-di-pasar-baru-jakarta-pusat-rabu-852024-tetap-beroperasi-pascapenutupan-pabrik-sepatunya-di-p_169

Sudah Tutup Pabrik & Ratusan Toko, BATA Masih Boncos Rp116 Miliar

Dailynesia.com – BATA, atau PT Sepatu Bata Tbk, masih menghadapi tantangan besar dalam mengatasi kerugian yang mencapai Rp116,23 miliar meskipun telah melakukan penutupan pabrik dan ratusan toko. Kebijakan restrukturisasi yang dilakukan perusahaan ini sejak dua tahun terakhir, termasuk penutupan lebih dari 200 gerai yang kurang menguntungkan serta penghentian operasi pabrik dan gudang di Purwakarta, tampak belum cukup untuk memulihkan kondisi keuangan yang kritis. Meski upaya ini mengurangi beban biaya, BATA masih mengalami penurunan penjualan dan laba yang signifikan, menurut laporan keuangan terbaru.

Latar Belakang Penutupan Pabrik dan Toko

Kebijakan penutupan pabrik dan ratusan toko BATA diambil sebagai upaya untuk mengurangi biaya operasional dan meningkatkan efisiensi. Tahun 2024 menjadi titik awal perusahaan untuk melakukan transformasi besar, dengan total biaya restrukturisasi mencapai Rp124,08 miliar. Penutupan tersebut terutama fokus pada cabang-cabang yang tidak produktif, termasuk beberapa toko di kota besar dan area pedesaan. Tidak hanya itu, BATA juga memutuskan untuk membersihkan stok melalui diskon dan promosi besar-besaran, yang menjadi bagian dari strategi untuk menarik kembali pelanggan dan menstabilkan arus kas.

Pembukaan pabrik dan ratusan toko BATA memicu reaksi beragam dari masyarakat. Beberapa konsumen mengeluhkan ketersediaan produk yang berkurang, sementara karyawan yang dipecat mengalami ketidakpastian keuangan. Meski begitu, perusahaan tetap berharap bahwa langkah ini akan meningkatkan kinerja jangka panjang, terutama dengan menurunkan beban operasional yang terus meningkat.

Analisis Kinerja Keuangan yang Memburuk

Dalam laporan keuangan 2025, BATA mencatat penurunan penjualan neto sebesar Rp298,25 miliar, turun 35,2% dari Rp459,98 miliar di tahun sebelumnya. Laba bruto juga mengalami penurunan drastis, dari Rp197,15 miliar menjadi Rp105,45 miliar. Meskipun rugi usaha berkurang dari Rp145,05 miliar menjadi Rp106,34 miliar, kondisi keuangan perusahaan masih belum membaik secara signifikan. Bahkan, posisi neraca BATA turun drastis dari Rp405,66 miliar di 2024 menjadi Rp282,56 miliar di akhir 2025, menurut data yang dirilis.

BATA harus tetap menjaga konsistensi dalam mengelola operasionalnya, meskipun angka rugi terus menunjukkan peningkatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa meski sudah tutup pabrik dan ratusan toko, perusahaan masih memerlukan perbaikan lebih lanjut untuk mencapai keseimbangan finansial.

Dari segi likuiditas, BATA menghadapi tekanan yang serius. Total liabilitas jangka pendek mencapai Rp382,24 miliar, sementara aset lancarnya hanya sebesar Rp184,35 miliar. Kondisi ini membuat auditor memperingatkan risiko kemampuan perusahaan untuk bertahan dalam jangka panjang. Meskipun arus kas operasional mengalami peningkatan menjadi Rp37,57 miliar pada 2025, dari Rp16,08 miliar di 2024, saldo kas akhir tahun tetap berkurang menjadi Rp29,88 miliar. Ini menunjukkan bahwa meski ada perbaikan, BATA belum mampu mengembalikan modal yang telah terkuras.

Dampak pada Staf dan Konsumen

Penutupan pabrik dan ratusan toko BATA memengaruhi ribuan pekerja, terutama di wilayah Purwakarta, yang menjadi pusat operasional utama perusahaan. Ratusan karyawan dipecat atau diharuskan menganggur, yang memicu keluhan dari pengusaha lokal dan masyarakat setempat. Di sisi lain, konsumen juga merasakan dampak dari langkah restrukturisasi ini. Beberapa pelanggan kecewa karena produk tidak lagi tersedia di toko-toko yang ditutup, sementara yang lain mencari alternatif merek sepatu lain di pasaran.

Kondisi ini mengakibatkan penurunan pangsa pasar BATA, terutama di sektor ritel yang kompetitif. Dengan berbagai perusahaan sepatu lokal dan nasional yang aktif, BATA harus memperkuat strategi pemasarannya. Selain itu, pembatalan beberapa acara promosi dan pengurangan stok menyebabkan peningkatan jumlah pelanggan yang tidak puas, yang berpotensi mengurangi loyalitas jangka panjang.

Meski ada kerugian yang terus terjadi, BATA berharap bisa mencapai titik pulih dalam beberapa tahun mendatang. Perusahaan sedang mempertimbangkan strategi baru, seperti memperkenalkan koleksi baru dengan harga kompetitif atau menggandeng merek lain untuk memperluas pasar. Dengan kebijakan restrukturisasi yang telah dilakukan, serta upaya penguatan kinerja keuangan, BATA berharap bisa menyelesaikan krisis ini dan kembali menjadi salah satu pelaku utama di industri sepatu Indonesia.

MORE FROM THIS CATEGORY