Tanpa Sokongan MSCI & FTSE, Saham Prajogo Tumbang Berjamaah di 2026

3 months ago  ·  3 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
8e1bb0fd-5fab-4f40-9bfd-73c60a8166a5-0

Special Plan: Saham Prajogo Turun di 2026 karena Kebijakan MSCI & FTSE

Dailynesia.com – Di tahun 2026, beberapa saham unggulan Grup Barito yang dikelola oleh Prajogo Pangestu mengalami penurunan signifikan secara bersamaan. Kebijakan MSCI dan FTSE memainkan peran kritis dalam memicu pelemahan ini, karena kedua penyedia indeks global tersebut mengeluarkan saham-saham tersebut dari indeks mereka. Pada sesi perdagangan kedua hari Senin (18/5/2026), saham Barito Renewables Energy (BREN) menjadi satu-satunya yang menguat, sementara saham lainnya terus mengalami penurunan. Bahkan, BREN sempat melemah di sesi pertama sebelum berbalik naik.

Kebijakan MSCI: Pemutusan Kepemilikan Terpusat

Kebijakan MSCI mulai berdampak pada awal tahun 2026, ketika mereka mengeluarkan enam saham dari MSCI Global Standard Index. Diantara saham yang terdampak adalah PT Chandra Asri Pacific (TPIA), PT Barito Renewables Energy (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), yang mencatatkan penurunan hingga 14,88% dan 10% masing-masing. Kebijakan ini terkait dengan upaya Indonesia meningkatkan transparansi pasar modal, termasuk pengungkapan High Shareholding Concentration (HSC). TPIA turun ke Rp 3.660 per saham, sementara CUAN mencapai Rp 770.

MSCI menganggap saham dengan kepemilikan terpusat berisiko mengurangi likuiditas pasar. Dengan demikian, keputusan mereka untuk mengeluarkan saham-saham tersebut menjadi bagian dari “Special Plan” mereka dalam menyeimbangkan kualitas replikasi indeks. Perusahaan-perusahaan yang terkena akan kehilangan daya tarik investor global, yang memengaruhi harga saham secara signifikan.

Kebijakan FTSE: Penurunan Harga dengan Tidak Ada Peringatan

Dalam beberapa hari setelah MSCI, FTSE Russell juga mengambil tindakan tegas. Dalam pengumuman “Index Treatment for the June 2026 Index Review”, FTSE menyatakan bahwa saham-saham dengan kepemilikan terpusat akan dikeluarkan dari indeks mereka pada tinjauan Juni 2026. Kebijakan ini berlaku efektif mulai Senin, 22 Juni 2026, dengan efek harga nol terhadap saham-saham terkena.

“Untuk menjaga integritas indeks, FTSE Russell akan menerapkan kebijakan harga nol pada saham yang terdampak di tinjauan Juni 2026,”

FTSE mengambil langkah ini sebagai respons terhadap masalah likuiditas yang terjadi akibat kepemilikan saham yang terlalu terpusat. Dengan “Special Plan” ini, investor institusi yang mengelola dana indeks pasif akan kesulitan menjual saham-saham tersebut secara cepat tanpa mengalami tekanan harga. Perusahaan seperti BREN dan DSSA menjadi sorotan karena terdaftar dalam daftar HSC Bursa Efek Indonesia (BEI).

Peluncuran “Special Plan”: Dampak pada Sektor Industri

Pelemahan harga saham di 2026 menunjukkan kemerosotan yang konsisten di berbagai sektor, termasuk pertambangan, energi, dan investasi. Diantara perusahaan yang terkena adalah Petrosea (PTRO) yang mencatat penurunan 3% ke Rp 4.870, serta Barito Pacific (BRPT) yang turun 37,92% ke Rp 2.020. Semua saham ini tergolong dalam “Special Plan” MSCI dan FTSE untuk memperbaiki kriteria indeks.

Kebijakan ini menimbulkan ketidakpastian bagi investor, terutama yang fokus pada saham-saham berbasis indeks. Kehilangan sokongan dari MSCI dan FTSE memberikan tekanan tambahan pada harga saham, sehingga menyebabkan kerugian bagi para pemegang saham. Meski demikian, beberapa perusahaan tetap mempertahankan kinerja positif, seperti BREN yang mampu memperbaiki penurunan di sesi kedua.

Saham Terkena “Special Plan”: Pertimbangan Utama dalam Pemilihan Indeks

Dalam daftar HSC BEI, BREN dan DSSA menjadi kandidat utama yang terancam dihapus dari indeks. MSCI dan FTSE mempertimbangkan konsentrasi kepemilikan sebagai faktor utama dalam penilaian kualitas saham. Sebagai contoh, TPIA mengalami penurunan 47,71% ke Rp 3.660, sementara CDIA turun 43,41% ke Rp 930. Kebijakan ini memengaruhi alur investasi di pasar modal Indonesia, terutama bagi perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam “Special Plan” tersebut.

Di tengah pelemahan tersebut, beberapa perusahaan menunjukkan kemampuan untuk bertahan, seperti BREN yang berhasil rebound di sesi kedua. Meski demikian, dampak dari kebijakan MSCI dan FTSE tetap terasa, dengan pelemahan harga yang memengaruhi investasi jangka panjang. “Special Plan” ini memberikan sinyal bahwa transparansi dan kepemilikan saham akan menjadi fokus utama untuk masuk ke indeks global.

MORE FROM THIS CATEGORY